Dolar Tembus Rp18.000 Jadi Ujian Baru Industri Minuman Kemasan

Senin 08-06-2026,01:01 WIB
Dolar Tembus Rp18.000 Jadi Ujian Baru Industri Minuman Kemasan

Tantangan operasional pelaku usaha kian diperparah oleh kenaikan biaya produksi akibat tingginya ketergantungan pada impor bahan baku maupun kemasan di tengah fluktuasi kurs.--istimewa

JAKARTA, DISWAY.ID - Meski masih mencatat pertumbuhan positif dan menjadi salah satu penopang utama sektor manufaktur nasional, industri minuman kemasan kini menghadapi ujian baru.

Pelemahan rupiah yang telah menembus level Rp18.000 per dolar AS meningkatkan tekanan biaya produksi di tengah tingginya ketergantungan pada bahan baku dan kemasan impor, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.

Kondisi ini membuat pelaku industri harus bekerja lebih keras menjaga pertumbuhan sekaligus mempertahankan investasi dan penyerapan tenaga kerja di tengah ketidakpastian ekonomi global.

BACA JUGA:Harga Emas, Dolar, dan Kripto Fluktuatif, Ini Solusi Ketidakpastian Situasi Ekonomi yang Banyak Dilirik

Data Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mencatat bahwa berdasarkan data BPS, pada triwulan I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year).

Industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap PDB nasional dengan porsi 19,07 persen, di mana subsektor makanan dan minuman menyumbang sekitar 7,31 persen terhadap PDB nasional, menegaskan perannya sebagai motor utama sektor manufaktur. 

Meskipun menunjukkan ketahanan secara makro, kualitas pertumbuhan industri di lapangan masih menghadapi tantangan riil.

BACA JUGA:Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pemerintah Optimis Fundamental Ekonomi Tetap Kuat

Peneliti Senior CORE Indonesia, Muhammad Ishak Razak, menjelaskan bahwa dinamika pasar saat ini memerlukan perhatian khusus terkait daya beli masyarakat. 

“Momentum Ramadan, Lebaran, mobilitas masyarakat, serta konsumsi domestik masih menjadi penggerak utama permintaan industri minuman ringan. Namun demikian, pertumbuhan tersebut masih dibayangi oleh sejumlah tantangan struktural antara lain; pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp17.900 per dolar AS, kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, serta lemahnya daya beli masyarakat yang menjadi tantangan nyata bagi pelaku industri," katanya. 

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo, mengungkapkan bahwa situasi ini menunjukkan industri belum sepenuhnya pulih ke kondisi ideal. 

BACA JUGA:4 Ancaman yang Harus Diwaspadai Kelompok Menengah Bawah Usai Dolar Tebus Rp18.000 Hari ini

“ASRIM menilai bahwa meskipun industri makanan dan minuman masih mencatat pertumbuhan positif sepanjang 2025 sebesar 6,38 persen1, pertumbuhan tersebut masih berada di bawah level pra-pandemi yang sebelumnya dapat mencapai kisaran 7–9 persen. Sejumlah ekonom juga menilai pertumbuhan ekonomi pada triwulan I2026 masih banyak ditopang oleh belanja pemerintah dan faktor musiman RamadanLebaran, sementara pemulihan daya beli masyarakat belum sepenuhnya kuat.” 

Tantangan operasional pelaku usaha kian diperparah oleh kenaikan biaya produksi akibat tingginya ketergantungan pada impor bahan baku maupun kemasan di tengah fluktuasi kurs.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: