Pariwisata Indonesia Tertinggal di ASEAN, Spending Wisatawan Harus Digenjot

Selasa 23-06-2026,04:30 WIB
Pariwisata Indonesia Tertinggal di ASEAN, Spending Wisatawan Harus Digenjot

CEO Danantara Rosan Roelani menilai sektor pariwisata Indonesia masih tertinggal dibanding sejumlah negara di kawasan ASEAN, termasuk Malaysia, Thailand dan Singapura.--Anisha Aprilia

JAKARTA, DISWAY.ID - CEO Danantara Rosan Roelani menilai sektor pariwisata Indonesia masih tertinggal dibanding sejumlah negara di kawasan ASEAN, termasuk Malaysia, Thailand dan Singapura.

Karena itu, kata Rosan, pemerintah akan mendorong pengembangan sektor pariwisata nasional yang lebih terarah dan berkualitas.

"Kalau dilihat, potensi, tadi kita juga bicara di dalam, potensi pariwisata kita ini memang sangat luar biasa, tetapi memang kita harus lebih memfokuskan, karena kita diberikan begitu banyak opsi," kata Rosan di Istana Kepresidenan, Senin, 22 Juni 2026.

BACA JUGA:14 Daftar Tempat Wisata Jakarta Gratis Tiket Masuk Spesial HUT ke-499 Jakarta, Yuk Ajak Keluarga Liburan!

Rosan menekankan bahwa pengembangan pariwisata tidak hanya menyasar peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga harus mencakup aspek pendukung secara menyeluruh.

Hal tersebut meliputi logistik, kenyamanan, transportasi, aksesibilitas, hingga kebersihan destinasi wisata yang dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing Indonesia.

"Ya, pertama kita melihatnya dua ya, pertama dari tidak hanya dari jumlah pariwisatanya saja, memang kalau kita lihat jumlah pariwisata di Indonesia kan kita memang, dibandingin, mohon maaf, negara-negara ASEAN masih tertinggal cukup lumayan jauh ya, dibandingin Malaysia, Thailand, Singapura, dan yang lain-lain," ujarnya.

BACA JUGA:Prabowo Bidik Pariwisata, Konser dan Industri Kreatif Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru

Rosan menjelaskan, salah satu tantangan utama pariwisata Indonesia bukan hanya pada jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga rendahnya rata-rata pengeluaran wisatawan (average spending).

Ia menyebut, rata-rata belanja wisatawan di Indonesia masih sekitar 1.100 dolar AS per hari, yang dinilai lebih rendah dibanding negara pesaing di ASEAN.

"Nah oleh sebab itu, bukan hanya dari jumlah pariwisata sendiri, tapi juga bagaimana kita meningkatkan average spendingnya kita juga kalah. Average spending kita itu baru 1.100 mungkin lebih per day, nah bagaimana untuk meningkatkan average spendingnya juga," jelasnya.

BACA JUGA:HUT Jakarta ke-499: Warga Ber-KTP DKI Bisa Naik Transportasi Umum dan Masuk Wisata Gratis Selama 3 Hari

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, pemerintah bersama Danantara akan mendorong pengembangan destinasi wisata baru yang lebih terarah.

"Jadi kita bisa mengambil semua lapisan dari pariwisata yang lebih mass market, tapi juga yang high end atau yang lebih ke experience," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: