Sibuk Menoleh, Lupa Melangkah

Sibuk Menoleh, Lupa Melangkah

Sibuk Menoleh, Lupa Melangkah (Ilustrasi mengandung AI)--

Betapa banyak gagasan yang mungkin lahir. Betapa banyak persoalan masyarakat yang bisa memperoleh jalan keluar.

Sayangnya, membangun sekolah memang tidak semudah membangun dugaan. Membantu orang miskin tidak selalu menghasilkan perhatian secepat menyampaikan tuduhan.

Memperbaiki pelayanan publik membutuhkan kerja panjang, sementara memicu kegaduhan kadang cukup dengan satu unggahan dan beberapa kalimat yang belum tentu terverifikasi.

BACA JUGA:Mirasantika: Kenikmatan yang Menagih Masa Depan

Maka, jangan heran jika kebisingan sesekali lebih laku daripada kebijaksanaan. Dalam ekonomi perhatian, pernyataan yang paling ramai dapat lebih cepat dikenal daripada kerja yang paling bermanfaat.

Kekalahan Politik Bukan Akhir Kehidupan

Kalah dalam kontestasi politik bukanlah aib. Dalam demokrasi, kemenangan dan kekalahan merupakan bagian dari mekanisme pergantian kekuasaan.

Hari ini seseorang menang, pada kesempatan lain ia mungkin kalah. Itulah konsekuensi dari kompetisi yang melibatkan pilihan rakyat.

Yang perlu dipertanyakan bukan semata-mata mengapa seseorang kalah, melainkan apa yang ia lakukan setelah kekalahan itu.

Apakah ia melakukan evaluasi? Memperbaiki organisasi? Menyiapkan gagasan yang lebih baik? Mendengarkan kembali suara masyarakat? Atau justru menghabiskan waktu untuk terus menelusuri kesalahan lawan, berharap kekalahan dapat berubah melalui pengulangan perdebatan?

BACA JUGA:Saya Tidak Lulus SMA (Seri 4-Habis)

Dalam politik, menerima hasil bukan berarti menyerah pada ketidakadilan. Jika terdapat bukti pelanggaran, ada jalur hukum dan mekanisme konstitusional yang harus ditempuh.

Namun, ketika proses yang sah telah memberikan keputusan, kedewasaan politik menuntut kita untuk bergerak maju sambil tetap menjalankan fungsi pengawasan secara proporsional.

Sebab, bangsa tidak bisa terus-menerus hidup dalam suasana kampanye. Rakyat tidak bisa setiap hari dipaksa memilih antara dua kubu yang saling mencurigai. Ada kehidupan nyata yang harus dijalani, ada keluarga yang harus dinafkahi, ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Rakyat membutuhkan pemimpin dan warga negara yang mampu mengubah persaingan menjadi gagasan, bukan mengubah perbedaan menjadi permusuhan berkepanjangan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait