Elektrifikasi Logistik Kota Digenjot, ITDP Indonesia Satukan Berbagai Sektor
ITDP Indonesia mengidentifikasi beberapa arah kebijakan prioritas: kerja sama antar industri logistik dan manufaktur sepeda motor listrik untuk meningkatkan uji coba implementasi sepeda motor listrik pada segmen pengiriman last-mile.-Istimewa-
JAKARTA, DISWAY.ID-- Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia, didukung oleh ViriyaENB, menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Akselerasi Transisi Kendaraan Listrik pada Layanan Pengiriman Barang Perkotaan sebagai upaya mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik di sektor logistik perkotaan.
Kegiatan ini mempertemukan pelaku industri logistik dan layanan on-demand seperti Grab, Gojek, JNE, J&T, SiCepat, Asperindo dan ALDEI, bersama produsen sepeda motor listrik dan asosiasi industri terkait.
BACA JUGA:Sosok Finalis Puteri Indonesia 2024 Diduga Jadi Dokter Kecantikan Gadungan, Resmi Ditahan Polda Riau
Sektor logistik perkotaan yang didominasi sepeda motor untuk pengiriman last-mile lebih dari 60% dinilai memiliki posisi strategis sebagai penggerak awal adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
Analisis ITDP Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan motor listrik dapat menghemat biaya kepemilikan (TCO) hingga Rp395 per kilometer dan berpotensi mengurangi emisi karbon hingga 25%, bahkan dengan memperhitungkan bauran listrik yang masih berbasis batu bara.
BACA JUGA:Wapres Dorong BGN Perketat Keamanan Pangan dan Percepat Jangkauan MBG ke 3T
"Percepatan elektrifikasi logistik perkotaan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Melalui forum ini, kami ingin mendorong dialog yang lebih terarah agar solusi yang dihasilkan tidak hanya relevan, tetapi juga dapat diimplementasikan," ujar Gonggomtua Sitanggang, Direktur Asia Tenggara ITDP Indonesia.
Diskusi mengungkap bahwa secara teknis, kendaraan listrik roda dua sebetulnya sudah siap untuk sebagian besar kebutuhan operasional kurir.
Namun tantangan sesungguhnya ada di ekosistem pendukungnya. Meningkatkan infrastruktur pengisian daya menjadi komponen krusial untuk mendukung operasional, terutama bagi kurir layanan on-demand yang menempuh lebih dari 100 kilometer per hari.
BACA JUGA:Ini Identitas Korban Tewas ke-16 Tragedi Kecelakaan Kereta Bekasi, Seorang Perempuan
Peserta dari industri logistik juga menyoroti pentingnya standarisasi teknologi baterai, baik secara fisik maupun perangkat lunak, agar interoperabilitas antar-merek dapat terwujd dan mengurangi risiko investasi untuk transisi ke sepeda motor listrik.
Industri sepeda motor listrik menyatakan siap untuk mengupayakan produk-produk sesuai kebutuhan kegiatan logistik.
Isu pembiayaan menjadi benang merah yang paling kuat sepanjang diskusi. Kesenjangan antara harga kendaraan listrik dan kemampuan finansial mitra kurir masih terlalu lebar untuk ditanggung secara mandiri.
Tanpa skema dukungan yang terstruktur, transisi ini berpotensi menekan pendapatan harian mitra hingga sekitar 21%.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: