Ketika Manusia Membela Tuhan
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-
BACA JUGA:Al-Waqiah dan Manusia yang Tak Pernah Cukup
Kita boleh berbeda dalam kitab suci, tradisi, simbol, pakaian, upacara, dan hari-hari suci.
Tetapi ada satu hal yang seharusnya tidak boleh berbeda:
hak untuk menjadi manusia.
Ketika seseorang dibunuh karena agamanya, ketika rumah ibadah dibakar karena identitas jamaahnya, atau ketika seseorang dipaksa meninggalkan keyakinannya, yang dilanggar bukan hanya perasaan keagamaan.
Yang dilanggar adalah martabat manusia dan prinsip dasar kebebasan beragama.
Dalam perspektif hak asasi manusia, kebebasan beragama bukan hadiah dari kelompok mayoritas kepada kelompok minoritas. Ia adalah hak yang melekat pada manusia.
BACA JUGA:Drone untuk Peternakan di Indonesia
Karena itu, mayoritas tidak boleh berkata:
"Kami mengizinkan kalian beribadah."
Kalimat itu saja sudah problematik.
Sebab hak bukan sesuatu yang diberikan oleh mayoritas.0;
Hak adalah sesuatu yang harus dihormati oleh semua.
“Lakum dinukum wa liya din”
BACA JUGA:Drone untuk Peternakan di Indonesia
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: