Sibuk Menoleh, Lupa Melangkah
Sibuk Menoleh, Lupa Melangkah (Ilustrasi mengandung AI)--
Ia begitu rajin mencari kekurangan lawan, sampai tidak sempat menghitung amal baik yang belum dikerjakannya.
Padahal, sebelum sibuk mengoreksi kehidupan orang lain, ada baiknya kita bertanya: apa yang sudah saya perbaiki dalam kehidupan sendiri? Sebelum menuntut orang lain memberikan penjelasan, sudahkah saya memastikan bahwa pertanyaan dan penilaian saya berdiri di atas pengetahuan yang benar?
Barangkali pertanyaan-pertanyaan sederhana itu lebih berat daripada berdebat berjam-jam di media sosial.
Sebab, mengoreksi orang lain sering kali memberi kita rasa unggul. Mengoreksi diri sendiri menuntut kerendahan hati.
BACA JUGA:Judi: Menang yang Kalah
Jangan Sampai Masa Lalu Mencuri Masa Depan
Pada akhirnya, move on bukan berarti melupakan seluruh masa lalu. Ia berarti menempatkan masa lalu secara proporsional: sebagai pengalaman, pelajaran, dan bahan evaluasi, bukan sebagai rumah permanen bagi kemarahan.
Kita tetap boleh membicarakan ijazah jika ada fakta dan kepentingan publik yang perlu diperiksa. Kita tetap boleh mengkritik Jokowi atau siapa pun yang pernah dan sedang berkuasa. Kita tetap wajib mengawasi pemerintah yang sedang bekerja.
Tetapi semua itu harus dilakukan dengan niat mencari kejelasan dan memperbaiki keadaan, bukan sekadar mempertahankan prasangka atau memperpanjang pertentangan.
Jangan sampai kita begitu sibuk mengurus halaman belakang kehidupan politik, sampai lupa bahwa halaman depan bangsa ini masih membutuhkan banyak pembenahan.
BACA JUGA:Rahasia Disneyland bukan Istana dan Wahana, Ada 8 mesin di Balik Keajaibannya
Al-Qur’an mengajarkan kita untuk melanjutkan amal setelah satu urusan selesai. Bukan terus-menerus mengunyah kekecewaan, melainkan mengubah kekecewaan menjadi pelajaran.
Bukan memelihara kekalahan, melainkan menemukan cara untuk menjadi lebih baik. Bukan menggantungkan seluruh harapan pada kemenangan politik, melainkan menjadikan pengabdian sebagai jalan untuk memberi manfaat.
Sebab, politik memang penting, tetapi kehidupan jauh lebih luas daripada politik. Kekuasaan bisa berganti, jabatan bisa berakhir, dan tokoh yang hari ini menjadi pusat perhatian suatu hari akan menjadi bagian dari catatan sejarah.
Yang tersisa adalah apa yang telah kita kerjakan untuk sesama.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: