Streamlining BUMN Dinilai Bisa Tingkatkan Efisiensi dan Daya Saing Perusahaan Negara
Ekonom Senior Prasasti Center, Piter [email protected]
JAKARTA, DISWAY.ID - Langkah pemerintah bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) melakukan streamlining atau penyederhanaan struktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki kinerja perusahaan negara.
Ekonom Senior Prasasti Center Piter Abdullah menilai penataan tersebut diperlukan untuk mendorong efisiensi sekaligus memperkuat profesionalisme dan daya saing BUMN.
“Saya kira itu sebuah upaya yang bagus dan memang sudah seharusnya dalam rangka untuk kita meningkatkan daya saing, meningkatkan efisiensi dari BUMN kita,” ujar Piter di Jakarta, Senin, 21 September 2026.
Menurut Piter, salah satu persoalan yang selama ini dihadapi BUMN berkaitan dengan besarnya jumlah perusahaan serta luasnya bidang usaha yang digeluti. Kondisi tersebut dinilai turut memengaruhi ruang bagi sektor swasta untuk berkembang karena terdapat sejumlah bidang usaha yang juga dijalankan perusahaan negara.
Ia menjelaskan, pada masa lalu ekspansi BUMN berkembang dari sektor hulu hingga hilir. Dalam sejumlah kasus, perusahaan negara bahkan memiliki anak dan cucu perusahaan yang bidang usahanya dinilai tidak memiliki keterkaitan erat dengan bisnis inti perusahaan induk.
“Misalnya ada BUMN yang anak-anak cucu-cucunya itu bergerak di bidang yang sama sekali jauh dari nenek-neneknya itu. Bahkan misalnya untuk persewaan mobil saja si BUMN menciptakan anak cucunya. Nah ini kan menghabisi dari sisi kesempatan private,” ucap dia.
Soroti Daya Saing BUMN
Piter menilai struktur perusahaan yang terlalu berlapis dapat memberikan dampak terhadap kemampuan BUMN dalam membangun daya saing. Hubungan bisnis yang terbentuk di dalam satu kelompok perusahaan, menurut dia, berpotensi membuat perusahaan negara kurang terbiasa menghadapi kompetisi secara terbuka.
“Dengan demikian itu BUMN itu sendiri tidak terbangun untuk meningkatkan daya saingnya mereka. Sudah terbiasa dimanjakan oleh hubungan-hubungan antara anak cucu tadi,” ungkap Piter.
Dampaknya, menurut Piter, dapat terlihat ketika perusahaan Indonesia harus berhadapan dengan kompetitor di pasar internasional. Ia menilai belum banyak perusahaan asal Indonesia yang memiliki kiprah kuat di pasar global.
Selain efisiensi dan daya saing, Piter melihat penyederhanaan struktur BUMN juga dapat berkaitan dengan upaya mengurangi potensi penyalahgunaan hubungan antarbadan usaha.
Ia menyoroti pentingnya hubungan bisnis antarkorporasi BUMN dibangun berdasarkan kemampuan, kompetensi dan prinsip meritokrasi. Menurutnya, pola hubungan yang tidak didasarkan pada prinsip tersebut dapat membuka ruang bagi moral hazard.
“Hubungan yang dibangun dengan pola yang tidak didasarkan kepada meritokrasi, kemampuan, daya saing itu kecendungannya sering bisa terjadi moral hazard atau bahkan terjadi hal-hal yang merugikan bagi BUMN itu sendiri,” sambung Piter.
Profesionalisme Jadi Perhatian
Piter juga mengaitkan agenda streamlining dengan pentingnya profesionalisme dalam pengisian jabatan di perusahaan negara. Ia menilai penyederhanaan struktur harus berjalan bersamaan dengan proses penempatan sumber daya manusia berdasarkan kapasitas dan kompetensi.
“Karena program ini akan menutup celah-celah untuk membuka kesempatan sebanyak-banyaknya untuk politik balas budi. Nah kalau kita konsisten berarti tidak ada tempat untuk politik balas budi,” lanjut Piter.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: