Penundaisme Maximus
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-
Setiap ada penundaan, mereka bersorak. "Strategi brilian!" Padahal yang bergeser bukan substansi perkara, melainkan kalender. Bagi mereka, kalender adalah piala kemenangan.
BACA JUGA:Selfie Dulu, Tuhan Nanti
Semakin banyak tanggal dicoret, semakin merasa sedang memenangkan pertandingan. Entah siapa yang mengajari logika semacam itu.
Mungkin berasal dari cabang filsafat baru: Mazhab Kalenderisme. Di mazhab ini, kemenangan tidak diukur dari putusan pengadilan, melainkan dari jumlah sidang yang berhasil ditunda.
Ada fenomena lain yang lebih menarik daripada gerhana matahari. Fenomena ini hanya muncul ketika aparat datang. Tiba-tiba tubuh lunglai. Langkah melemah. Wajah pucat. Suara mengecil.
Kursi roda mendadak menjadi kendaraan paling populer di negeri ini. Tim medis sibuk. Pendukung panik. Media ramai.
Semua tampak seperti adegan terakhir sebuah sinetron menjelang jeda iklan. Namun keajaiban itu sering kali berumur pendek.
BACA JUGA:Jejak Kaki di Kepala Kerbau
Begitu status berubah, pintu terbuka, atau tekanan mereda, mukjizat kesehatan datang tanpa perlu resep dokter.
Langkah kembali tegap. Tatapan kembali tajam. Suara menggelegar. Pidato berapi-api.
Konferensi pers berlangsung penuh energi seolah baru saja selesai mengikuti pelatihan motivasi.
Saya sampai bertanya-tanya, vitamin apa gerangan yang bekerja secepat itu? Apakah kapsul multivitamin? Minuman isotonik? Atau jangan-jangan memang ada suplemen terbaru bernama Vitamin H.
H bukan Hidrasi. Bukan pula Herbal. Melainkan Vitamin Menghina. Efek sampingnya unik.
BACA JUGA:Homo Debatus
Ketika berhadapan dengan proses hukum, seluruh sendi mendadak kehilangan tenaga. Tetapi begitu berada di depan mikrofon dan kamera, vitamin itu bekerja sangat cepat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: