Harga Oli Makin Mahal, Ternyata Bukan Cuma Soal Rupiah dan Dolar AS
Fenomena kenaikan harga oli di tengah Rupiah yang tertekan atas Dolar AS-Federal Oil-
Dalam rantai pasok industri pelumas, harga yang dibayar konsumen di tingkat bengkel merupakan akumulasi dari sejumlah komponen biaya. Mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, distribusi hingga margin di tingkat pengecer.
Karena itu, kenaikan harga yang terjadi di pasar tidak selalu berasal dari satu faktor tunggal.
Corporate Secretary PT Pertamina Lubricants, Rika Gresia Wahyudi, mengatakan bahwa salah satu komponen utama yang memengaruhi biaya produksi pelumas adalah harga base oil atau minyak dasar pelumas yang merupakan bahan baku utama dalam industri tersebut.
BACA JUGA:Pelumas PCMO API SQ dari Motul Meluncur di IIMS 2026, Dirancang untuk Mesin Modern
Menurutnya, sebagai produk turunan minyak bumi, harga dan pasokan base oil saat ini turut terdampak oleh dinamika geopolitik global yang memengaruhi rantai pasok energi dunia.
"Base oil merupakan bahan baku utama dalam produksi pelumas. Kondisi harga dan pasokan base oil saat ini terdampak oleh dinamika geopolitik dunia. Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penyesuaian harga jual produk pelumas," ungkap Rika saat dihubungi disway.id pada Rabu, 10 Juni 2026.
Meski demikian, ia menegaskan Pertamina Lubricants tetap mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) melalui berbagai analisis dan evaluasi sebelum mengambil keputusan terkait penyesuaian harga.
Di tengah fluktuasi pasar global, Pertamina Lubricants mengklaim masih memiliki ketahanan pasokan yang kuat karena sebagian besar kebutuhan bahan baku utama berasal dari dalam negeri.
BACA JUGA:Federal Oil Bongkar Praktik Pelumas Abal-Abal, Penggerebekan Terbaru di Kaltim
Rika menjelaskan, base oil yang digunakan perusahaan mayoritas dipasok dari fasilitas produksi milik Pertamina Group, yakni base oil Group I dari Kilang Cilacap dan base oil Group III dari Dumai.
"Sebagian besar base oil kami berasal dari dalam negeri. Produk-produk Pertamina Lubricants juga memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sekitar 70 hingga 80 persen," papar dia.
Tingginya kandungan lokal tersebut dinilai membantu perusahaan menjaga stabilitas pasokan pelumas nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Terkait dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, Rika menegaskan bahwa penetapan harga pelumas tidak hanya bergantung pada pergerakan kurs.
Menurutnya, perusahaan mempertimbangkan berbagai variabel secara menyeluruh sebelum melakukan penyesuaian harga, termasuk harga bahan baku, biaya distribusi, kondisi rantai pasok, serta daya beli masyarakat.
"Kami berkomitmen agar setiap penyesuaian harga dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan daya beli konsumen," ucap Rika.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: