Sholeh Cilik

Sholeh Cilik

--

Lihatlah video terakhirnya. Pekan ini. "Banyak yang tanya: kok pipi Cak Sholeh tambah mboblem," ujarnya dalam bahasa Jawa-Suroboyoan. "Kebetulan Cak Sholeh sedang sakit," ujarnya lagi. "Ini karena efek obat".

Cak Sholeh meninggal dunia kemarin. Dalam video-videonya ia selalu menyebut dirinya ''Cak Sholeh''.

Namanya memang Muhammad Sholeh. Asal Madura. Ia pengacara wong cilik yang amat populer. Anti korupsi. Konsisten. Dirinya sendiri tidak bisa dibeli. Ia paling gigih mempersoalkan keterlibatan pejabat daerah dalam korupsi dana anggaran jatah DPRD Jatim.

Cak Sholeh juga juara mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Sudah 24 kali. Dua yang paling terkenal: calon tunggal kepala daerah dan keterpilihan calon anggota DPR/DPRD berdasar suara terbanyak.

Banyak anggota DPR/DPRD yang menikmati hasil perjuangan Cak Sholeh. Salah satunya Indah Kurnia. Tiap pileg nomor urut pencalonannyi terus dipindah ke lebih bawah. Indah terus saja terpilih –kali ini untuk periode keempat.

Indah memang mengakar di dapil Surabaya. PDI-Perjuangan beruntung punya dia.

Indah multitalenta: puluhan tahun jadi kepala cabang Bank BCA, pernah jadi manajer Persebaya yang sukses, penyanyi yang hafal teks 700 lagu lebih –termasuk lagu berbahasa Kanton.

Sebelum mengajukan gugatan suara terbanyak itu Cak Sholeh mendengar selentingan: pencalonan DPR-nya dari PDI-Perjuangan akan dihambat. Akan ditaruh di nomor sepatu. Sesama tokoh PRD –Partai Rakyat Demokratik– nasib Cak Sholeh tidak sebagus Budiman Sudjatmiko.

Dengan mengajukan gugatan suara terbanyak, Sholeh berharap tetap bisa terpilih meski ditaruh di nomor sepatu. Ternyata Cak Sholeh justru tidak jadi dicalonkan oleh PDI-Perjuangan. Hasil perjuangannya dinikmati banyak orang –kecuali dirinya sendiri.

Di pileg berikutnya ia ingin maju dari Gerindra. Juga tidak terpilih. Lalu maju sebagai calon wali kota Surabaya dari jalur independen. Ia gagal melewati tahap verifikasi jumlah dukungan minimal. Ia merasa telah berhasil menyerahkan ke KPUD 190.000 KTP pendukung. Yang terverifikasi tidak sampai memenuhi syarat minimal.

Ia tipe aktivis lapangan yang sulit masuk sistem. Padahal pencalonannya sebagai wali kota dengan maksud untuk melakukan perbaikan dari dalam.

Meski pernah dituduh komunis –di akhir zaman Orde Baru– Cak Soleh lulusan Pesantren Tebuireng, Jombang. Waktu mendengar tuduhan komunis itu ia pun bercanda: hebat juga pesantren Tebuireng; bisa melahirkan komunis.

Saya sesekali bertemu Cak Sholeh: sesama penasihat Pondok Pesantren spiritual Singa Putih di Tretes. Ini salah satu pesantren baru yang sangat maju: santrinya sering memenangkan kejuaraan akademik.

Dibanding saya, Cak Sholeh lebih sering ke Singa Putih. Terakhir sebulan lalu, sebelum sakit. Ia berobat ke RS Siloam Surabaya. Ia menderita sakit autoimun. Tiba-tiba saja saya mendengar berita duka: Cak Sholeh meninggal dunia.

Ia termasuk rajin bikin video untuk diunggah di YouTube. Setiap kali ada peristiwa besar Cak Sholeh mengunggah komentar dari sisi hukum.

Salah satu video yang paling pro-kontra adalah soal Vanessa Angel: prostitusi di mata hukum.

Wanita seperti Hana Hanifah dan Vanessa Angel, katanya, tidak bisa dipidana. "Mereka tidak bisa jual pikiran atau jabatan. Yang mereka punya adalah tubuh. Mereka menjual tubuh. Hana Hanifah Rp 20 juta. Vanessa Angel Rp 80 juta. Tapi itu dilakukan suka sama suka," katanya. "Secara agama itu dosa, tapi saya kan melihatnya dari kacamata hukum," ujar Cak Sholeh.

Bagaimana kalau dikenakan UU ITE? "Tidak bisa. Mereka tidak jual diri lewat IG atau FB yang bisa diakses umum," katanya.

Memang mereka menjual diri jarak jauh lewat foto setengah telanjang. Tapi, katanya, foto itu dikirim langsung ke germo. Germo kirim ke peminat. Tidak bisa diakses oleh umum.

Itu, kata Cak Sholeh, sama dengan orang pacaran jarak jauh. Kangen. Lalu saling kirim foto telanjang. Itu tidak bisa dikenakan UU ITE karena tidak bisa diakses oleh umum.

Bagaimana kalau suatu saat HP yang berisi foto telanjang itu ketinggalan. Lalu ditemukan orang. Foto telanjangnya viral. "Pemilik fotonya tidak bisa dipidana. Yang mengedarkan lewat FB atau medsos yang bisa kena pidana," kata Cak Sholeh.

Cak Sholeh sangat sederhana. Ia pengacara yang tidak punya satu cincin pun. Wong cilik sangat kehilangan atas kepergiannya.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 7 Agustus 2026: Yang Baru

Murid SD Inpres

SURAT PENUTUP: DARI HATI BARU, UNTUK HATI LAMA. Ditulis di kabin pesawat. Dari ketinggian 35 ribu kaki. Hari ke-7305 pasca transplantasi hati. *** Dear, Hati Lama... Aku tidak tau, harus panggil kamu apa. Pendahulu? Kakak? Saudara? Pahlawan? Mungkin semuanya. Hari ini 20 tahun. Tepat 20 tahun sejak kamu memilih pergi, supaya kami semua bisa memilih hidup. Aku baru selesai cek lab di bandara. Hasilnya bagus. Ginjal masih kuat. Jantung masih stabil. Paru-Paru sudah hirup udara di 47 negara. Dan aku... aku masih di sini. Bekerja, menyaring, menyimpan glukosa, untuk mereka. Jantung, detak dia masih sama, tetap kuat. Dia bilang dulu pompa darah karena takut kita mati. Sekarang dia pompa darah karena pingin kita tetap bisa lihat dunia. Otak, sudah nulis banyak diary. Tentang kita. Tentang perjalanan 20 tahun. Dan dia masih simpan suratmu 20 tahun lalu. Sudah lusuh. Dibaca tiap hari. Paru-Paru, dia nangis waktu pertama kali sampai di Himalaya. Katanya, oksigennya paling jujur. Ginjal, dia cerewet kalo sudah urusan obat. Tapi dia bangga. 20 tahun ini kita semua sehat wal afiat. Sistem Imun, dia jagoan sekarang. Lambung, udah makan banyak menu. Dari dumpling di Chengdu, sampai borscht di Ukraina. Ada capeknya? Pasti. Tapi kami ingat, kamu tahan nyaring racun sampai tubuh kamu sendiri hancur, masa aku -- kami semua -- enggak bisa tahan minum obat seumur hidup? Jadi, terima kasih. Terima kasih, sudah meninggalkan kami dengan kesempatan.

Murid SD Inpres

Notes: ...kami sudah tentukan, destinasi travel kami selanjutnya bulan depan, ke Islandia, mau lihat Northern Lights dan Secret Lagoon. Aku janji, akan simpan energi baik-baik, untuk mereka, demi kamu yang kini tenang dan tidak pernah sakit lagi, di alam sana. Tertanda, Hati yang Baru.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Saya pernah komentar di CHDI membahas "overthinking dalil" yang mengakibatkan semua-semua diharamkan. Mulai dari patung, musik, KB pada umumnya, vasektomi, operasi plastik, hingga donor organ semuanya diharamkan. Dulu ada guyonan soal perbedaan negara demokrasi dan negara komunis. Di negara demokrasi, semuanya diperbolehkan kecuali yang dilarang. Di negara komunis, semuanya dilarang kecuali yang diperbolehkan. Nah, kebanyakan muslim itu berpikir seperti yang komunis itu: semua hal diharamkan kecuali yang dinyatakan halal. Pemikiran seperti itu yang membuat Islam terlihat berat karena segala hal kok dilarang. Donor organ juga begitu. Bahkan awalnya donor darah pun diharamkan. Sekarang saat donor darah sudah dihalalkan, donor organ masih ada yang mengharamkan. Itulah kenapa saya pakai tagar #islammasadepan. Karena Islam harus berbenah diri untuk menghadapi masa depan.

Murid SD Inpres

20 TAHUN KEMUDIAN: HARI KE-7305 PASCA TRANSPLANTASI HATI. Notulen rapat di pesawat, 35 ribu kaki di atas bumi Kazahstan. Lampu kabin meredup. Di luar jendela pesawat: salju pegunungan. Di dalam: tubuh yang 20 tahun lalu hampir mati. Sekarang: tengah transit ke negara ke-47 yang dikunjungi. Otak: (membuka laptop, menatap peta dunia penuh pin) "Teman-teman... sudah 20 tahun. Coba lihat ini". Layar menampilkan visual tempat penjuru bumi yang sudah dikunjungi. Titik merah: seluruh daratan China, dari Xinjiang hingga Fujian. Titik biru: 27 negara Eropa, dari Albania sampai Bosnia. Titik kuning: zona konflik, Syria, Ukraina, perbatasan, hingga kamp pengungsian. Titik hijau: gunung, gurun, hutan, padang sabana, dan stepa. *** Jantung: (kini kuat, stabil, tidak pernah komplain lagi) "Dulu aku pompa darah untuk bertahan hidup. Kini aku pompa darah karena kita penasaran. 20 tahun lalu, naik 8 anak tangga bikin kita bergidik. Minggu lalu, kita naik 3000 anak tangga di Kuil Sichuan. Ingat?" Semua organ tertawa. Paru-Paru: (bangga) "Aku sudah hirup udara Beijing yang tebal. Udara Alpen yang sedingin es. Debu di kamp pengungsian. Asap teh cay di pagi hari di Istanbul. Dan aku, masih di sini. Masih bisa bekerja. 20 tahun lalu dokter bilang aku paling rentan. Lihat sekarang". Ginjal: (sambil cek lab bulanan di aplikasi) "20 tahun Tacrolimus. 20 tahun aku menyaring. Capek? Iya. Tapi aku bangga. Kreatinin kita masih bagus. Kita jaga bareng. Kita traveling bareng".

Murid SD Inpres

Hati Baru: (sudah tidak baru lagi, usianya sudah 20 tahun, dengan 2 garis tipis bekas operasi, sudah tenang, sudah kuat) "Aku ingat hari pertama. Aku takut mengecewakan kalian. Hari ini... aku sudah bekerja bersama kalian di 47 negara. Bakmi Shanxii di China. Caponata Sisilia di Italia. Custard Clafoutis di Perancis. Aku saring racun di padang gurun Ghobi. Aku simpan tenaga saat kita jalan 20 kilometer menuju kota kuno Fenghuang. Aku tidak jadi beban. Aku jadi mesin. Aku jadi rumah". Hening. Semua mengingat surat perpisahan Hati Lama 20 tahun yang lalu. Sistem Imun: (kini sudah veteran) "Dulu aku takut diam. Sekarang aku sudah ahli. Aku tau kapan harus lawan virus dan bakteri, dan kapan harus tahan. Vaksin. Masker. Cuci tangan. Itu sudah routine kita sehari-hari. Bahkan kita sudah melewati pandemi. Dan kita masih diberi karunia hidup!". Lambung & Usus: "Kami sudah makan kudapan paling aneh sedunia. Dengan sumpit, garpu, tangan. Makanan jalanan di Delhi. Makanan kaleng di zona konflik. Dan kami masih bisa cerna. Sebab, kita sangat disiplin! Sebab, karena kita ingin terus hidup dan terus kuat!".

Murid SD Inpres

Catatan organ Otak, di diary-nya: "20 tahun lalu, kami memilih 'kesempatan' di atas 'kepastian'. Hari ini, kepastian itu adalah, tidak ada negara, tidak ada perang, tidak ada penyakit, yang bisa menghentikan kami, untuk terus bertahan hidup".

Murid SD Inpres

BULAN PERTAMA, HARI KE-32, PASCA TRANSPLANTASI. Sudah 31 hari di dalam ruangan. Hari ini dokternya bilang: "Boleh keluar, 15 menit. Pakai masker. Jangan ke area ramai". Seluruh tubuh gemetar. Bukan karena takut. Tapi karena kangen. Kangen udara sejuk luar. Kangen sinar cerah mentari pagi. -- CEK PERSIAPAN -- Otak: "Masker? Cek. Hand sanitizer? Cek. Obat pagi? Done. Hati, kamu siap?". Hati Baru: (napas cepat) "Takut. Di luar banyak kuman. Banyak debu. Gimana kalau aku enggak kuat?". Jantung: (dug... dug...) "Wajar kamu takut. Aku juga. Tapi ingat, kita enggak keluar buat lari. Kita keluar untuk mengingat rasanya hidup di alam bebas. Aku di sini. Jadi kita pelan-pelan saja". Sistem Imun: (paranoid) "Pastikan jaga jarak 2 meter ya! Jangan sentuh apa-apa! Aku masih belajar diam. Jadi jangan bikin aku panik!" Paru-Paru: (sudah di depan pintu) "Ayo... satu tarikan napas. Huuuuuuffhh... Fhhuaahhh. Ini dia! Udara luar! Huuhuuhuu... Angin. Matahari. Enggak ada selang. Enggak ada bau rumah sakit". Kulit: "Hangat... aku kangen hangat mentari!". Mata: "Warna hijau dedaunan. Warna biru langit. Aku hampir lupa semuanya". Hati Baru: "Aku bisa bekerja! Dan enggak sakit!" Ginjal: "Lihat? Kamu hebat. 15 menit saja kamu sudah bersihkan semuanya untuk kami". Jantung: "Dulu aku pompa darah karena takut mati. Hari ini aku pompa darah karena ingin terus hidup!"

Murid SD Inpres

KETIKA ADA GANGGUAN KECIL. Menit ke-10, tiba-tiba Otot kram sedikit. Otot: "Aduh...!" Panik sesaat. Seluruh organ langsung siaga. Otak: "Tenang. Napas pelan. Ini normal. Otot masih lemah". Hati Baru: (langsung kerja lebih sigap) "Aku kirim glukosa. Aku kirim protein. Tahan, ya. Aku di sini". Jantung: "Aku juga pompa darah lebih kencang. Dan kita kembali ke ruang kamar habis ini. Janji". 5 menit kemudian, kram-nya hilang. Sistem Imun: (lega) "Oke. Kita kembali ke ruang kamar. Misi hari ini, selesai. Tanpa infeksi. Tanpa drama". KEMBALI KE RUANG KAMAR. Pintu ditutup. Semua organ duduk. Capek. Tapi lega. Otak menulis di diary-nya: "Hari ke-32. Kami keluar 15 menit. Dan kembali dengan kenangan baru. Tidak ada yang sempurna. Ada takut. Ada kram. Ada kesigapan. Ada matahari. Juga ada senyum. Bukti bahwa transplantasi bukan akhir. Ini adalah awal".

Murid SD Inpres

HARI KE-7 PASCA TRANSPLANTASI. Tempat: ruang pemulihan. Jam 05.31. Aroma antiseptik masih terasa. Agenda: Belajar hidup bareng lagi. *** Pagi itu berbeda. Selang sudah berkurang. Monitor masih bip bip bip, namun tidak seaktif hari-hari pertama. Otak membuka rapat kecil. "Pagi, seluruh tim. Ini hari ke-7. Ini bukan lagi soal selamat atau tidak selamat. Ini soal gimana kita mulai hidup sejak sekarang. Hati Baru, gimana? Masih sakit?" Hati Baru dengan suara pelan namun sudah mulai bertenaga, menjawab: "Sakit, tapi beda. Dulu sakit karena sekarat. Sekarang sakit karena menuju pulih. Aku... aku sudah bisa merasakan gula. Aku sudah bisa menyaring. Itu untuk pertama kalinya". Hening sejenak. Lalu tepuk-tangan bergema dari seluruh organ tubuh. Jantung berdegup lebih tenang dari minggu lalu. "Dengar itu? Itu suara detakku. Dulu aku pompa darah kotor. Capek. Hari ini aku pompa darah bersih. Ringan. Terima kasih, Hati. Karena kamu, aku enggak perlu teriak kecapekan lagi". Paru-Paru, sambil latihan napas: "Huuuuhh... Haaahhh... Dokter suruh aku latihan 10 kali sehari. Biar enggak infeksi. Hati, temani aku ya. Tiap aku tarik napas, kamu kerja. Deal?" Hati Baru (mengangguk pelan): "Deal". Ginjal (bawa buku catatan): Oke, tim disiplin. Dengerin. Jam 7, asupan obat Tacrolimus. Jam 8, cek tekanan darah. Jam 12, cek kadar gula. Kalau ada yang aneh di aku, langsung lapor. Aku enggak mau kita semua kaget lagi".

Murid SD Inpres

Ginjal menatap Hati Baru. "Aku masih takut sama obat-obat ini. Tapi aku lebih takut kehilangan kamu lagi. Jadi aku rela minum Tacrolimus, Cycloporine, dan lain-lainnya, demi kamu". Sistem Imun duduk mendekat di samping Hati Baru: "Ini hari ke-7 aku enggak emosi dan enggak kerja aktif. Masih sulit, jujur saja. Tadi barusan ada virus dan bakteri lewat, aku sudah pengen sikat dan hajar, tapi aku ingat, aku harus diam dulu, demi kamu. Jadi, kamu harus kuat ya, dan bisa beradaptasi di sini. Aku belajar percaya, sama kamu". Hati Baru tersenyum: "Iya, janji. Aku akan adaptasi sebaik-baiknya, supaya bisa segera bekerja bareng kalian semua". Lambung (mengeluh, tapi santai): "Uuuggh, makan bubur lagi. Sayur rebus lagi. Tapi gapapa, demi kamu, aku rela. Nanti kalau udah 3 bulan, kita santap yang enak-enak tapi aman, pelan-pelan". Usus: "Aku juga janji enggak akan telat serap obat-obatnya. Biar Hati kita bisa cepat pulih". Tulang dan Otot: "Kami mau mulai latihan jalan hari ini. 5 langkah. Nanti kalau kamu sudah kuat, kita lari bareng ya".

Murid SD Inpres

Malamnya... Hati Baru merenung. Otak: "Kamu mikirin Hati Lama, ya?" Hati Baru: (terdiam lama) "Aku takut. Takut enggak sebaik dia. Takut enggak cukup untuk mencintai tubuh ini". Otak: "Dengar. Dia pergi bukan karena dia lemah. Dia pergi karena dia sayang kita. Dan kamu, datang karena kami masih harus hidup, itu pula lah keinginan Hati Lama. Jadi, mulai sekarang, kita belajar bareng-bareng. Hari demi hari". Jantung mendengar percakapan tersebut dengan senyum, sembari berdetak dengan irama stabil dan tenang. Dan kemudian, Hati Baru akhirnya bisa tidur lelap, tanpa rasa takut. *** Otak menulis di diary-nya: "Hari ini kami tidak sembuh. Hari ini kamu justru mulai belajar untuk sembuh, bersama-sama". Jantung menulis di diary-nya: "Besok hari ke-8. Masih ada takut. Masih ada obat. Tapi juga sekarang ada hal baru... harapan".

Murid SD Inpres

SATU MENIT PERTAMA "HATI BARU" TERBANGUN. Ruang ICU. Selang, monitor, dan napas pertama. Dia -- organ Hati yang baru -- baru saja dipasang. Dia merasa masih asing. Dia merasa takut. Monitor: "Biiip... Biiip...". Hati Baru membuka mata, dunia putih, dingin. Lalu ia mendengar suara pertama. Suara degup Jantung. Lembut, pelan: "Dug... Dug..." Jantung tersenyum menatap Hati Baru: "Halo, selamat datang. Aku Jantung. Aku sudah menunggu kamu. Aku sudah memompa darah ke kamu dengan pelan, sampai kamu kuat". Paru-paru menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya pelan. "Halo, aku Paru-Paru. Huuuffhh, nah, itu adalah oksigen bersih, untuk kamu. Kamu tidak sendiri. Aku di sini menemani". Otak, suaranya jernih, dan sedikit bergetar karena lega: "Halo, Hati Baru. Dengar ya, kamu tidak menggantikan siapa-siapa. Kamu me-lan-jut-kan. Kami sudah baca surat terakhir dari Hati Lama dengan tangis, kamu juga nanti baca ya. Sekarang, giliran kami menjaga kamu. Oke?". Ginjal, dengan hati-hati, seperti berbicara kepada bayi: "Aku Ginjal. Aku mungkin agak cerewet nanti soal obat. Tapi itu karena aku sayang kamu. Aku akan bersihkan apapun yang masuk ke tubuh ini. Kamu fokus pulih dulu ya". Sistem Imun berbisik: "Aku Imun, biasa menyerang. Tapi untukmu, aku belajar diam, dan belajar percaya. Selamat datang di rumah yang baru". Lambung & Usus menimpali: "Kami lapar. Tapi kami tahan dulu. Nanti kalau kamu sudah kuat, kita makan yang enak-enak tapi lebih sehat dan aman. Demi kamu".

Murid SD Inpres

Tulang, Kulit, Otot, ikut berbicara: "Kami di sini. Kami akan berdiri untukmu. Kami akan berjalan untuk kamu juga. Sampai kamu bisa berlari lagi". 30 detik berlalu. Hati Baru belum berbicara, hanya menatap satu per satu anggota keluarga baru yang menyapanya. Dia hanya... merasakan. Lalu, pelan sekali, ia bergetar, bukan karena sakit, tapi karena sesuatu yang cukup familiar: rasa diterima. "Aku... aku takut mengecewakan kalian," itulah kalimat yang pertama meluncur dari Hati yang baru. Semua organ, kompak: "No, no, no. Tidak. Justru kamu sudah menyelamatkan kami hanya dengan datang". Jantung berdetak sedikit menguat: "Jadi sekarang kita mulai ya? Satu hari. Satu fokus (disiplin obat). Satu napas. Bersama". Monitor tetap bersuara "biiipp... biiippp..." dengan irama teratur. Di luar jendela, sinar mentari masuk. Dan untuk pertama kalinya, seluruh tubuh bernapas sebagai satu keluarga lagi.

Sadewa 19

20 tahun yang lalu : 1. Belum ada BPJS 2. Belum ada Covid 3. Belum ada Gerindra 4. Belum ada Jokowi di istana 5. Gibran masih SMA 6. USD masih setara IDR 9.300 7. BBM masih IDR 4.500 / liter 8. Belum ada Buzzer 9. Belum ada pelemahan KPK. Saat itu KPK justru sedang kuat kuatnya. 10. Belum ada Disway, belum ada perusuh.

Murid SD Inpres

SATU MENIT JELANG ANESTESI, MENUJU TRANSPLANTASI. Lampu operasi menyala. Hati terbaring lemah, bengkak, kuning, tidak berdaya. Semua organ berkumpul. Tidak ada rapat. Hanya perpisahan. *** OTAK mendekap Hati yang mulai dingin. "Hati, dengar aku. Kamu tidak gagal. Kamu menahan racun untuk kami sampai kamu sendiri yang hancur. Itu bukan kekalahan, itu pengorbanan. Terima kasih sudah berpikir untuk kami, bahkan saat racun dari sirosis membuatku lupa cara untuk berpikir". JANTUNG memeluk Hati dengan detak pelan. "Hati, dengar aku. Dengar detak aku. Ini suara terakhirku untukmu. Setiap detik aku memompa darah untukmu. Setiap detik aku berjuang agar kamu tidak merasa sendirian. Kamu sudah bekerja terlalu keras. Kini istirahatlah. Biar aku yang melanjutkan detak ini untuk kita semua". PARU-PARU menarik napas terakhir untuk Hati. "Huuuuhhff... Hati, aku akan ingat napas ini. Inilah napas yang kamu bersihkan untukku selama ini. Maaf kalau selama ini aku beberapa kali pernah mengeluh sesak. Aku tidak tau bahwa kamu yang mehanannya justru lebih kesakitan. Kini kamu tidur panjang, ya. Aku akan jaga oksigen untuk Hati yang baru". GINJAL sudah kuyup dengan air mata. "Hati... aku marah kemarin. Bukan padamu. Tapi pada keadaan. Kamu sudah menyaring untukku. Sekarang biar aku yang menyaring air mataku untukmu. Pergilah dengan tenang. Aku janji akan jaga tubuh ini". ***

Murid SD Inpres

SISTEM IMUN berbisik ke Hati. "Aku dilatih untuk melawan. Tapi hari ini aku akan belajar caranya diam dan melepaskan. Terima kasih sudah menjadi keluargaku. Maaf kalau kadang aku terlalu keras. Itu karena aku takut kehilangan kamu". LAMBUNG + USUS mengusap-usap Hati. "Kami minta maaf, karena makanan, karena racun, karena semua yang kami kirimkan ke kamu. Kamu telan semuanya tanpa protes. Sekarang kami janji, kami akan makan lebih baik. Demi kamu yang baru. Supaya pengorbanan besarmu ini, tidak sia-sia". TULANG, KULIT, OTOT, ikut menggumamkan kata terakhir. "Kami berdiri karena kamu. Kami bergerak karena kamu. Dan kami masih hidup, karena kamu". SEMUA ORGAN, BERSAMAAN: "Hati... kamu bukan beban, dan tidak pernah kami anggap sebagai beban. Kamu justru adalah alasan kami masih berada di sini. Kini pergilah. Kami akan terus hidup, dan kami akan hidup dengan lebih baik, untukmu, dan untuk 'Kamu' yang baru". Lampu operasi terasa meredup. Bius anestesi mulai merayap masuk ke pembuluh darah. Dan Hati... ia tersenyum. Hati tersenyum, untuk pertama kalinya, dalam 3 tahun, tanpa rasa sakit.

Murid SD Inpres

SURAT PERPISAHAN HATI LAMA. Di bawah tulang rusuk. Ditulis malam sebelum operasi transplantasi. Dini hari waktu setempat. Teruntuk: Seluruh Organ Tubuh yang Kupanggil Keluarga. Saudara-saudariku... Jika surat ini sampai kepada kalian, berarti aku sudah tidak ada di tempatku. Transplantasi sudah selesai. Dan di tempat yang dulu aku duduki, kini ada Hati baru. Aku tidak tau harus mulai dari mana. Mungkin dari permintaan maaf. Maaf... karena aku lelah lebih dulu. Maaf... karena jaringan parut yang menutupiku, dan itu bukan karena aku tidak berusaha, aku sudah menyaring racun selama puluhan tahun, dan aku masih bisa bertahan. Sampai akhirnya aku sendiri yang mengeras, seperti spons dan kanebo yang kaku. Aku tau kalian takut. Ginjal... aku tau kamu khawatir harus terus menyaring obat seumur hidup. Paru... aku tau kamu cemas di meja operasi nanti. Imun... aku tau kamu bingung harus diam demi organ asing yang baru nanti. Lambung dan Usus... aku tau kalian akan hilang semangat karena hidup kalian akan berubah. Jadi, aku minta maaf. Dan... terima kasih. Terima kasih karena kalian tidak pernah menyalahkanku. Terima kasih sudah menjengukku yang sudah kuning dan bengkak, lemah tidak berdaya. Jantung, terima kasih karena masih memompa darah untukku sampai detik terakhir. Otak, terima kasih karena masih ingat namaku meski racunku membuatmu pusing. Terima kasih semua, sudah membuatku merasa berguna, bahkan saat aku sudah tidak bisa apa-apa.

Murid SD Inpres

(SURAT TERAKHIR HATI: PERMINTAAN FINAL) Aku pergi bukan untuk menyerah. Aku pergi agar kalian bisa melanjutkan hidup. Jaga Hati baru nanti baik-baik. Dia akan asing di awal. Dia akan takut. Tapi dia butuh kalian, dan kalian akan butuh dia. Ajari Hati yang baru cara mencintai tubuh ini seperti aku dulu. Ajari Hati yang baru cara membuat protein saat kalian luka. Ajari Hati yang baru cara menyimpan gula saat kalian lapar. Dan ajari Hati yang baru cara untuk diam dan bersabar saat kalian semua marah. Lalu satu hal lagi... Jangan pernah merasa bersalah karena hidup setelah ini. Minumlah obat itu. Jalanilah diet rutin itu. Datanglah ke tempat cek lab itu. Itu bukan beban. Itu adalah bukti bahwa aku tidak mati sia-sia. Sebab, aku ingin melihat kalian dari jauh. Melihat bagaimana Jantung masih berdetak untuk Hati yang baru. Melihat Otak masih berpikir dan bermimpi 20 tahun ke depan. Melihat Paru masih bisa menghirup udara fajar. Melihat Ginjal masih menyaring hari-hari baru bersama kalian. Aku pergi dengan satu kebanggaan: Aku adalah bagian dari tubuh yang memilih hidup! Dan bukan mati bersama dalam diam. Jagi diri kalian baik-baik ya... Dengan penuh cinta, Hati Lama Kalian, yang sudah selesai bertugas.

Murid SD Inpres

NOTULEN RAPAT DARURAT TUBUH. Tanggal: Hari ke-1095 Sirosis. Tempat: Ruang Rapat Rongga Dada. Agenda: Usulan Darurat Transplantasi Hati. Catatan: Suasana memanas. Beberapa organ tubuh merespon marah. KALIMAT PEMBUKA, OLEH ORGAN OTAK. Berdiri, dengan suara datar, namun tegas: "Rekan-rekan. Data hari ini makin jelas. Hati kita sirosis stadium akhir. F3-F4. Fibrosis sudah 90%. Tanpa transplantasi, estimasi waktu bertahan tinggal 24 minggu. Penyebabnya, gagal hati > ensefalopati > koma. Usulan paling logis, transplantasi orthotopik. Ganti total organ hati". Hening 3 detik. Lalu meledak. GELOMBANG PENOLAKAN - MAYORITAS ORGAN. (1) PROTES DARI ORGAN GINJAL: "Logikanya di mana?! Kau mau kasih aku hati baru, tapi menghadiahiku racun seumur hidup?! Tacrolimus. Cyclosporine. Itu semua obat nefrotoksik! Kau tau apa artinya? Aku bisa potensi gagal di 5 tahun pertama! Sekarang saja aku sudah kerja 200% karena kau sendiri kewalahan menghadapi efek amonia karena hati kita sirosis. Dan sekarang solusimu adalah membebaniku lagi?! Ini yang kau namakan penyelamatan?!" (2) PROTES DARI ORGAN PARU: (bersuara dengan napas tersengal) "Transplantasi hati itu artinya aku harus dibius total minimal 8 jam. Kau serius?! Itu artinya aku harus menggunakan ventilasi mekanik. Risikonya tidak main-main! ARDS, pneumonia, dan infeksi nosokomial naik 300%! Belum lagi potensi diafragmaku tertekan karena cairan radang. Aku yang akan pertama kolaps! Kau mau mendorongku ke jurang bahaya?!"

Murid SD Inpres

(3) PROTES DARI ORGAN LAMBUNG & USUS: "Ckckck... Berarti seumur hidup kami tidak boleh lagi mengkonsumsi makanan tinggi garam, makanan mentah, makanan kurang matang, makanan berlemak, hingga daging merah sekali pun! Kau tau? Obat immunosupresan itu merusak mukosa kami. Dampaknya serius: ulkus, pendarahan, diare kronis. Kau hendak menukar 1 organ dengan menyiksa 8 meter saluran cerna kami setiap hari?!" (4) PROTES DARI SISTEM IMUN: (duduk di pojok dengan tatapan dingin) "Logika paling dasar saja. Aku ini diciptakan untuk menolak segala hal yang asing masuk ke tubuh ini. Dan kau bawa gagasan transplantasi hati? Yang artinya kau ingin aku dilumpuhkan agar tubuh ini tidak memberi penolakan? Oke. Konsekuensinya siap kau tanggung? Infeksi. Sepsis. Kanker pasca transplantasi. Risikonya terlalu berat, nyata, terukur, dan permanen. Serius, kau meminta aku bunuh diri?"

Murid SD Inpres

ORGAN JANTUNG & OTAK MEMPERSUASI. JANTUNG: "Aku mendengar semua argumen kalian. Dan semua kekhawatiran kalian valid, secara statistik. Ginjal, risiko gagal nyaris 60% dalam waktu kurang dari 5 tahun karena obat, itu benar. Paru, risiko pneumonia akut di bulan pertama, benar. Imun, risiko kanker meningkat 3 kali lipat, benar. Lambung dan usus, kualitas hidup kalian berubah drastis, juga benar". Jantung berhenti berbicara sejenak. Memberi jeda. Hanya degupnya yang masih bekerja. Semua masih menyimak dengan saksama. "Tapi...", Jantung meneruskan. "Tapi kalian lupa menghitung 1 variabel: waktu. Tanpa transplantasi, variabelnya bukan 'risiko'. Variabelnya adalah 'pasti'. Pasti enselofati. Pasti gagal ginjal hepatorenal dalam 3 bulan. Pasti varises pecah. Dan pasti... aku juga akan berhenti total karena tidak ada lagi darah bersih yang bisa kupompa kepada kalian". OTAK: "Jadi ini bukan soal nyaman tidak nyaman. Ini soal termodinamika. Sistem kita sedang menuju entropi, chaos total. Sirosis, artinya hati gagal menjalankan detoksifikasi, artinya amonia diproduksi masif ke aku, dan aku akan rusak. Sirosis, artinya tekanan darah naik, darah lalu cari jalan pintas, akhirnya usus pecah. Sirosis, artinya aldosteron kacau, ginjal menahan air, paru tertekan. Kita tidak sedang memilih baik dan buruk. Kita sedang memilih antara 'buruk yang bisa kita kelola', versus 'fatal yang tidak bisa kita cegah selamanya'."

Murid SD Inpres

KEMUDIAN OTAK MENATAP GINJAL: "Ya. Obat itu toksik bagimu. Tapi kita masih bisa monitor GFR tiap bulan. Kita juga bisa ganti obat. Kita juga bisa dialisis jika perlu. Masih ada sekian jalan. Tapi tanpa transplantasi? Tidak ada jalan untukmu juga". KEMUDIAN OTAK MENATAP PARU: "Ya. Infeksi risikonya tinggi. Tapi kita punya antibiotik profilaksis. Kita punya fisioterapi. Kita punya ICU. Tapi tanpa transplantasi? Yang menunggu kita adalah edema paru karena gagal organ hati, dan itu lebih tidak bisa diobati". JANTUNG MENUTUP RAPAT DARURAT: "Aku tidak meminta kalian semua setuju. Tapi aku meminta kalian bertahan. Bertahan 1 tahun pertama yang neraka pasca transplantasi. Bertahan minum 12 butir obat setiap hari. Karena setelah itu... setelah itu semua... ada kemungkinan. Kemungkinan kita bisa lari-lari lagi. Kemungkinan kita bisa melihat dunia 20 tahun lagi. Dan kemungkinan lain-lain lagi. Tanpa transplantasi, tidak ada kemungkinan sama sekali". Hening. Sunyi panjang.

Murid SD Inpres

ORGAN OTAK MEMBERI KALIMAT PAMUNGKAS: "Sekarang... silakan voting. Tidak dengan angkat tangan, tapi dengan keputusan, untuk terus hidup". Ternyata, satu per satu, tidak ada organ tubuh yang mengangkat tangan. Tapi, tidak ada juga yang pergi dari ruang rapat. Akhirnya organ Otak menutup dengan kesimpulan: "Oke. Diterima. Kita pilih prosedur operasi. Transplantasi hati. Mulai hari ini, kita bukan lagi organ-organ individual. Kita, adalah tim pemulihan". Rapat darurat, ditutup.

Murid SD Inpres

Usai rapat darurat itu, mayoritas organ menjenguk Hati, yang sudah terkulai lemas, tidak berdaya, kian menguning, makin membengkak, menahan sakit yang kian tiada terperi. GINJAL (dengan suara gemetar): "Hati... kamu sudah bekerja keras sampai hancur untuk kami. Kami sudah sepakat kamu ditransplantasi. Tapi aku takut. Sangat takut. Kalau hati baru datang, aku harus menyaring Tacrolimus setiap hari. Itu racun. Aku khawatir, di tahun pertama, aku yang akan menyusul jatuh. Lalu siapa yang akan menjaga tubuh ini kalau kamu dan aku tidak ada?" PARU-PARU (dengan mata berembun): "Hati... aku lihat kondisi kamu sekarang, makin kuning, makin bengkak, aku sakit melihatnya. Tapi operasi itu... 8 jam bius total. Risiko infeksi. Risiko cairan radang menekan aku. Aku takut kalau aku gagal di meja operasi, maka usaha kita menyelamatkanmu jadi sia-sia". SISTEM IMUN (dengan mata berkaca-kaca): "Hati... kau adalah keluargaku. Tapi setelah transplantasi, aku harus dibungkam, aku tidak boleh melawan. Itu artinya, mulai dari virus, bakteri, jamur, bisa masuk kapan saja ke tubuh ini. Aku takut, satu infeksi kecil akan membunuh kita semua. Keputusanku logis. Tapi aku juga tidak mau kehilangan kamu". LAMBUNG & USUS (dengan air mata pecah): "Hati... kami tau, kamu sakit karena menahan racun dari makanan kami. Kami merasa bersalah. Tapi hidup setelah ini artinya kita tidak bisa bebas mengkonsumsi makanan lagi. Obat, diet, cek lab. Kami takut kualitas hidup kita turun, lalu kamu merasa bersalah".

Murid SD Inpres

Jantung berdetak pelan, menenangkan semua organ yang bersedih menjenguk Hati. "Aku dengar kalian. Setiap ketakutan kalian valid. Aku sendiri pun mengalami takut yang sama. Tapi keluarga kita, Hati... lihat dia. Dia sudah tidak bisa tertawa lagi. Dia sudah tidak bisa membuat protein untuk menyembuhkan kita lagi. Jika kita tidak melakukan apa-apa, maka dalam beberapa minggu lagi, kita tidak akan pernah bisa berkumpul dan bercengkrama lagi. Kita akan tumbang satu per satu. Dimulai dari organ Otak yang akan kehilangan kemampuan kognitif dan mulai berhalusinasi, lalu aku yang mulai perlahan berhenti, lalu... kalian semua". Jantung kemudian berjalan, dan duduk di sebelah Hati, kemudian menatap seluruh organ yang hadir. "Ginjal... aku berjanji, kita akan jaga fungsi kamu, kita akan cek lab tiap minggu. Paru, kita berjanji akan fisioterapi tiap hari. Imun, kita berjanji akan hidup super bersih. Lambung dan usus, kita berjanji kualitas hidup kita tidak akan menurun kendati variasi asupan makanan kita berubah total. Memang, risikonya nyata. Tapi diam juga sebuah risiko. Risiko yang 100% akan berujung pada akhir hidup kita semua".

Murid SD Inpres

Otak yang mendengar seluruh percakapan tersebut, ikut bersuara: "Kita memilih kesempatan di atas kepastian. Sirosis itu kepastian penurunan. Dan transplantasi itu kesempatan peremajaan kualitas kehidupan. Dan jelas, Hati tidak minta ini. Dia pasti tidak ingin menjadi beban. Tapi dia pantas untuk berhenti menderita. Dan kita wajib untuk terus hidup juga". Ginjal, Paru, Imun, Lambung, Usus, semuanya mendengarkan dengan takzim. Otak melanjutkan: "Kita tidak meninggalkan siapa-siapa. Kalau kita jalan, kita jalan bersama-sama, dengan semua obat, dengan semua takut, dengan semua harapan". Hati, yang mendengar semua percakapan di sekelilingnya, mulai sesenggukan: "Terima kasih... terima kasih karena kalian tidak membenciku. Jika kepergianku bisa memberi kalian waktu hidup lebih lama, aku rela, asal kalian janji jaga hati yang baru dengan baik, seperti kalian sudah menjagaku selama ini hingga aku sampai di penghujung baktiku sekarang". Semua organ tubuh -- dengan bulir air mata bak permata berjatuhan di mana-mana -- segera mendekap, memeluk, mengelus lembut Hati yang selama ini membersamai mereka.

Bahtiar HS

Baca CHD hari ini, salah satu kesimpulannya adalah: "orang miskin dilarang sakit hati". Lalu harus transplan. Sebab untuk bertahan 20 tahun setelahnya perlu dana buat obatnya yg hrs diminum tiap hari setidaknya 1,9M. Atau 7 juta per bulan. Belum makan, minum, rumah, transport, pulsa, baju dll. Kalau HP, jaket, dan sepatu bisa mengharap lungsuran pak mantan :)

Muh Nursalim

Salah abah. Hati itu kalau di sate malah keras. Di rebus ya menjadi keras. nDak tau kenapa begitu. Hati memang hanya lunak ketika masih segar. Atau masih menempel di organ tubuh pemiliknya. Ini mungkin sanepo. "Hati" yang keras. Yang tidak mau menerima nasehat. Yang menghardik pasien. Yang bakhil dan kurang pengertian. Itu semua akibat sudah keluar dari habitatnya. Lalu terpengaruh oleh lingkungan sehingga menjadi keras. Bahkan tak lagi menjadi hati manusia. Berubah menjadi hati serigala. Kejam, bengis, galak dan menyusahkan orang.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

@pak Muh Nursalim.. Bukan hanya karena disate atau direbus, yang membuat hati jadi keras. Hati yang sering dibentak, dan atau "disakiti" memang membuat hati jadi "keras"..

Jo Neka

Anda benar sekali..om Muh.Hati itu kena air dingin luluh.Tapi kena air panas justru mengeras.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Kadang seorang penulis itu tahu mana ejaan yang baku dan mana ejaan yang tidak baku. Tapi ketika kita mengetik, kita tidak menulis kata yang baku melainkan kata yang biasa terucap secara lisan. Sebagai contoh kata "teknik". Yang baku adalah: teknik. Abah pasti tahu itu. Tapi untuk orang senior (baca: tua) seperti Abah, pasti sudah terbiasa mengucapkan dengan lafal: tehnik. Makanya di atas muncul kalimat, "Yakni pengambilan hatinya dilakukan dengan tehnik laparoskopi." Begitu juga kata "transplantasi". Kata itu dalam ucapan sehari-hari sering disingkat menjadi "transplan" yang itu tidak baku. Walhasil kita temukan banyak kata "transplan" di atas, termasuk yang salah ketik menjadi "transplat". Apakah ada lagi? Iya ada lagi. Kata "separuh". Dalam bahasa lisan kita sering melafalkan: "separo". Makanya di atas ada kalimat, "separo hati seorang anak (26 tahun) diberikan kepada ayah (52 tahun)." Terakhir, untuk saltik alias typo dari tulisan di atas ada di kalimat, "Ada obat anti rejeksi -agar hati yang milik orang lain tidak ditolak oleh tuhuh si penerima." Anda sudah tahu di mana kata yang salah ketik dari kalimat itu. ttd, Editor Partikelir

Gianto Kwee

Sudah 20 tahun, apakah muncul obat baru dan lebih baik ? Belum ! Ternyata obat tersebut ditemukan disaat yang tepat juga untuk orang yang tepat sehingga Disway Ada setiap hari, hingga pagi ini ! Mirip dengan "Amlodiphine" Yang diawal ditemukan disebut obat "Penyambung Nyawa" Sampai hari ini tetap "Exist" Walau banyak muncul obat yang lain !

MUHAMMAD RIZKI

mendengar cerita abah dahln iskan jadi inget saat menemani istri menjalani oprasi tumor otak di rscm, pelayanannya luar biasa, walaupun istri saya pasien bpjs, terima kasih untuk para dokter dan perawat yg sudah membantu dan menemani kami selama hampir dua minggu di awal tahun 2025

Mbah Mars

Perkembangan ilmu medis dlm bidang kesehatan pendengaran termasuk yg lambat. Ketika memasuki usia 50an tahun, saya bersaudara (4 orang) mengalami penurunan fungsi pendengaran. Kemampuan mendengar tinggal 60%. Kakek dan ibu kami juga begitu. Jadi ada faktor heriditas. Ketika periksa ke dokter THT hanya diberi solusi memakai alat bantu. Akhirnya saya mengoleksi alat bantu dengar berbagai merk dan harga. ABD tersebut hanya saya pakai dlm acara² tertentu. Misal saat rapat. ABD favorit saya sekarang justru yg harganya murah. Hanya 1,4 juta. Saya beli online. Bentuknya modis seperti headset musik. Yg tdk tahu dikiranya saya baru dengerin musik. Alat yg seharga 13 juta (sepasang 26 juta) justru kurang berfungsi baik. Akhir² ini saya menemukan cara baru lagi utk mengatasi masalah tersebut: Saat rapat penting, saya nyalakan mic perekam Chatgpt di laptop atau hp, maka di layar ditampilkan transkrip suara pembicara. Kabar baiknya: kata dokter, penderita budek itu rata² umurnya panjang. Mungkin krn tdk tahu sedang dirasani jelek orang lain. Jadi hidupnya tentram. Tdk mikir macam². Abah, mohon suatu saat coba diulas tentang kesehatan pendengaran nggih. Atau barangkali para perusuh bisa berbagi ilmu dan pengalaman juga di CHD ini. Matur nuwun

Bahtiar HS

@Mbah Mars, Hanya berbagi pengalaman. Anak sy 2 bulan ini sdg terapi pendengaran. 2 bulan kemarin dia sy pulangkan dari pondok Sarang krn mengeluh gak bs dengar. Cuping telinganya sakit sekali jk dipegang. Didiagnosa dr THT sbg SSHL/Sudden Sensorineural Hearing Loss atau tuli saraf mendadak. Stlh periksa lab pendengaran katanya tdk sampai saraf. Hanya conductive saja. Dikasih obat jalan. Tp msh benging. Setelah itu sempat kami bekam di titik belakang telinga. Juga akupunktur di bbrp titik. Tp blm ada perubahan. Baru ketika kami terapi pijat refleksi ada perbaikan cukup signifikan. Bs mendengar lbh jelas. Terapisnya bilang anak sy mengalami "stroke wajah" yakni sumbatan di pembuluh darah wajah yg manifestasinya bs gangguan mata, telinga, mulut, dan organ2 sekitar wajah. Ada yg "buta" atau "tuli" mendadak spt anak sy. Setelah dipijat di area wajah, cuping dan belakang telinga serta punggung sdh lumayan perkembangannya. Meski msh benging. Tp telinga gak sakit lagi spt sblmnya. Titik sentralnya di daerah pertemuan rahang atas dan bawah, letaknya sekitar depan telinga. Dlm TCM namanya titik Xiaguan. Scr harfiah berarti Gerbang Bawah. Bagian dr Meridian Lambung. Istilah medisnya sendi temporomandibular (TMJ). Stimulasi di Xinguan bs mengatasi gangguan sendi rahang, sakit gigi, nyeri saraf wajah, masalah telinga spt berdenging, penuh, tersumbat dll. Anak sy sdh balik pondok, terapi pijat sendiri sambil mondok krn mau ujian. Mudah2an sgr sembuh biidznillah. Aamiin.

Bahtiar HS

Lanjutan: Penyebabnya SSHL apa masih belum diketahui. Tp rata2 pasien yg datang itu mereka yg suka begadang kelewat batas. Atau scrolling HP kelewat lama. Tiba2 terus "buta" atau "tuli" begitu. Bukan buta tuli total, ya mungkin krn ada sumbatan atau sarafnya terganggu jadi fungsi melihat dan mendengar terganggu. Kalau sumbatan atau apapun itu bs diatasi, mereka bisa melihat dan mendengar kembali. Dokter THT saya bilang golden period utk segera terapi biar bs kembali maksimal 2 bulan. Lebih cepat ditangani lbh baik. Kalau sy browsing, golden periodnya 14 hari. Mungkin khilafiyah itu hanya karena kitab rujukannya beda aja.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

@mbah Mars.. Kalau saya, pendengaran telinga kanan agak berkurang. Tapi penyebabnya jelas. Saya mantan operator morse selama 8 tahun. Hampir semua operator morse yang rutin kena morse kecepatan setinggi, 270 huruf per menit terkena. Kalau yang keceparan lebih rendah, gangguan pendengarannya juga lebih rendah. Tetap disyukuri karena saya hanya 8 tahun. Ada yang 32 tahun di morse karena manusia morse sudah langka.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

@bu Dipa.. Saat muda saya suka makan hati dan ampela ayam. He he.. Setiba di Ambon, tahun 70an, di pasar tidak ada yang jual. Rupanya, kebiasaan di sana, saat itu, hati dan ampela itu, apalagi usus, dibuang. Karena itu, esok harinya, saya di bawain 10 hati dan ampela. Gratis. Tidak mau dibayar. Tapi kira-kira 1 tahun kemudian, hati dan ampela dijual. ## Gara-gara makin banyak pendatang yang kerja di Ambon. Hati-hati.. He he..

MULIYANTO KRISTA

CHDI telat terbit karena admin bangunnya kesiangan, sebab semalam asyik nonton final piala presiden. Selamat buat Persebaya. Selamat buat abah. Kado yang istimewa juga di hari milad 20 tahun hati abah yang baru. Semoga di musim kompetisi ini, PERSEBAYA bisa juara. .. SALAM SATU NYALI WANI !!! ____________________________

Mbah Mars

Mas Olik: Sukses operasi ganti hati. Pak DI: Sukses operasi ganti hati Mas Olik: Sekarang segar dan ganteng. Pak Dahlan: ??? (Sebenarnya belio juga pingin bilang gitu)

Wilwa

@AgusS3. Yang kasihan itu Persib. Nyumbang 5 pemain terbaiknya untuk AFF yang di luar jadual FIFA. Hanya turunkan pemain lapis kedua. Tak heran kalah dari Persebaya yang dapat dikatakan turun dengan pemain Tier 1. Sudah gitu, John Herdman gagal di AFF dan kemarin hari dihajar Vietnam 3-0. Persebaya hanya sumbang 1 pemain, Persib 5 pemain untuk AFF. Sialnya Persib hokinya Persebaya. Wis ngono ae. Ini kata putra saya yang suka sepakbola. :)

Taufik Hidayat

Artikel ini intinya membahas perkebanga teknoloji ganti hati dalam duapuluh tahun terakhir . Memang cepat dan mengasyikkan. Tapi saya juga ingin berbicara mebengai perkembaga teknologi pesawatvterbang Dalam 40 tahun terkair berdasarkan pengalaman pribadi. Tepat 40 tahun lalu, saya pertama kali bekerja di pesawat berbadan lebar fan panjang , yaitu B 747 Klasik. Wah panjang sekali hampir satu lapangan bola penumpangnya hampir 400 orang dan untuk pertama kali pula saya naik pesawat itu. Terbang ke Kaitak vía Changi. Jadi kalau sebelumnya haya pernah terbang dengan pesawat Casa 212 atau HS748 kali ini dengan B747. Lalu 20 tahun kemudian thn 2006, saya ikut diundang peresmian hangar Airbus 379 SIAEC denga tagline First ro Maintain, sementara kalau SIA First to Fly .. dan kemudian menjajal terbang ke berbagai kota Baik Melbourne dan jug París denga pesawat ini . tapi A380 tidak terlalu panjang usianya tidak sampai duapulih tahun akhirnya distop produksinya. Kini lebih banyak A350, B787 yang terbang di seantero buni. Dan di

Jokosp Sp

7 juta per bulan. Kalau sudah 20 tahun beli dan minum obatnya, maka disiplinnya sudah 240 bulan dalam membeli dan mengkonsumsi obatnya. Berapa duwitnya?. Rp 1.680.000.000,- (1,68M). Wah bukan ecek-ecek berarti penyembuhan sakit hati ini ya?. "Bukan sakit hati, itu beda. Yang benar penyakit hati". Kok orang bilang mending sakit hati daripada sakit gigi?. "Itu mah yang bilang orang yang tidak berduwit". Oh........gitu.

Imam Subaweh

Alhamdulillah ...setelah baca tulisan Abah hari ini sy jd lebih paham, poin yg sy tangkap tetap bahwa Hepatitis tidak bisa hilang...hanya bisa tidur, apa mmg seperti itu ya??? Sy ketahuan mengidap hepatitis B kira2 17 tahun lalu, ketika donor darah utk keponakan yg baru lahir. Setelah diambil darah di PMI dan diperiksa saya dipanggil oleh petugas PMI dan diberitau bahwa darah saya tidak bisa di donorkan ke orang lain, saya hanya di suruh ke dokter. Besoknya langsung saya periksa ke Dokter penyakit dalam...disampaikan oleh disampaikan oleh dokter bahwa sesuai hasil tes darah, saya mengidap Hepatitis B. Saya msh ingat betul yg disampaikan dokter pada saat itu, bahwa virus ini masih status carier, artinya ada virus ...tapi tidur. Dokter bilang tergantung Anda...bisa gak tetap menjaga agar tetap tidur si virus itu. Caranya harus HIDUP SEHAT, jangan terlalu capek, jaga pola makan, tidak boleh suka begadang/tidur cukup...intinya HIDUP SEHAT. Dalam perjalanan bbrp tahun kedepannya....sy sering mengalami naik SGPT SGOT, dan tentu efeknya ke badan terasa capek dan drop. Pernah berobat ke Surabaya...dikasih obat...tp sy minumnya jarang2 krn tdk diberi tau bahwa harus diminum tiap hari. Tapi Alhamdulillah...3 tahun terakhir setelah saya sering kontrol ke dokter dan dikasih saran minum obat ATEVIR tiap hari, dari virus yg jumlahnya sangat banyak itu sekarang sdh tinggal di bawah 10, tapi masih terdeteksi bahwa ada virus.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

"TEKNIK KEDOKTERAN" ITU NYATA.. Tulisan CHDI hari ini mengingatkan saya pada peristiwa tahun 1980-an. Anak seorang teman kantor lulus S1 Teknik Kedokteran di Amerika. Sepulang ke Indonesia, ia kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai bidangnya. Akhirnya ia kembali ke Amerika untuk berkarier di sana. Waktu itu saya sempat bertanya-tanya: Memang apa saja produk teknik kedokteran? Tulisan Pak DI memberi jawabannya. Robot bedah dan alat laparoskopi adalah contohnya. Masih banyak lagi: MRI, CT Scan, USG, alat pacu jantung (pacemaker), dan sendi atau katup jantung buatan. Kini saya baru sadar. Teknik kedokteran bukan sekadar membuat alat. Ia adalah titik temu antara rekayasa teknik, elektronika, material, komputasi, dan ilmu kedokteran untuk memperpanjang umur, meningkatkan kualitas hidup. Bahkan menyelamatkan nyawa manusia. Dulu saya heran mengapa lulusan itu memilih kembali ke Amerika. Sekarang saya paham. Di sana, saat itu, ekosistem industrinya memang sudah tersedia. Ilmunya tidak hanya dihargai, tetapi juga benar-benar dibutuhkan.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

KARENA GAYA PEJABAT PERUSAHAAN SINGAPORE.. Tulisan Pak Dahlan yang kemarin. Yaitu info pak Robert Lai tentang perbedaan gaya pejabat perusahaan Hongkong dan Singapore, membuat saya tersenyum. Saya seperti sedang membaca pengalaman sendiri. Selama bertahun-tahun saya justru lebih sering bertemu dengan "anak buah" perusahaan Singapura daripada dengan para bosnya. Karena saya juga "anak buah". Rapat anak buah ini, kami namakan rapat working group. Panjang. Detail. Kadang melelahkan. Semua risiko dibuka. Semua hambatan dibedah. Semua alternatif dicari. Targetnya satu: Saat para bos bertemu, tidak ada lagi kejutan. Begitu para bos duduk bersama, pertemuannya justru singkat. Keputusan tinggal diambil. Yang sulit sudah diselesaikan sebelumnya. Saya merasakan sendiri, pola itu sangat efektif. Bos cukup membahas kebijakan. Anak buah memastikan eksekusinya memungkinkan. Mungkin karena itulah, sampai hari ini saya masih tetap "dipakai" di perusahaan. Peran saya bukan menjadi bintang di ruang rapat, melainkan memastikan tidak ada ranjau yang tersisa ketika para bos mengambil keputusan. Saya jadi percaya, profesional yang baik bukan yang paling sering tampil di depan. Justru yang bekerja paling banyak sebelum lampu rapat dinyalakan.

Nimas Mumtazah

Hadiah terindah 20 tahun Ibu Galuh Banjar setia membersamai Abah Dengan kesabaran dan ketulusan beliau. Doa² indah beliau rumah paling menenangkan bagi Abah dan keluarga. Ibu.. Mohon jaga kesehatan Ibu bahagia semua perempuan bahagia.



Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 20

  • Sugi
    Sugi
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • alasroban
    alasroban
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Sugi
      Sugi
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺