3 Pelajaran Berharga dari Piala Presiden untuk Sepak Bola Indonesia
Erick Thohir (Menteri Pemuda dan Olahraga) bersama Maruarar Sirait (Ketua Steering Committee Piala Presiden) menyerahkan trofi pada kapten Persebaya, Francisco Rivera.-Jonathan Yohvinno-Jonathan Yohvinno
BALI, DISWAY.ID - Perhelatan Piala Presiden 2026 sudah berakhir. Juaranya Anda Sudah Tahu: Persebaya. Banyak kritik dilayangkan pada panitia terkait penyelenggaraan turnamen pramusim ini. Tapi rasanya tidak adil jika kita sekadar membahas soal kritikan itu.
Sebab penyelenggaraan Piala Presiden sejatinya juga memberi banyak pelajaran untuk pengelolaan kompetisi sepak bola Indonesia. Panitia Piala Presiden memberi contoh bahwa kompetisi sepak bola sudah semestinya bukan hanya urusan pertandingan di lapangan. Sepak bola adalah olahraga rakyat. Harus ada dampak langsung maupun tidak langsung bagi masyarakat.
Ada tiga pelajaran berharga dari Piala Presiden yang perlu dicermati. Dua di antaranya bahkan berkaitan dengan hal-hal di luar pertandingan.
1. Pelibatan UMKM Lokal
Hal pertama adalah keberanian menjadikan sepak bola sebagai penggerak ekonomi lokal.
Di setiap kota penyelenggara Piala Presiden, pelaku UMKM diberi ruang untuk berjualan dan memperoleh manfaat ekonomi dari ramainya pertandingan.
Stadion tidak lagi hanya menjadi tempat orang menonton sepak bola, tetapi juga menjadi ruang perputaran ekonomi masyarakat
Dampaknya pun nyata.
Berdasarkan data panitia, penyelenggaraan Piala Presiden 2026 menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp70 miliar. Manfaat itu dirasakan tidak hanya oleh pelaku UMKM, tetapi juga sektor transportasi, hotel dan penginapan, kuliner hingga industri kreatif.
Khusus transaksi UMKM selama turnamen, nilainya mencapai sekitar Rp1,3 miliar. Angka tersebut menunjukkan bahwa sepak bola mampu menjadi penggerak ekonomi rakyat apabila dikelola dengan baik.
View this post on Instagram
Ketua Organizing Committee (OC) Piala Presiden 2026, Tsamara Amany mengatakan, UMKM dibagi menjadi tiga kategori, yaitu UMKM lokal yang sudah cukup dikenal, UMKM yang sedang naik kelas, dan UMKM baru yang sedang berkembang.
"Tiga kategori tersebut menjadi dasar kami dalam memilih UMKM yang terlibat," kata Tsamara Amany di Bali, Jumat, 7 Agustus 2026.
Menariknya, konsep tersebut sebenarnya sudah lebih dulu dijalankan Persebaya.
Dalam setiap pertandingan kandang di Stadion Gelora Bung Tomo, Persebaya bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya untuk melibatkan UMKM di berbagai sektor tribun.
Ratusan pelaku usaha kecil mendapat kesempatan berjualan kepada puluhan ribu penonton yang hadir. Ikon kuliner "lumpia" pun turut dihadirkan Persebaya. Sampai akhirnya makanan itu menjadi kuliner legendaris, bukan sekadar dikenal warga Surabaya, tapi juga suporter luar kota.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: