NU, Islam, dan Diplomasi Dunia
Ahmad Tholabi Kharlie: Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, 27–31 Agustus 2026. Forum tertinggi organisasi ini akan menentukan arah perjuangan NU-dok disway-
Perspektif ini relevan bagi NU. Diplomasi NU tidak perlu meniru diplomasi negara. Jalurnya dapat bergerak melalui ulama, pesantren, akademisi, diaspora, lembaga sosial, organisasi kemanusiaan, dan jejaring lintas agama. Kekuatan tersebut memungkinkan NU berbicara dari ruang masyarakat, tempat kepercayaan sering kali dibangun lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Persoalannya, internasionalisasi tidak cukup diukur dari jumlah forum, kunjungan, atau pertemuan dengan tokoh dunia. Ukuran yang lebih penting adalah gagasan apa yang lahir, jaringan apa yang bertahan, persoalan apa yang dapat dibantu penyelesaiannya, dan seberapa jauh gagasan tersebut masuk dalam percakapan global.
Di sinilah NU membutuhkan lompatan dari global presence menuju global agency.
Gagasan Mendunia
Abad kedua NU membutuhkan agenda global yang lebih terstruktur. Diplomasi NU dapat diarahkan pada tiga ranah yang saling berhubungan: perdamaian, pengetahuan, dan kemanusiaan.
Pertama, diplomasi perdamaian. Pengalaman NU dalam merawat keberagaman dapat menjadi modal dialog lintas agama dan lintas budaya. Dunia membutuhkan ruang komunikasi yang memungkinkan masyarakat berbicara ketika hubungan politik mengalami ketegangan. Jejaring ulama dan organisasi keagamaan dapat memainkan peran tersebut.
Kedua, diplomasi pengetahuan. Di sinilah NU memiliki peluang paling besar. Fikih Peradaban, misalnya, dapat dikembangkan menjadi agenda intelektual yang membahas hubungan agama, negara bangsa, kewargaan, perdamaian, hukum internasional, teknologi, dan kemaslahatan manusia. NU perlu hadir sebagai produsen gagasan, bukan hanya peserta dalam percakapan global.
Ketiga, diplomasi kemanusiaan. Persoalan kemiskinan, pengungsi, perubahan iklim, ketimpangan, pendidikan, dan kelompok rentan membutuhkan jaringan yang melampaui batas negara. Tradisi mashlahah dalam khazanah NU dapat diterjemahkan ke dalam bahasa kemanusiaan universal.
BACA JUGA:Buku Tiga Jilid NU Abad Kedua Karya Gus Hayid Hadir Jelang Muktamar ke-35
Agenda tersebut akan lebih kuat apabila ditopang institusi yang bekerja secara konsisten. PCINU di pelbagai negara dapat dikembangkan sebagai simpul pengetahuan dan diplomasi masyarakat sipil. Perguruan tinggi, pesantren, lembaga riset, dan jaringan filantropi NU dapat dihubungkan dalam satu ekosistem global.
Pada titik ini, tema Muktamar ke-35, “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa”, memperoleh makna yang lebih luas. Kemaslahatan bangsa dapat menemukan salah satu bentuknya melalui kontribusi Indonesia terhadap kemaslahatan dunia.
Tentu, diplomasi global membutuhkan fondasi domestik yang kuat. Kredibilitas internasional tumbuh dari kualitas kehidupan organisasi sendiri, berupa tata kelola yang baik, konsistensi nilai, penguatan pendidikan, keberpihakan kepada kelompok rentan, dan kemampuan mengelola perbedaan secara dewasa. Dunia akan lebih mudah mendengar gagasan NU ketika kehidupan NU sendiri memberikan alasan untuk dipercaya.
Karena itu, Muktamar 2026 layak menghasilkan semacam agenda global NU. Bukan daftar panjang kegiatan internasional, melainkan beberapa prioritas yang jelas, lembaga pelaksana yang kuat, jejaring yang terukur, dan indikator dampak yang dapat dievaluasi.
NU tidak perlu menjadi organisasi yang berbicara tentang semua persoalan dunia. NU perlu menemukan beberapa persoalan yang menjadi kekuatan khasnya dan mengerjakannya secara konsisten.
Karena diplomasi NU bukan tentang seberapa sering NU tampil di panggung internasional. Diplomasi NU adalah tentang apakah pengalaman Islam Indonesia dapat menjadi pengetahuan yang berguna bagi masyarakat dunia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: