Pulih Percaya

Pulih Percaya

Pergerakan pasar keuangan Indonesia kembali mendapat tekanan setelah nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), kondisi tersebut turut memengaruhi sentimen investor sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berpot-disway.id/Bianca Khairunnisa-

Kalau benar kemerosotan kurs rupiah ini bersumber dari hilangnya kepercayaan, sulit mana memulihkan kepercayaan saat ini dibanding tahun 1999?

Jawaban sederhananya: lebih sulit tahun 1999. Tapi ada jawaban yang tidak sederhana.

Krisis tahun 1997-1998 luar biasa beratnya. Kurs rupiah di tahun 1996 masih Rp2.400/USD. Tahun 1997-1998 menjadi Rp16.000. Sedang yang terjadi sekarang ini ''hanya'' dari Rp16.000 ke Rp18.000. Hitung sendiri beda persentase kenaikannya.

Penurunan kurs rupiah dua tahun terakhir tidak ada apa-apanya.

Apalagi di krisis moneter tahun 1997-1998 itu, ketika Anda masih belajar mberangkang, jauh meluas ke krisis apa saja. Termasuk krisis politik dan kerusuhan sosial yang amat berat. Yang lari dari Indonesia bukan hanya dolar tapi berikut manusianya.

Yang terjadi sekarang apalah artinya. Inflasi masih sangat baik. Kecukupan pangan berlebih. Defisit APBN masih di bawah tiga persen –meski kabarnya lantaran banyak pengeluaran berhasil disembunyikan dulu: misalnya restitusi untuk DMO batu bara. Mahasiswa masih bisa dijinakkan. Oposisi hampir tidak berbunyi.

Sedang di tahun 1997-1998 kacaunya bukan main.

Tapi dalam setahun kemudian rupiah bisa menguat begitu cepat: dari Rp16.000 ke Rp8.000/USD. Tidak sampai satu tahun. Sedangkan lemahnya rupiah saat ini sudah mendekati dua tahun. Sudah sepanjang masa jabatan Presiden Prabowo. Harusnya sudah bisa dikuatkan pun bila tidak secepat tahun 1999. Penguatan rupiah yang terlalu cepat juga punya sisi buruknya.

Saya pun, kemarin, banyak bertanya soal kunci penguatan rupiah di zaman Presiden Habibie itu. Bahwa itu karena Bank Indonesia dibuat independen betul. Tapi bukan satu-satunya.

Yang dilakukan Presiden Habibie adalah mengirim sinyal-sinyal harapan. Ke seluruh rakyat. Ke seluruh dunia. Misalnya janji akan melakukan demokratisasi. Janji itu sinyal. Tapi sinyal itu akan padam bila janji sebatas janji. Habibie membuktikannya dengan ''kebebasan pers'': bikin surat kabar tidak perlu lagi izin siapa pun.

Janji demokrasi itu juga mewujud dalam kritik yang keras dari pers. Termasuk kritik kepada dirinya. Presiden Habibie tidak baper: ia sudah terbiasa dengan situasi pers seperti itu di Jerman sana.

Saking demokratisnya sampai rakyat Timor Timur pun disuruh memilih: tetap jadi bagian Indonesia atau merdeka. Gara-gara ''sikap demokratis''-nya itu sampai ia sendiri kehilangan jabatan presiden. Banyak yang marah kita kehilangan satu provinsi. Padahal kalau Habibie tidak memberikan kemerdekaan ke Timtim, presiden-presiden Indonesia berikutnya akan terus seperti berjalan dengan kerikil di dalam sepatunya.

Sinyal independensi Bank Indonesia yang diputuskan oleh tim reformasi ekonomi saat itu juga dijalankan sepenuh hati oleh Habibie: janji yang benar-benar ditepati.

Masih banyak sinyal lain yang dikirim Habibie ke rakyat. Dan semua sinyal itu mewujud dalam pelaksanaan.

Akhirnya kepercayaan pulih. Termasuk kepercayaan kepada Habibie pribadi. Saya ingat betapa sinis para pelaku usaha besar di zaman awal Habibie –antara lain karena dikira akan membawa misi ICMI ke jabatannya. Memang banyak ''gank'' ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) masuk ke pemerintahan tapi kunci-kunci pemerintahan dipegang teknokrat seperti Boediono, Bambang Sudibyo, Syahril Sabirin.

Lalu sampailah pada kasus Bank Bali. Anda sudah tahu, biar pun Anda masih mberangkang saat itu: ada Bali Gate.

Bank Bali adalah bank yang baik. Nomor empat terbesar di bank swasta Indonesia. Saat krisis, Bank Bali tidak termasuk 15 bank yang ditutup. Justru Bank Bali meminjamkan uang ke bank-bank itu: Rp 1,2 triliun.

Lantaran bank-bank itu ditutup uang Bank Bali nyangkut di sana. Mau menyita aset yang dijaminkan keburu disita oleh badan penyelamat perbankan yang dibentuk pemerintah. Akibatnya Bank Bali dianggap kurang punya kecukupan modal. Kalau saja uang yang dipinjamkan itu bisa balik Bank Bali selamat.

Maka Rudy Ramli cari orang kuat untuk membantu menagihkan. Dipakailah orang seperti pemilik Mulia Group, Djoko Tjandra, untuk menagih lewat cessie. Djoko Tjandra menggunakan orang politik seperti tokoh Golkar Setya Novanto.

Rudy Ramli kehilangan Bank Bali. Orang banyak, termasuk Anda, kalau kehilangan paling-paling kehilangan HP. Rudy Ramli kehilangan bank. Kini ia rajin berkelana ke makam-makam walisongo. Saya pernah diminta menemaninya ke makam Sunan Ampel. Ia terus berusaha mendapatkan kembali Bank Bali. Salah satu usahanya: ganti nama. Agar lebih mujur. Nama Rudy Ramli kini sah menjadi Rudhi Djaja Li.

Bank Bali Gate mengakhiri masa jabatan Habibie. Sayang sekali Habibie jatuh akibat gabungan antara hilangnya satu provinsi dan Bali Gate. Syahril Sabirin, gubernur Bank Indonesia yang sangat berjasa dalam mengendalikan moneter di masa begitu krisis bahkan masuk penjara tiga tahun.

Jadi apakah mengembalikan kepercayaan saat ini lebih mudah dibanding saat itu? (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 29 Juli 2026: Suhu Politik

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

KURBAN MEDSOS.. Dulu, korban politik sering jatuh karena fitnah dari mulut ke mulut. Prosesnya lambat. Ada waktu untuk membantah. Kini, fitnah berlari dengan kecepatan algoritma. Dalam hitungan menit, jutaan orang bisa menjadi "hakim" tanpa pernah membaca berkas perkara. Yang paling berbahaya bukan berita bohong. Melainkan berita yang hanya setengah benar. Sisanya diisi asumsi. Otak manusia memang cenderung melengkapi bagian yang kosong. Itulah sebabnya gosip sering lebih menarik daripada fakta. Sejarah menunjukkan, banyak tokoh dipulihkan namanya bertahun-tahun kemudian. Sayangnya, rehabilitasi tidak pernah secepat penghakiman. Karena itu, di era AI dan media sosial, kehati-hatian bukan lagi sekadar etika. Ia sudah menjadi kebutuhan intelektual. Jangan sampai kita ikut menjadi algojo hanya karena tombol "bagikan" lebih cepat daripada tombol "berpikir".

Lagarenze 1301

Istana mungkin tidak panas, tapi gerah. Hasil survei SMRC Juli 2026 menyimpulkan tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo tersisa 51,1 persen, turun 30,1 persen dibanding survei November 2025. Hasil survei itu, menurut saya, sangat dipengaruhi oleh hiruk-pikuk medsos, yang entah kenapa, algoritmanya sangat suka memviralkan isu-isu panas dengan narasi pertikaian dengan pemerintah. Hasil itu juga menunjukkan pemerintahan Prabowo gagal membendung kampanye negatif. Di masyarakat telanjur terbentuk persepsi yang lahir dari isu-isu yang memang sengaja digali dan diternakkan. Di grup WA keluarga saya beberapa hari terakhir ramai dengan komen atas pernyataan Prabowo tentang penggilingan padi yang untung Rp 2 triliun. Bapak-bapak belingsatan dan menyalahkan Prabowo yang dianggap tidak masuk akal. Ibu-ibu sih lebih banyak yang diam, itu bukan isu favorit mereka. Cek par cek, pernyataan Prabowo itu ternyata terucap setahun lalu, tepatnya 21 Juli 2025, saat peresmian Koperasi Merah Putih di Klaten. Dengan konteks yang berbeda. Tapi, isu di medsos dikemas begitu apik seolah isu baru. Ada juga potongan videonya. Ada narasi dari pengamat yang seolah sangat jago. Isu medsos itu lalu disantap oleh "beberapa media" menjadi berita. Nah, berita tadi diamplifikasi lagi ke medsos. Viral. Begitulah ternak isu bergulir. Konteks aslinya hilang. Muncul konteks baru yang sama sekali berbeda. Menjadi kebenaran baru.

Jhel_ng

Awalnya begitu. Mencoba netral terhadap semua isu di sosmed. Sampai pada suatu kasus Pati Polri, Kadiv Propam, menembak ajudannya sendiri. Media mencerna informasi dari Polda Metro secara utuh. Mencerna informasi dari Propam secara utuh. Namun sosmed menemukan bentuknya sendiri: ada orang jujur, yang anomim (karena keselamatannya bisa terancam) masuk ke komunikasi "desas-desus" sosmed. Si informan tetap anonim dan dijaga anomim, tapi informasi bisa teramplifikasi dengan baik: karena jauh lebih logis. Yang terjadi ada "kontra intelejen" bahwa yang di sosmed hanya berita hoax. Ditunggu. Ya seperti yang kita tahu, sosmed benar walau bumbunya kadang tidak benar. Buat institusi apapun yang suka menyampaikan informasi yang tidak benar, di sini, saya sampaikan: kami tidak bodoh seperti yang kalian sangka...!

Imam Hanafi

Biar gak tergoda dengan medsos, buatlah anda makin sibuk. Gakpapa gak produktif, yang penting sibuk. Orang nganggur biasanya gampang percaya medsos, dan stres memikirkannya; dia kira dengan dia ikut memikirkan, masalah jadi selesai. Kedepan medsos akan makin ramai, PHK dan pengangguran makin banyak. Tulisan pak Dahlan agar suhu tidak ikut naik seperti menggarami lautan.

Tiga Pelita Berlian

Baca kalimat "Wat menggawat" jadi ingat masa lampau di Jember . Ada " Dim Makodim" sebutan utk org yg sok kuasa/ sok militer . "Hek Metehek" utk org yg sok bisa , ada juga "Ya megaya" utk rg yg sok gaya .. hehe . Seklangkong Bah

Sadewa 19

Gajah adalah mamalia pintar. Saat kekeringan paling parah, pemimpin gajah, tidak akan mengusir gajah yg lemah keluar dari kawanan. Gajah tertua yg pernah mengalami kekeringan puluhan tahun sebelumnya akan diminta menuntun kawanan mereka ke sumber air yg ia ingat letaknya. Pemimpin mereka memastikan tidak ada yg tertinggal. Pemimpin diuji disaat krisis, disaat yg paling suram. Tugas pemimpin menemukan jalan, bukan meminta yg ragu dan lemah untuk keluar dari rumahnya dari kawanannya.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

PERNYATAAN FEBRIE.. Dalam ilmu komunikasi, setiap pernyataan publik dari terduga/ tersangja/ terdakwa akan selalun melahirkan dua kemungkinan: Menjawab pertanyaan atau memunculkan pertanyaan baru. Tiga kalimat Febrie justru masuk kategori kedua. Yang sudah ditulis CHDI: "Bukan uang saya", "Ada yang punya" Dan yang sudah diucapkan Febrie di konperensi pers, tapi belum ditulis di CHDI: "Ada kegiatannya". ### Kalimat-kalimat itu tidak menghentikan spekulasi. Tapi justru memperluas ruang tafsir. Informasi yang belum lengkap akan diisi oleh imajinasi publik. Psikologi menyebutnya "ambiguity effect:. Semakin kabur penjelasan, semakin liar dugaan. Karena itu, dalam perkara sebesar ini, yang dibutuhkan bukan tambahan narasi, melainkan tambahan bukti. 1) Siapa pemiliknya. 2) Kegiatan apa. 3) Dasar hukumnya apa. Jika semua itu terungkap di persidangan, spekulasi akan berhenti dengan sendirinya. Dalam hukum, bukti selalu lebih kuat daripada kalimat.

Jokosp Sp

Satu contoh bahasa menghibur dari Pak DI: "Mudah. Tetaplah selalu sibuk. Anda yang sedang menekuni dunia usaha konsentrasilah di usaha anda". Aktualnya: Bagaimana saya bisa konsentrasi, ketika tiba-tiba rekanan kerja saya Si Pengusaha Batu Gunung itu usahanya ditutup oleh Si Aparat. Memang ada kesalahan saya bilang Si Pengusaha itu: Menambang lebih 5 meteran dari patok atas lahan yang tertera dalam IUP. Alat beratnya disegel. STOP, tidak boleh operasi lagi. Dipanggil ke ke kantor dan dijadikan tersangka atas dugaan pelanggaran ijin operasi. Si Pengusaha ditahan empat hari. Hasil penyidikan (nego) tambang ditutup. Alat disegel jadi barang bukti. Yang tidak bikin enak adalah: dimintai 750 juta dan perkara tidak diperpanjang, tersangka bisa keluar dari tahanan. Semua perijinan ditarik. Dan terakhir terdengar: ternyata usaha penambangan batu gunung sudah diambil alih di atas namakan orang lain (kontraktor) dengan beberapa rekanan dengan sistem yang diatur dengan pembagian saham. Salah satu pengusaha yang diajak ternyata satu kamar ketika di Movenpick Tower Mekah. Si Kontraktor menyerah: "Saya tidak mau ikut terlibat dalam usaha tersebut". Kenapa pak haji?. "Saya tidak mau dijadikan ATM". Maksudnya?. "Mau ke Jakarta minta sangu, mau rapat minta sangu, mau dinas minta sangu, ada tamu kita yang harus jamu mereka. Tekor". Baguslah pak haji punya keputusan cerdas begitu. "Ya mas...singkat". Tapi saya tekor modal belum balik....hilang modal saya pak haji. "Nasih usaha di Kanoha". Oh..

Herry Isnurdono

Jangan2 yg kemakan hoax itu Abah DI sendiri. Karena faktor umur. Usia 76 th ini memang rawan korban hoax. Tidak percaya lihat di group WA dan FB. Tapi hoax itu ada dasarnya. Apalagi kasus mantan Jampidsus Febrie. Hoax yg membawa-bawa nama Menhan SS dan Wakil Ketua DPR RI Dasco. Polda Metro Jaya menangkap 8 orang penyebar hoax. Kasus Febrie ini ada korban meninggal, yaitu karumga di rumah Febrie. Polisi masih menyelidiki kasus meninggalnya karumga di rumah Febrie ini. Polisi membantah tertembaknya ajudan Febrie. Hoax. Pemilik emas berkilo-kilo dan USD & Sing. Dollars dirumah Febrie di Bogor, adalah Menhan SS bisa hoax bisa tidak. Kita tunggu di sidang nanti. Berani tidak Febrie 'bernyanyi. Dasco memedisiasi pertemuan Ketua PWI dgn Pengacara HPH. Buntutnya PWI mencabut laporan polisi utk kasus HPH. Yg ngomong kpd wartawan tidak punya otak, sewaktu HPH masih jadi Lawyer Febrie di jumpa pers dgn wartawan. Setelah geger dan ribut HPH mundur dari kasus Febrie, alasan berobat ke Singapura.

Alex Ping

9) cu melucu (sok lucu) 10) nah me-genah (sok genah) 11) tik-politik-an (berpolitik) hehehe

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

"WAT MENGGAWAT" DAN KEARIFAN BAHASA MADURA.. "Wat menggawat" berarti dibuat lebih gawat daripada kenyataannya. Bukan sekadar gawat, tetapi sengaja atau tanpa sadar dibesar-besarkan. Ungkapan sederhana, tetapi sangat relevan di era media sosial. Bahasa Madura memang kaya dengan kata ulang yang memberi penekanan makna. 1) laun-laun (pelan-pelan), 2) rosak-rosak (rusak parah), 3) kerras-kerras (keras sekali), 4) celleng-celleng (hitam pekat), 5) bhagus-bhagus (baik-baik), 6) ghelluh-ghelluh (terlalu cepat/tergesa-gesa), 7) sakonik-sakonik (sedikit demi sedikit), dan 8) terros-terros (terus-menerus). Kata-kata seperti itu menunjukkan bahwa bahasa daerah bukan sekadar alat berbicara. Ia juga merekam cara berpikir masyarakatnya. Karena itu, "wat menggawat" bukan hanya ungkapan Madura. Ia adalah peringatan agar kita "tidak" mudah membesarkan isu sebelum "membesarkan" fakta.

abdul rojik

saat ini di fase males update apapun di sosmed, sudah menggap update di sosmed lebih banyak mendapatkan rugi dari pada untung, sosmed hanya dibuat hiburan melihat yang luccu lucu saja.

Ahmed Nurjubaedi

NEGERI-KU -- Negeri-ku adalah negeri soto/ Soto Aceh, soto Medan, soto Padang/ Soto Betawi, soto Kudus, soto Semarang/ Soto Lamongan, soto Sulung, soto Madura/ Soto Kreneng, soto Banjar, coto Makassar/ Soto Lombok, soto Sasak, soto Sumbawa/ Soto Kenari, soto Papua// Aku berharap negeri-ku bukan negeri SO(n)TOloyo!!!

Tivibox

Saya kutip berita kompas.com tertanggal 25 Juli 2025, berjudul : "Geram Penggiling Padi Nakal Raup Rp 2 Triliun, Prabowo : Usut !" Ini kutipannya : "Saya dapat laporan, satu penggiling padi untung tiap panen Rp 2 triliun, satu Rp 2 triliun per bulan," ujar Prabowo saat peresmian Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, Senin (21/7/2025)" Banyak yang memperdebatkan, apakah angka triliun itu memang benar ? Saringan informasi yang masuk ke Presiden seharusnya sangat ketat. Pemerintah juga wajib menunjukkan datanya apabila ada yang menanyakan bagaimana cara perhitungannya. Dimana data itu ditemukan. Apa tindakan yang diambil pemerintah bila itu memang terjadi. Kalau tidak, itu berpotensi menjadi hoax, atau info abs saja.

mario handoko

good morning mr djoko "wherever law ends. tyranny begins." (john locke)

Irary Sadar

Rakyat Sumatera sepertinya capek kirim bantuan terus menerus ke Pulau Jawa (Baca : Pusat). Sementara timbal baliknya ke daerah, Pusat tidak banyak berbuat. 80% warga Sumatera jika ada memoredum pisah seperti Timor-Timur, tentu setuju. Hanya saja tidak berani teriak, nanti akan di cap provokator dan dijemput di tengah malam oleh orang-orang berbadan tegap...

Dahlan Batubara

Di medsos (facebook) ada dekitar 5 grup berlabel "Sumatera Merdeka". Masing2 grup memiliki ribuan anggota. Saya ikuti 2 diantaranya. Grup2 itu secara umum memandang NKRI itu mengikuti falsafah Majapahit: Raja atau istana Majapahit adalah kebebaran mutlak. Negeri2 bawahan adalah pelayan. Tunduk setunduk2nya. Jangankan membantah, sekadar mempertanyakan kebijakan istana pun tidak boleh. Kekayaan negeri bawahan disedot dalam bentuk upeti. Tak boleh tanya digunakan utk apa itu upeti. Di era NKRI pemerintah pusat adalah kebenaran mutlak. Batik dinasionalkan "dipaksakan" kepada rakyat Melayu yg memiliki sejarah kain songket. Di satu sisi kekayaan alam disedot pemerintah, di sisi lain daerah menjadi pengemis dana pembangunan. Pejabat2 pusat dan konglomerat bergelimang uang, rakyat di daerah tetap mengalami kemiskinan struktural. Di grup2 itu ada juga yg moderat. Jika yg radikal memandang mendirikan negara sumatera sebagai opsi, maka yg moderat berpandangan sebatas NKRI dirobah menjadi negara federasi. Namun yg moderat juga menerima opsi mendirikan negara Sumatera.

Em Ha

Kalau saja seluruh pemangku kepentingan negeri ini berprinsip seperti Febrie Adriansyah. Itu bukan uang saya, uang itu ada yang punya. Dari Presiden sampai Lurah/Kades : APBN/APBD itu bukan punya saya. Anggaran itu rakyat yang punya. Dari Direktur sampai karyawan BUMN/BUMD: Perusahaan ini bukan punya saya. Perusahaan itu rakyat yang punya. Maka takkan mendemam negeri ini. Ada kecurigaan saya. Febrie mencontek prinsip tukang parkir. Mobil yang dijaganya adalah titipan. Maka ketika mobil pergi satu persatu. Tak ada rasa kehilangan. Tak ada penyesalan. Tukang parkir dikira cupu. Rupanya suhu.

Leong Putu

Cie cie....sekarang Pak Bos dah mulai suka meme lucu.... Cie...nti jadi suka pandang meme catik 7i.... Tapi seusianya Pak Bos, yang pas itu ai meme 7i. #Wani #cemungut_PakBos

Mpok Dipa

Pick up laundry di rumah² pelanggan, ditimbang, foto, bikin resi, kirim ke pelanggan. Lalu pakaian kotor masuk mesin cuci dstnya. Biasanya sambil menunggu pelanggan yg drop off bisa di sambi buka WA.Tapi WA grup DI sejak kemarin anyep rasanya, teman sparring partner saya di grup WA itu tiba² memutuskan keluar grup setelah mutung karena di tuduh sebar berita politik hoax. Padahal ngedumel, ngomel di grup 1 itu bisa membantu melepaskan hormon kekesalan atas kondisi apa saja. Tetap semangaaat umbah².

Er Gham 2

Londo ireng. Apakah memang kulitnya benar ireng. Kayaknya gak semua. Ada juga yang coklat, mirip sawo matang. Lalu sebagian pilih ikut migrasi ke negara induk semang setelah KMB. Dan para keturunannya menyumbang kemenangan timnas 5 - 1. Ada juga ternyata dampak positif dari londo ireng. Bikin iri negeri semenanjung di sebelah.

Bahtiar HS

Pagi tadi saya putar salah satu episode Ngaji Filsafat Dr. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag. Beliau dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pagi tadi terkait bgmn menjaga bahagia. Salah satunya: aja nyantolake bahagiamu pd hal-hal di luar dirimu. Contone: kamu merasa pusing ketika harus memilih capres A atau capres B. Yg A begini2. Yg B begini2. Lha yg nyuruh kamu mikir capres A atau B itu ya sapa? Salahmu dhewe! Sejalan dg tulisan CHD Abah kali ini, suhu kita makin panas gara2 kita terjebak pd polemik di medsos atau lainnya, yg itu di luar kita. Mungkin ketakutan dicap FOMO. Kuper. Kudet. Padahal gak lihat medsos ya gak papa. Mestinya gak perlu mikir jadi ikut mikir. Ikut pusing. Salahmu dewe, kata Dr Faiz. Gimana biar gak pusing, dan tetap bahagia, gak usah ikut mikir--termasuk mikir nulis komentar: mulai besok selama sebulan kita coba gak usah baca CHD? Wkwkwkw.

Tivibox

Tukang Kompor Dulu, sebelum jaman medsos, tukang kompor adalah profesi mulia. Mereka membantu ibu-ibu memperbaiki alat masak yang memakai minyak tanah itu. Kedatangannya selalu ditunggu saat ada masalah. Bila dia hadir, semua girang karena memasak tak jadi tertunda. Kini, tukang kompor sudah jarang ditekuni. Bahkan mungkin hampir punah. Karena memasak tak lagi pakai minyak tanah. Akibatnya, profesi tukang kompor ditekuni pihak lain. Yang bisa mendengung. Yang dibayar tinggi, tentu saja. Modalnya, cukup hp atau laptop, akun serta sedikit paket data internet. Tugasnya memang membuat panas. Tapi bukan buat memasak. Tahu sendirilah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 42

  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Echa Yeni
    Echa Yeni
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • Yugi Porkdelicious
    Yugi Porkdelicious
  • Imam Hanafi
    Imam Hanafi
  • Bahtiar HS
    Bahtiar HS
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • xiaomi fiveplus
    xiaomi fiveplus
  • sigit Dwi
    sigit Dwi
  • Hermawan Wardhana
    Hermawan Wardhana
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • Sinta SD
    Sinta SD
  • DeniK
    DeniK
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • nur cahyono
      nur cahyono
    • Hasyim Muhammad Abdul Haq
      Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
    • siti asiyah
      siti asiyah
    • xiaomi fiveplus
      xiaomi fiveplus
  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
  • Sugi
    Sugi
  • HANVINCY ADNOV
    HANVINCY ADNOV
  • alasroban
    alasroban
  • my Ando
    my Ando
  • rid kc
    rid kc
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Bright
    Bright
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
    • Maman Lagi
      Maman Lagi