BGN Bakal Siapkan Sistem Belanja Bahan Pangan MBG, Cegah Kickback hingga Permainan Harga
Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menyiapkan sistem belanja bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna membenahi rantai pasok sekaligus mencegah praktik kecurangan dalam pengadaan bahan makanan-Tangkapan Layar TV Parlemen -
JAKARTA, DISWAY.ID - Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menyiapkan sistem belanja bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna membenahi rantai pasok sekaligus mencegah praktik kecurangan dalam pengadaan bahan makanan.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan sistem tersebut akan mengadopsi konsep Sistem Informasi Pengadaan Sekolah (SIPLah) yang digunakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Menurut Sudaryono, sistem itu diharapkan dapat membuat proses belanja lebih transparan sehingga dapat mencegah praktik seperti permintaan kickback, permainan harga, hingga pembelian bahan dengan kualitas rendah tetapi dilaporkan sebagai bahan berkualitas tinggi.
BACA JUGA:Keren! Program Beasiswa YES Sinjai Dompet Dhuafa Sulsel Sabet Gold Award InTechSEA 2026
"Jadi belanjanya itu menggunakan sistem sehingga tidak ada lagi hanky-panky, tidak ada lagi minta kickback, tidak ada lagi beli kualitasnya jelek tapi diaku tinggi, diaku bagus supaya dia ambil untung dan lain sebagainya," kata Sudaryono dalam rapat dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis, 17 September 2026.
Sudaryono mengatakan BGN masih mengkaji sistem tersebut dan membutuhkan waktu sekitar tiga minggu hingga satu bulan untuk mematangkannya.
Dalam sistem tersebut, BGN akan memprioritaskan pengadaan tujuh komoditas bahan pangan.
Ketujuh komoditas itu yakni beras, minyak goreng, ayam, telur, daging, ikan, dan susu.
Sudaryono menegaskan beras yang digunakan tidak boleh berasal dari program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Begitu pula minyak goreng yang digunakan tidak boleh menggunakan MinyaKita.
BACA JUGA:Target Baru Energi Indonesia! Prabowo Minta DEN Susun Langkah Percepatan BBM E20 dan E50
Sementara itu, ayam, telur, daging, ikan, dan susu mendapat perhatian khusus karena merupakan sumber protein hewani yang membutuhkan penanganan dan standar kualitas tertentu.
"Kenapa sih ini menjadi penting? Karena protein hewani ini harus special handling. Kalau menanganinya enggak benar ini menyebabkan gangguan kesehatan dan target kita untuk mencapai gizi yang baik ini kemudian tidak tercapai," ujarnya.
Sudaryono mencontohkan standar ayam fresh yang dapat memiliki tafsir berbeda apabila tidak ditetapkan secara jelas.
Menurutnya, sistem diperlukan agar standar kualitas bahan yang diterima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat seragam.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: