Al-Hujurat di Tengah Industri Ghibah
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-
BACA JUGA:Bohemian Rhapsody: Seni Menjadi Manusia
Sebuah masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang tidak pernah berbeda pendapat, melainkan masyarakat yang tahu 'kapan harus berbicara dan kapan harus menyerahkan perkara kepada mekanisme yang memang disediakan untuk menemukan kebenaran'.
Kita juga perlu menyadari bahwa orang-orang terpelajar memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar. Ketika seorang akademisi, ahli, atau tokoh publik berbicara di televisi, podcast, maupun YouTube, masyarakat cenderung memberikan bobot yang lebih besar terhadap ucapannya.
Karena itu, semakin tinggi pendidikan seseorang, seharusnya semakin tinggi pula kehati-hatiannya dalam berbicara.
Ilmu pengetahuan seharusnya mengurangi prasangka, bukan memperbanyaknya. Pendidikan seharusnya membuat seseorang lebih teliti membedakan fakta dan dugaan, bukan membuatnya lebih piawai membungkus dugaan menjadi seolah-olah fakta.
Kita tidak sedang mengatakan bahwa perkara ijazah tidak boleh dibicarakan. Boleh. Bahkan masyarakat berhak mengetahui persoalan yang memiliki kepentingan publik.
BACA JUGA:Bangsa yang Memilih Berjalan Bersama
Tetapi jangan sampai 'hak publik untuk tahu berubah menjadi kebiasaan publik untuk menggunjing'.
Jangan sampai kamera menggantikan ruang pengadilan. Jangan sampai podcast menggantikan proses pembuktian. Jangan sampai mikrofon menjadi tempat menjatuhkan vonis. Dan jangan sampai jumlah penonton menjadi ukuran kebenaran.
Sebab pada akhirnya, sebuah perkara hukum tidak membutuhkan ribuan opini untuk selesai. Ia membutuhkan bukti, proses yang adil, dan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Mungkin inilah hikmah yang bisa kita renungkan dari Al-Hujurat ayat 12. Ayat tersebut bukan hanya mengajarkan kita agar tidak bergosip tentang tetangga atau teman.
Ia juga mengajarkan 'etika ketika berbicara tentang kehormatan manusia'.
Kita boleh berbeda pendapat. Kita boleh kritis. Kita boleh mempertanyakan kekuasaan. Kita boleh meminta transparansi.
BACA JUGA:Penundaisme Maximus
Tetapi semua itu harus tetap berada dalam batas kehormatan manusia dan tanggung jawab terhadap kebenaran.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: