Pendidikan Tinggi dan Logika Pasar
Ahmad Tholabi Kharlie (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Anggota Dewan Pendidikan Tinggi)-Istimewa-
BACA JUGA:Peluang Kopi Indonesia di Tengah Dinamika Global
Relevansi tersebut mencakup kemampuan membaca perubahan sosial, teknologi, dan kebutuhan masyarakat secara luas, bukan sekadar penyesuaian teknis terhadap kebutuhan industri jangka pendek.
Horizon Baru
Masa depan pendidikan membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar perdebatan antara idealisme kampus dan kebutuhan pasar kerja.
Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara relevansi ekonomi dan tanggung jawab peradaban.
Kampus perlu membangun kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan sosial. Kolaborasi dengan dunia industri penting diperkuat.
Program magang, riset terapan, kewirausahaan, dan inovasi sosial perlu terus dikembangkan agar lulusan memiliki pengalaman nyata menghadapi perubahan dunia kerja.
BACA JUGA:Masa Depan Cerah Industri Sawit Indonesia
Pada saat yang sama, pendidikan juga perlu tetap menjaga ilmu-ilmu dasar dan humaniora sebagai bagian penting pembangunan bangsa.
Universitas memerlukan ruang reflektif agar tetap mampu menjaga akal sehat publik di tengah perubahan zaman yang sangat cepat.
Di era kecerdasan artifisial saat ini, kemampuan manusia yang paling mendasar justru semakin penting. Teknologi mungkin dapat menggantikan pekerjaan administratif dan teknis tertentu.
Empati sosial, kebijaksanaan moral, kemampuan memahami kompleksitas manusia, dan kedalaman refleksi tetap menjadi wilayah yang tidak mudah digantikan mesin.
Karena itu, pendidikan masa depan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang siap kerja.
Pendidikan perlu melahirkan manusia yang mampu membaca perubahan zaman tanpa kehilangan orientasi etik dan kemanusiaannya.
BACA JUGA:Di Tengah Gejolak Global, Indonesia Butuh Persatuan, Bukan Narasi Krisis
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: