Menata Kampus PTKI di Era Kecerdasan Buatan

Menata Kampus PTKI di Era Kecerdasan Buatan

Ahmad Tholabi Kharlie - Guru Besar dan Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kementerian Agama dan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) menghadapi persoalan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan akademik, yakni: bagaimana maha-dok disway-

JAKARTA, DISWAY.ID - Kementerian Agama mulai menata tata kelola generative AI di lingkungan PTKI. Selasa, 8 September 2026, Kementerian Agama menggelar rapat koordinasi penyusunan pedoman tersebut di Jakarta.

Sehari kemudian, dari belahan dunia lain, seorang periset muda bernama Jacob Coxon mengundurkan diri dari Anthropic dan menyampaikan peringatan yang dalam hitungan jam ditonton puluhan juta kali.

Ia menyebut perlombaan pengembangan AI sebagai tindakan yang “gambling with our lives”, berjudi dengan kehidupan manusia.

Dua peristiwa itu berlangsung dalam skala yang berbeda. Coxon berbicara tentang kemungkinan berkembangnya kecerdasan buatan menuju sistem yang mampu mempercepat pengembangan dirinya sendiri, dengan risiko yang menurutnya dapat melampaui kemampuan manusia untuk mengendalikannya.

Kementerian Agama dan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) menghadapi persoalan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan akademik, yakni: bagaimana mahasiswa menggunakan AI, bagaimana dosen memverifikasi keluarannya, bagaimana peneliti menjaga integritas data, dan bagaimana perguruan tinggi memastikan teknologi tidak menggerus tanggung jawab akademik.

BACA JUGA:ShopeePay Bersama Bank Indonesia Dorong Manfaat Penggunaan QRIS bagi Pengguna dan Pengusaha UMKM

Keduanya tidak perlu dipersamakan untuk menemukan pelajaran penting. Sejatinya ada satu prinsip yang mempertemukan keduanya, yakni: semakin besar kemampuan teknologi, semakin dini manusia perlu menetapkan batas, membangun pengawasan, dan memastikan siapa yang bertanggung jawab atas penggunaannya.

Peringatan Teknologi

Coxon bukan pengamat yang melihat perkembangan AI dari luar laboratorium. Matematikawan lulusan Cambridge ini selama beberapa tahun bekerja dalam riset pretraining di OpenAI dan kemudian Anthropic.

Keputusannya meninggalkan industri AI pada usia 27 tahun menarik perhatian karena peringatannya datang dari seseorang yang mengalami langsung bagaimana kemampuan model AI dikembangkan.

Kegelisahannya terutama tertuju pada kemungkinan munculnya AI yang semakin mampu membantu melakukan penelitian AI itu sendiri. Jika kemampuan tersebut berkembang cepat dan menciptakan siklus perbaikan yang semakin singkat, manusia dapat menghadapi perubahan yang jauh lebih cepat daripada kemampuan institusi untuk memahami dan mengaturnya.

Pandangan Coxon tentu bukan konsensus ilmiah. Perdebatan mengenai kemungkinan intelligence explosion, waktu kemunculannya, dan besarnya risiko masih berlangsung.

Ada peneliti dan eksekutif industri yang memandang skenario tersebut terlalu dini atau terlalu spekulatif. Karena itu, pernyataan Coxon lebih tepat dibaca sebagai peringatan serius, bukan ramalan yang telah terbukti.

Justru di titik itulah relevansinya bagi perguruan tinggi. Tata kelola yang baik tidak selalu menunggu risiko menjadi kenyataan. Ketika sebuah teknologi berkembang cepat, sementara dampaknya belum sepenuhnya dapat dipetakan, institusi perlu membangun pagar pengaman sejak awal.

Prinsip kehati-hatian bukan berarti menolak teknologi. Ia memastikan inovasi tetap bergerak dalam koridor tanggung jawab.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: