Allah Sudah Menunjukkan Tanda, Manusia Malah Sibuk Menjadi Tuhan

Allah Sudah Menunjukkan Tanda, Manusia Malah Sibuk Menjadi Tuhan

Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-

ADA sesuatu yang menarik dari Surat An-Naba’. Ketika berbicara tentang kebesaran Allah, Al-Qur’an tidak buru-buru membawa manusia ke tempat yang jauh. Ia justru menyuruh kita melihat sesuatu yang setiap hari berada di depan mata: bumi yang terhampar, gunung yang kokoh, manusia yang berpasangan, tidur yang menjadi istirahat, malam dan siang yang bergantian, langit, matahari, hujan, dan tumbuh-tumbuhan.

Seolah-olah ada pesan sederhana: kalau ingin mengenal kekuasaan Allah, bukalah mata sebelum membuka mulut.

Sebab tanda-tanda kekuasaan Allah sebenarnya terlalu banyak untuk dihitung. Masalahnya bukan Allah kekurangan tanda. Masalahnya manusia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.

BACA JUGA:Ketika Manusia Membela Tuhan

Kita hidup pada zaman ketika hampir semua orang ingin menjadi pusat perhatian. Telepon genggam berada di tangan, kamera menghadap wajah, media sosial menjadi panggung, dan kehidupan pribadi dipertontonkan seperti sebuah pertunjukan. Orang makan difoto. Pergi difoto. Bertemu pejabat difoto. Naik pesawat difoto. Bahkan ketika beribadah pun kadang kamera ikut hadir lebih dahulu daripada kekhusyukan.

Kita seperti hidup dalam sebuah dunia yang membuat manusia sibuk membuktikan bahwa dirinya ada.

Padahal sebelum manusia memotret dirinya, Allah sudah lebih dahulu menciptakan wajahnya.

Sebelum manusia mengunggah kehidupan, Allah sudah menyediakan kehidupan itu sendiri.

Sebelum manusia memperoleh ribuan pengikut, ia sudah lebih dahulu menjadi bagian dari ciptaan-Nya.

Di sinilah Surat An-Naba’ terasa seperti teguran yang sangat halus sekaligus sangat keras.

Allah menunjukkan bumi, gunung, langit, matahari dan hujan. Bukan karena semua itu membutuhkan pengakuan kita. Alam tidak membutuhkan likes. Gunung tidak membutuhkan komentar. Matahari tidak membutuhkan followers. Hujan tidak pernah bertanya apakah kedatangannya akan menjadi konten yang viral.

Alam bekerja, Manusia yang ribut.

Gunung diam tetapi kokoh. Manusia banyak bicara tetapi sering rapuh oleh kritik.

Pohon tumbuh tanpa membuat pengumuman. Manusia baru melakukan sedikit kebaikan sudah ingin seluruh dunia mengetahuinya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: