Harga Oli Makin Mahal, Ternyata Bukan Cuma Soal Rupiah dan Dolar AS

Rabu 17-06-2026,20:40 WIB
Harga Oli Makin Mahal, Ternyata Bukan Cuma Soal Rupiah dan Dolar AS

Fenomena kenaikan harga oli di tengah Rupiah yang tertekan atas Dolar AS-Federal Oil-

JAKARTA, DISWAY.ID – Kenaikan harga oli yang belakangan dikeluhkan konsumen ternyata bukan hanya persoalan di tingkat bengkel atau pengecer. 

Di balik lonjakan harga tersebut terdapat rangkaian faktor yang saling berkaitan, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, biaya bahan baku global, hingga dinamika rantai pasok industri pelumas.

Selain membebani pengguna kendaraan, kondisi tersebut juga memunculkan kekhawatiran terhadap meningkatnya peredaran produk palsu di pasar.

Konsultan keselamatan jalan (road safety) dan instruktur defensive driving, Jusri Pulubuhu, menilai kenaikan harga oli masih tergolong wajar apabila sejalan dengan meningkatnya biaya produksi dan distribusi.

BACA JUGA:Fenomena Kenaikan Harga Oli, Beban Baru yang Pelan-Pelan Menggerus Dompet Pengendara

Namun persoalan muncul ketika daya beli masyarakat tidak bertumbuh sebanding dengan kenaikan harga yang terjadi.

“Pada titik tertentu, pemilik kendaraan mulai menunda perawatan atau mengganti suku cadang yang seharusnya sudah diganti. Ini berpotensi menurunkan tingkat keselamatan kendaraan di jalan,” ujar Jusri.

Jusri menilai kenaikan harga suku cadang kendaraan yang dipicu pelemahan nilai tukar rupiah dinilai berpotensi meningkatkan peredaran produk palsu di pasaran, termasuk oli.

“Ya kondisi (pelemahan rupiah) ini berpotensi meningkatkan permintaan terhadap produk yang lebih murah, termasuk suku cadang palsu atau ilegal. Oli menjadi salah satu produk yang paling rentan karena sulit dibedakan secara kasat mata oleh konsumen,” kata dia.


Kenaikan harga oli dan biaya servis juga mulai membebani pengguna motor harian lainnya.--Disway

BACA JUGA:Diracik Bersama TGRI, Motul Hadirkan Pelumas Mesin Premium TMO TGRI 0W20

Ia menjelaskan ketika selisih harga antara produk asli dan palsu semakin besar, sebagian pengguna tergoda untuk mengambil jalan pintas demi menghemat biaya.

Kondisi ini dikhawatirkan dapat berdampak pada keselamatan berkendara jika pemilik kendaraan memilih produk murah yang tidak memenuhi standar.

“Padahal dari sudut pandang keselamatan dan keandalan kendaraan, penggunaan produk palsu justru menciptakan biaya yang jauh lebih besar di kemudian hari karena risiko kerusakan komponen utama kendaraan,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: