Hardiknas 2026: Guru Besar UIN Jakarta Tekankan Partisipasi Semesta Kunci Pendidikan Bermutu

Sabtu 02-05-2026,10:47 WIB
Hardiknas 2026: Guru Besar UIN Jakarta Tekankan Partisipasi Semesta Kunci Pendidikan Bermutu

Guru Besar sekaligus Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie-Istimewa-

JAKARTA,DISWAY.ID -- Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap 2 Mei kembali menjadi momentum reflektif bagi bangsa Indonesia untuk menata arah dan strategi pembangunan sumber daya manusia (SDM). 

Tahun 2026, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” 

Tema ini menegaskan bahwa pendidikan tidak lagi dapat dibebankan semata pada negara atau institusi formal, melainkan menjadi tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa.

BACA JUGA:Mengenal Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara dan 3 Arti Semboyan Legendarisnya

Dalam konteks tersebut, Guru Besar sekaligus Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie, menilai bahwa tema Hardiknas tahun ini mencerminkan kebutuhan mendesak akan kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi kompleksitas tantangan pendidikan di era global.

“Partisipasi semesta bukan sekadar jargon normatif. Ia harus diterjemahkan dalam desain kebijakan yang memungkinkan keterlibatan nyata, mulai dari keluarga, masyarakat, dunia usaha, hingga komunitas keagamaan,” ujarnya saat dihubungi, Kamis, 1 Mei 2026.

Dari Akses ke Mutu: Pergeseran Paradigma

Menurut Tholabi, salah satu isu krusial pendidikan Indonesia saat ini adalah pergeseran fokus dari sekadar pemerataan akses menuju peningkatan mutu yang berkeadilan.

BACA JUGA:Kasus Kecelakaan Kereta Argo Bromo Anggrek dan KRL Naik Penyidikan, KAI Mendukung Penuh

Selama dua dekade terakhir, capaian akses pendidikan dinilai cukup progresif.

Namun, tantangan kualitas masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan secara sistemik.

Ia mengingatkan bahwa mutu pendidikan tidak dapat direduksi pada capaian kognitif semata, melainkan harus mencakup dimensi karakter, etika, dan kemampuan adaptif.

Dalam hal ini, gagasan pendidikan yang dirintis oleh Ki Hadjar Dewantara tetap relevan sebagai fondasi filosofis.

“Pendidikan yang memerdekakan bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi juga pembentukan manusia yang utuh, yakni yang memiliki daya pikir, daya rasa, dan daya cipta,” kata Tholabi yang juga Anggota Dewan Pendidikan Tinggi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait