Dapur MBG Universitas Hasanuddin Disebut Setara Standar Global, Ini Keunggulannya!

Senin 04-05-2026,19:56 WIB
Reporter: Hasyim Ashari |
Dapur MBG Universitas Hasanuddin Disebut Setara Standar Global, Ini Keunggulannya!

Menurut Rivai, dapur ini bukan sekadar tempat memasak dalam pengertian operasional biasa. Ia menyebutnya sebagai living laboratory atau laboratorium hidup.-Istimewa-

JAKARTA, DISWAY.ID-- Model Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Universitas Hasanudin yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan Tinggi Riset, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto dan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana disebut setara dengan praktik terbaik di negara maju dan standar global.

Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI), Dr. Ir. Abdul Rivai Ras menegaskan bahwa apa yang dibangun Unhas merupakan lompatan besar dalam tata kelola program publik di tanah air.

BACA JUGA:Usut Dugaan Penyimpangan Restitusi Pajak, Purbaya Copot Pejabat Tinggi Kemenkeu

"Selama ini kita sering melihat riset berhenti di meja akademik, sementara praktik di lapangan berjalan tanpa basis ilmiah yang kuat. Model di Unhas ini memutus mata rantai tersebut," ujar Abdul Rivai Ras dalam keterangannya, Senin 4 Mei 2026.

Menurut Rivai, dapur ini bukan sekadar tempat memasak dalam pengertian operasional biasa. Ia menyebutnya sebagai living laboratory atau laboratorium hidup.

BACA JUGA:Mahidin Simbolon Nostalgia dengan PM Xanana Gusmao

Di sini, mahasiswa, peneliti, dan praktisi bekerja dalam satu ekosistem yang utuh, mulai dari perumusan konsep gizi, pengujian kualitas, hingga evaluasi dampak secara langsung.

"Ketika pusat pembelajaran berdiri berdampingan dengan pusat produksi, maka proses inovasi menjadi lebih adaptif dan terukur. Inilah yang mulai kita lihat tumbuh di Unhas," tutur Abdul Rivai.

Rivai menekankan bahwa jika Indonesia ingin program Makan Bergizi Gratis berhasil secara sistemik, maka basis keilmuan tidak boleh ditawar. 

BACA JUGA:Daftar Rute Transjakarta Terganggu Imbas Banjir Jakarta Hari Ini, Ragunan-Kampung Melayu Terdampak

Program ini tidak boleh hanya mengejar angka kuantitas sebaran dapur, melainkan harus memastikan kualitas output yang terjaga melalui sistem yang teruji secara ilmiah.

"Ini adalah contoh nyata bagaimana kebijakan publik bertemu dengan keunggulan akademik. Jika keduanya berjalan beriringan, kita tidak hanya menjalankan program musiman, tapi sedang membangun sistem yang kuat untuk masa depan bangsa," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: