Teks Khutbah Jumat 28 Agustus 2026 Kemenag: Mengapa Doa Belum Terkabul?

Kamis 27-08-2026,19:08 WIB
Teks Khutbah Jumat 28 Agustus 2026 Kemenag: Mengapa Doa Belum Terkabul?

Teks khutbah Jumat, 28 Agustus 2026 dari Kementerian Agama (Kemenag) yang bisa menjadi referensi.---Freepik

Bukankah semua itu menunjukkan bahwa sering kali kita meminta sesuatu kepada Allah, tetapi tidak sungguh-sungguh menyiapkan diri untuk menerimanya?

Maka, jangan-jangan yang menjadi penghalang terkabulnya doa bukanlah jauhnya rahmat Allah, melainkan dekatnya kita dengan kebiasaan-kebiasaan yang bertentangan dengan doa-doa kita sendiri.

Inilah yang oleh khatib sebut sebagai "doa-doa yang tersandera oleh perilaku."

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa doa bukanlah sekadar rangkaian kalimat yang diucapkan dengan lisan. Doa adalah cerminan isi hati, arah hidup, sekaligus komitmen untuk memperbaiki diri. Ketika kita memohon rezeki, kita pun harus menjemputnya dengan kerja keras dan kejujuran. Ketika kita memohon kesehatan, kita pun wajib menjaga tubuh yang Allah titipkan. Ketika kita memohon anak-anak yang saleh dan salehah, kita pun harus terlebih dahulu menjadi orang tua yang saleh dan menjadi teladan bagi mereka.

Karena itu, jangan pernah berhenti berdoa. Sebab berdoa adalah ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah Swt. Firman-Nya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

"Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan hina.'" (QS. Ghafir [40]: 60)

Ayat ini menunjukkan bahwa doa bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk ibadah, penghambaan, dan ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya. Akan tetapi, doa yang lahir dari hati yang ikhlas semestinya melahirkan perubahan dalam sikap dan perilaku. Jangan sampai lisan kita meminta petunjuk, sementara langkah kaki justru menjauhi jalan yang lurus. Jangan sampai tangan kita menengadah memohon keberkahan, tetapi tangan yang sama digunakan untuk melakukan kemaksiatan dan kezaliman.

Tentu, selain kita perlu berdoa, kita pun harus lebih memperbanyak Syukur dan Berzikir kepada-Nya. Dalam tradisi tasawuf, para salik—orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah—sering kali mengatakan bahwa semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin sedikit ia sibuk meminta dunia. Bukan karena mereka tidak membutuhkan pertolongan Allah, melainkan karena mereka merasa malu apabila setiap kali berjumpa dengan Tuhannya hanya datang membawa daftar permintaan.

Terdapat sebuah ungkapan yang sangat terkenal:

لَيْسَ الْعَارِفُ مَنْ كَثُرَتْ مَسْأَلَتُهُ، وَإِنَّمَا الْعَارِفُ مَنْ كَثُرَتْ مُشَاهَدَتُهُ

"Orang yang telah mengenal Allah bukanlah orang yang paling banyak meminta, tetapi orang yang paling banyak menghadirkan Allah dalam kesadarannya."

Ungkapan tersebut mencerminkan etos para sufi. Mereka tidak berhenti berdoa, tetapi semakin dekat kepada Allah, semakin banyak waktu mereka diisi dengan tasbih, tahmid, tahlil, dan zikir, hingga permintaan-permintaan pribadi menjadi semakin sedikit. Mereka merasa malu jika hubungan dengan Allah hanya diisi dengan daftar permintaan. Bukan karena kebutuhannya telah hilang, tetapi karena ia yakin Allah telah mengetahui seluruh isi hatinya sebelum lisannya sempat mengucapkannya.

Bukankah Allah sendiri menegaskan dalam firman-Nya:

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait