Canggih! Teknologi AI Kini Bisa Baca Risiko Karhutla 24 Bulan Sebelum Terjadi
Teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) kini dikembangkan untuk membaca potensi dan tingkat risiko Karhutla hingga 24 bulan ke depan, sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan lebih awal.--istimewa
Hotama Technologies berkomitmen menghibahkan teknologi dan sistem AI tersebut agar dapat digunakan untuk kepentingan mitigasi Karhutla.
Namun, tahap selanjutnya membutuhkan kolaborasi terutama terkait ketersediaan, kualitas, serta integrasi data dari berbagai lembaga.
“Teknologinya kami hibahkan. Kami tidak meminta pemerintah membeli sistem ini. Yang kami harapkan adalah kolaborasi dan akses terhadap data yang relevan agar AI dapat bekerja semakin baik dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat,” kata Hajon.
Menurutnya, kolaborasi dapat melibatkan pemerintah daerah, instansi lingkungan hidup, pengelola ekosistem gambut, lembaga kebencanaan, akademisi, komunitas, hingga institusi lain yang memiliki data dan kompetensi terkait Karhutla.
BACA JUGA:Dorong Revolusi Digital, PMB PTKIN 2026 Bekali Guru BK Teknologi AI untuk Konseling Siswa
“Kalimantan Ini Rumah Kami”
Bagi Hajon, keputusan menghibahkan teknologi tersebut berangkat dari keterikatannya sebagai putra daerah dan pengusaha teknologi yang tumbuh dari Kalimantan Barat.
Karhutla menurutnya bukan hanya persoalan lingkungan. Dampaknya dapat menyentuh kesehatan masyarakat, pendidikan, aktivitas ekonomi, transportasi, hingga kualitas hidup masyarakat Kalimantan Barat.
“Kami membangun teknologi dari Kalimantan Barat. Kalau kemampuan yang kami punya bisa digunakan untuk membantu menjaga Kalimantan, saya rasa tidak semuanya harus dihitung sebagai bisnis. Kalimantan ini rumah kami, dan kami ingin teknologi yang kami bangun ikut menjaganya,” ujarnya.
Pertemuan lintas instansi yang telah berlangsung menjadi langkah awal. Tahap berikutnya adalah memperkuat kolaborasi dan integrasi data agar teknologi tersebut dapat diuji, dikembangkan, dan dimanfaatkan sebagai instrumen pendukung mitigasi Karhutla.
Dengan Artificial Intelligence, prediksi risiko hingga 24 bulan, Peat Fire Vulnerability Index, dan integrasi data lintas sektor, pendekatan penanganan Karhutla diharapkan dapat bergerak dari sekadar mengetahui di mana api sedang terjadi, menjadi mengetahui di mana risiko sedang terbentuk dan apa yang dapat dilakukan sebelum api muncul.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: