Al-Hujurat di Tengah Industri Ghibah
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-
Pertanyaan ini penting karena antara 'mencari kebenaran' dan 'menikmati kontroversi' terdapat jarak yang sangat tipis.
Kebenaran membutuhkan bukti. Kontroversi membutuhkan perhatian.
Kebenaran pada akhirnya harus membawa perkara menuju kepastian. Kontroversi justru bisa hidup dari ketidakpastian. Selama persoalan belum selesai, selama masih ada tuduhan, bantahan, potongan dokumen, pernyataan baru, dan narasi baru, selama itu pula konten dapat diproduksi.
BACA JUGA:At-Takatsur di Negeri Pamer
Maka sebuah perkara yang belum selesai bisa menjadi tambang konten yang hampir tidak ada habisnya.
Yang lebih menarik, masyarakat yang menonton kadang tidak lagi bertanya tentang bukti akhirnya. Mereka justru menikmati siapa yang menang dalam perdebatan.
Siapa yang lebih pandai berbicara. Siapa yang terlihat lebih meyakinkan. Siapa yang memiliki pengikut lebih banyak. Seolah-olah kebenaran ditentukan oleh siapa yang paling ramai ditonton.
Padahal pengadilan tidak bekerja seperti itu.
Pengadilan tidak mengenal sistem siapa yang paling viral. Kebenaran hukum tidak ditentukan oleh jumlah penonton podcast. Tidak pula ditentukan oleh berapa juta kali sebuah video ditonton.
Bukti tidak menjadi lebih benar hanya karena disampaikan oleh orang yang terkenal. Sebaliknya, sebuah pernyataan tidak otomatis menjadi benar hanya karena disampaikan oleh seorang akademisi, profesor, pengacara, atau tokoh yang memiliki banyak pengikut.
BACA JUGA:Berhentilah Memprovokasi Negeri
Karena itu, ada sesuatu yang patut direnungkan dari fenomena ini: mengapa perkara yang seharusnya memiliki jalan menuju penyelesaian justru terus dipelihara sebagai percakapan publik?
Tentu jawabannya bisa beragam. Ada yang memang ingin mencari kebenaran. Ada yang merasa sedang menjalankan fungsi kontrol sosial. Ada pula yang mungkin sedang membela kepentingan tertentu.
Tetapi di luar semua itu terdapat satu kekuatan yang tidak boleh dilupakan: ekonomi perhatian.
Media hidup dari perhatian publik. Podcast hidup dari jumlah penonton. YouTube hidup dari klik dan durasi tontonan. Media sosial hidup dari interaksi. Semakin kontroversial sebuah persoalan, semakin panjang umur sebuah konten.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: