Ancaman Siber Makin Canggih, Synology Ungkap Kesalahan Fatal Perlindungan Data Perusahaan

Ancaman Siber Makin Canggih, Synology Ungkap Kesalahan Fatal Perlindungan Data Perusahaan

Ransomware Mengintai Bisnis Digital, Ini Strategi Perlindungan Data yang Harus Segera Dibenahi---Synology

JAKARTA, DISWAY.ID - Ancaman ransomware dan serangan siber terus berkembang dengan tingkat kecanggihan yang semakin tinggi.

Di tengah laju transformasi digital, Indonesia masih tercatat sebagai salah satu negara yang paling sering menjadi target serangan siber di kawasan Asia Tenggara.

Bagi perusahaan, risiko kehilangan akses data, baik akibat serangan eksternal maupun kesalahan operasional internal—dapat berdampak serius pada kelangsungan bisnis.

Dalam perbincangan di sela acara IndoSec Summit 2025, Clara Hsu, Indonesia Country Manager Synology Inc., mengungkapkan sejumlah tanda peringatan (red flags) yang perlu diwaspadai perusahaan agar strategi perlindungan dan ketahanan data benar-benar siap menghadapi tantangan di masa depan.

"Transformasi digital di Indonesia berjalan sangat cepat. Namun, ketahanan data harus berkembang seiring. Backup saja tidak lagi cukup jika perusahaan tidak mampu memastikan proses pemulihan data berjalan dengan baik,” jelas Clara.

BACA JUGA:7 Aplikasi Penghasil Uang Januari 2026 Populer, Bisa Buat Side Job Nambah Cuan!

Red Flag #1: Backup Tidak Menyeluruh

Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi adalah backup data yang bersifat parsial. Ketika aplikasi atau beban kerja baru ditambahkan, sistem tersebut kerap luput dari kebijakan backup karena keterbatasan waktu tim IT atau konfigurasi yang belum diperbarui.

Ada pula perusahaan yang hanya mencadangkan data tertentu yang dianggap penting demi menghemat kapasitas penyimpanan.

Pendekatan ini justru berisiko tinggi saat terjadi gangguan sistem.

“Data yang tidak dibackup sejatinya sudah berada dalam kondisi rentan,” ujar Clara. Tanpa perlindungan menyeluruh, proses pemulihan bisa menjadi sangat rumit dan berpotensi melumpuhkan operasional bisnis.

BACA JUGA:Cegah Super Flu Masuk Jakarta, Rano Minta Pantau Orang Pulang Liburan dari Luar Negeri!

Red Flag #2: Visibilitas Data yang Terfragmentasi

Seiring pertumbuhan bisnis, data sering tersebar di berbagai platform, lokasi penyimpanan, hingga lintas divisi. Kurangnya visibilitas terpusat tidak hanya menurunkan efisiensi, tetapi juga meningkatkan risiko data ganda, data terlantar, atau bahkan data yang tidak terlindungi sama sekali.

“Kondisi sistem yang terpisah-pisah menyulitkan perusahaan memastikan apakah seluruh infrastrukturnya benar-benar aman,” kata Clara. Menurutnya, perlindungan data yang terintegrasi dan terpusat akan menjadi kebutuhan krusial, terutama menjelang 2026 ketika tuntutan operasional dan regulasi semakin ketat.

Sebagai solusi, semakin banyak perusahaan mulai mengadopsi platform manajemen backup terpusat. Dengan satu tampilan terpadu, tim IT dapat memantau seluruh kondisi perlindungan data sekaligus memperkuat tata kelola. Pendekatan ini tercermin dalam solusi seperti Synology ActiveProtect, yang dirancang untuk mengelola kompleksitas data modern secara lebih efisien.

BACA JUGA: Dirut Bulog Ahmad Rizal Ramdhani Raih Gelar Doktor UI, Disertasi Transformasi Tata Kelola Pascapanen Demi Ketahanan Pangan Nasional

Red Flag #3: Backup Tidak Diamankan dengan Baik

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Close Ads