5 Khutbah Idul Adha 2026 Versi NU Singkat dan Padat, Referensi untuk Khotib

Minggu 24-05-2026,15:52 WIB
5 Khutbah Idul Adha 2026 Versi NU Singkat dan Padat, Referensi untuk Khotib

Berikut khutbah Idul Adha 2026 versi Nahdlatul Ulama (NU) yang singkat dan padat sebagai referensi untuk khotib.--Gemini AI

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,

Semua yang hadir di tempat ini pasti merasakan, betapa besar nikmat-nikmat Allah yang telah dianugerahkan. Nikmat itu tak akan bisa dihitung dalam angka dan angan-angan. Nikmat itu terus mengiringi setiap langkah kita dalam kehidupan. Untuk kita syukuri dan kuatkan, serta diwujudkan melalui  lisan, tindakan, dan perbuatan dalam keseharian.

Alhamdulillahirabbil alamin. Kalimat inilah yang harus kita tancapkan lahir dan batin. Agar nikmat yang kita terima ini tetap abadi dan kita tetap yakin, bahwa Allah lah yang pada-Nya tidak ada yang tidak mungkin. Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang Mukmin, yang senantiasa ditambah nikmatnya oleh Allah Sang Rabbul Alamin. Amin-amin ya Rabbal Alamin.

Di antara nikmat yang tak bisa kita pungkiri saat ini, adalah umur panjang, kesehatan, dan kesempatan yang senantiasa mengiringi. Sehingga kita bisa merasakan nikmat berhari Raya Idul Adha 1445 H bersama orang-orang yang kita cintai. Nikmat ini harus kita iringi juga dengan menguatkan takwa kepada Ilahi Rabbi, dengan menjalankan perintah-Nya yang suci dan meninggalkan larangan-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 102:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ 

Artinya: ”Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim,” 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,

Idul Adha merupakan hari raya umat Islam yang selalu diwarnai dengan kemeriahan dan kebersamaan. Dari hal ini muncullah cinta dan juga kebahagiaan. Semua ini bisa kita rasakan dalam rangkaian ibadah seperti shalat Id berjamaah, ibadah haji, dan juga kurban. Kita berkumpul bersama di masjid dan tanah lapang yang penuh keberkahan. Untuk bersama melaksanakan shalat Id sebagai wujud penghambaan dan ketaatan. Semua berkumpul tanpa memandang status kehidupan. Semua sama di hadapan Allah dengan pembeda hanya ketakwaan.

Para jamaah haji di Tanah Suci pun demikian juga. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru dunia. Mereka berasal dari berbagai bangsa juga bahasa. Iman dan ketakwaan menyatukan mereka. Mereka menghamba kepada Allah, Tuhan alam semesta. Sekaligus menebar kasih sayang kepada sesama sebagai wujud ibadah sosial dan kebersamaan penuh cinta.

Kebersamaan dalam haji dan shalat Idul Adha, tentu akan memperkuat ikatan persaudaraan kita. Dari sinilah akan tumbuh rasa cinta untuk senantiasa menghormati sesama. Kita memang diciptakan ke dalam suku, bangsa, warna kulit, dan budaya yang berbeda-beda. Namun perbedaan itu bukan untuk dibanding-bandingkan dan merasa unggul satu dengan yang lainnya. Tujuan diciptakannya kita berbeda-beda oleh Allah adalah untuk saling kenal dengan sesama. Sehingga muncul harmoni yang menambah keindahan dalam kehidupan di dunia.

Allah berfirman dalam QS Al-Hujurat ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ 

Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait