Sibuk Menoleh, Lupa Melangkah

Sibuk Menoleh, Lupa Melangkah

Sibuk Menoleh, Lupa Melangkah (Ilustrasi mengandung AI)--

Kita boleh berbeda pilihan politik, tetapi jangan sampai kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Kita boleh tidak menyukai seorang tokoh, tetapi ketidaksukaan bukanlah bukti kesalahan.

BACA JUGA:Saya Tidak Lulus SMA (Seri 3)

Kita boleh mengkritik Jokowi, Prabowo, atau siapa pun yang memegang kekuasaan, tetapi ukuran kritik seharusnya tetap sama: fakta, argumentasi, etika, dan kepentingan publik.

Jangan sampai akal sehat ikut terabaikan hanya karena calon yang kita dukung tidak menang.

Selesai Satu Urusan, Mulailah Urusan Berikutnya

Pesan fa iżā faragta fanṣab bukanlah ajakan untuk menjadi manusia yang terus bekerja tanpa jeda. Ia mengingatkan agar setelah menyelesaikan satu urusan, kita mengarahkan kesungguhan kepada urusan lain yang bermanfaat.

Ada semangat keberlanjutan di dalamnya: jangan berhenti pada satu pencapaian, jangan pula terperangkap dalam satu kegagalan.

BACA JUGA:Ketika Imam Menjadi Diplomat Perdamaian

Bagi mereka yang kalah dalam Pilpres, masih ada kesempatan mengabdi melalui pendidikan politik, kegiatan sosial, pengawasan kebijakan, dan persiapan menghadapi kontestasi berikutnya.

Bagi mereka yang menang, masih ada janji yang harus ditunaikan dan persoalan rakyat yang harus diselesaikan. Bagi masyarakat, masih ada tanggung jawab menjaga akal sehat dan merawat kehidupan bersama.

Sementara itu, ayat ke-8 mengingatkan, wa ilā rabbika fargab—dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.

Di sinilah pekerjaan dan harapan memperoleh arah moralnya. Kita bekerja bukan semata-mata untuk membuktikan bahwa lawan salah. Kita berjuang bukan sekadar untuk memperoleh tepuk tangan atau memenangkan perdebatan.

Ada tanggung jawab yang lebih tinggi daripada kepuasan menaklukkan orang lain: tanggung jawab terhadap kebenaran, kemanusiaan, dan keridaan Allah SWT.

BACA JUGA:Saya Tidak Lulus SMA (Seri 2)

Dalam perspektif spiritual, seseorang mungkin berhasil memenangkan perdebatan, tetapi gagal mengendalikan egonya. Ia bisa hafal kesalahan orang lain, tetapi lupa memeriksa dirinya sendiri.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait