Pendidikan Tinggi dan Logika Pasar

Pendidikan Tinggi dan Logika Pasar

Ahmad Tholabi Kharlie (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Anggota Dewan Pendidikan Tinggi)-Istimewa-

Peradaban tidak hanya dibangun oleh kemampuan teknis, melainkan juga oleh kualitas etika, kebijaksanaan publik, kemampuan membaca sejarah, sensitivitas sosial, dan kedalaman refleksi manusia.

BACA JUGA:Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma

Martha Nussbaum (2010) mengingatkan bahwa pendidikan yang terlalu diarahkan pada pertumbuhan ekonomi berisiko melemahkan kemampuan berpikir kritis dan empati sosial masyarakat.

Demokrasi membutuhkan warga negara yang mampu memahami kompleksitas manusia, bukan sekadar tenaga kerja yang efisien.

Pandangan itu menjadi penting di tengah kecenderungan global yang semakin menempatkan pendidikan sebagai instrumen ekonomi.

Kampus perlahan diarahkan untuk mengikuti logika pasar yang sangat cepat berubah.

Universitas dapat berubah menjadi lembaga pelatihan teknis yang sibuk mengejar tren industri tanpa sempat membangun horizon pengetahuan yang lebih luas.

BACA JUGA:Terjebak Arsip: Negarawan di Cermin Retak

Padahal kebutuhan pasar sendiri terus bergerak.

Keterampilan yang hari ini dianggap penting dapat menjadi usang hanya dalam hitungan beberapa tahun.

Laporan OECD bahkan menunjukkan bahwa kemampuan yang paling dibutuhkan pada masa depan justru meliputi berpikir kritis, kreativitas, kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan adaptasi sosial.

Kompetensi semacam itu lahir melalui pendidikan yang memberi ruang pada refleksi, dialog, eksplorasi gagasan, dan kebebasan berpikir.

Kampus memerlukan ruang akademik yang memungkinkan mahasiswa memahami manusia dan masyarakat secara utuh, bukan hanya mempelajari keterampilan teknis tertentu.

BACA JUGA:Ketika Dampak Menjadi Mantra Baru

Salah Diagnosis

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: