Prabowo: Demokrasi Bisa Dibajak dan Dibeli, Buzzer hingga Robot Jadi Sorotan
Presiden Prabowo Subianto mengingatkan adanya potensi ancaman terhadap demokrasi Indonesia dari kelompok yang memiliki kekuatan ekonomi besar dan memanfaatkan uang serta propaganda digital-Tangkapan Layar YouTube-
JAKARTA, DISWAY.ID - Presiden Prabowo Subianto mengingatkan adanya potensi ancaman terhadap demokrasi Indonesia dari kelompok yang memiliki kekuatan ekonomi besar dan memanfaatkan uang serta propaganda digital.
Prabowo menyampaikan hal tersebut dalam pidatonya pada peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN), Jumat, 18 September 2026.
"Kita harus hati-hati bahwa demokrasi bisa dibajak, demokrasi bisa dibeli, mereka-mereka yang punya kekuatan ekonomi besar, mereka-mereka yang punya uang banyak, dan terutama mereka-mereka yang uanganya didapat dengan cara yang tidak halal alias mereka, mereka mau, membajak demokrasi kita," kata Prabowo.
BACA JUGA:Prabowo Kutip Al-Baqarah 191 Saat Singgung Pakar: Fitnah Itu Lebih Kejam dari Pembunuhan
Ia membeberkan ancaman nyata ketika kekuatan ekonomi besar berupaya memengaruhi instrumen penegakan hukum hingga lembaga pimpinan negara.
"Mereka mau menyogok tokoh-tokoh politik kita, mereka mau beli nyogok hakim, nyogok jaksa, nyogok jenderal, nyogok menteri, mereka mau nyogok presiden, dengan uang mereka," imbuhnya.
Tak hanya melalui money politics atau suap secara langsung, Prabowo menyoroti bentuk manipulasi modern berbasis teknologi digital.
Ia menyebut penggunaan algoritma, buzzer, hingga akun robot untuk merusak pola pikir masyarakat serta menyebarkan fitnah.
Namun, ia bersyukur masyarakat Indonesia tak terpengaruh dengan adanya buzzer itu.
BACA JUGA:Prabowo Puji Kesetiaan PAN: Kawan di Saat Kalah Sulit Dicari
"Dengan uang, mereka memelihara algoritma pakai buzzer-buzzer, robot-robot. Anak-anak kita, bapak-bapak kita, rakyat kita dirusak, coba mereka pengaruhi dengan fitnah. Alhamdulillah, rakyat kita tidak bodoh," tegasnya.
Lebih lanjut, Prabowo menilai ancaman penyelewengan informasi melalui media sosial ini sebagai bentuk perang era modern (asymmetric warfare) yang tengah dihadapi oleh banyak negara di dunia.
"Perang sekarang tidak perlu dengan kirim pasukan banyak. Pertama, dia rusak dengan socmed-socmed yang enggak benar," pungkas Prabowo.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: