Makan Bergizi, Tata Kelola Kurang Gizi
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-Dok.Disway-
Tanpa itu, birokrasi akan berubah menjadi arena improvisasi kolektif. Semua orang bekerja keras, tetapi tidak ada yang benar-benar tahu siapa bertanggung jawab atas apa.
BACA JUGA:Taxman di Era Modern: Saat Semua Aktivitas Terasa Berbayar
Bayangkan sebuah orkestra yang terdiri dari seribu pemain musik. Anggarannya triliunan rupiah. Gedung konsernya megah. Penontonnya jutaan orang. Tetapi masalahnya sederhana: tidak ada partitur yang jelas dan dirigen datang terlambat.
Hasilnya tentu bukan simfoni, melainkan kebisingan yang sangat mahal.
Demikian pula dengan program gizi nasional. Pertanyaan paling mendasar seharusnya dijawab terlebih dahulu sebelum anggaran digelontorkan dalam jumlah besar.
Siapa target utamanya? Apakah seluruh anak Indonesia? Apakah anak dari keluarga miskin terlebih dahulu? Bagaimana indikator keberhasilannya? Apakah diukur dari jumlah porsi makanan yang dibagikan atau dari penurunan angka stunting?
Jika tujuan tidak dirumuskan secara spesifik, maka evaluasi menjadi mustahil dilakukan.
BACA JUGA:Pancasila dan Tanggung Jawab Moral Indonesia Bagi Perdamaian Dunia
Di Indonesia, kita memiliki bakat luar biasa dalam menghitung jumlah kegiatan. Yang sering terlupakan adalah menghitung dampaknya. Seratus juta porsi makanan terdengar mengesankan dalam konferensi pers.
Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah status gizi anak-anak benar-benar membaik?
Di sinilah satir birokrasi sering menemukan panggungnya.
Suatu hari mungkin seorang pejabat berkata:
"Program berhasil. Kami telah membagikan satu miliar telur."
BACA JUGA:'Pilgrim’s Progress' Peziarah di Padang Arafah
Lalu seorang ibu bertanya:
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: