Mengapa IHSG Kembali Terpuruk di Pembukaan Rabu? Ini Pemicunya

Rabu 04-11-2026,09:53 WIB
Mengapa IHSG Kembali Terpuruk di Pembukaan Rabu? Ini Pemicunya

Pergerakan harga saham dalam IHSG-ist-

JAKARTA, DISWAY.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali membuka perdagangan Rabu (4/11/2026) di zona merah. Setelah sehari sebelumnya anjlok tajam, tekanan jual masih belum mereda.

Berdasarkan pantauan Disway, IHSG dibuka melemah 51,88 poin atau 1,06 persen ke level 4.852,41. Senada, indeks LQ45 turun 2,03 poin (0,41 persen) ke level 495,23.

Pelemahan ini melanjutkan tren negatif sehari sebelumnya. Pada Selasa (3/11), IHSG ditutup terperosok 192,54 poin atau 3,78 persen ke level 4.904,29. LQ45 ikut ambruk 20,62 poin (3,98 persen) ke 497,27.

BACA JUGA:Harga Emas Antam Hari ini 4 November 2026 Terpantau Turun Tipis Rp4.000 Per Gram, Cek Rinciannya!

Data BRI Danareksa Sekuritas mencatat, tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor, terutama basic materials (-5,69 persen) dan real estate (-5,16 persen).

Tekanan terbesar terjadi pada BBRI (Rp310,06 miliar), disusul ANTM (Rp94,10 miliar), BUMI (Rp64,07 miliar), dan TPIA (Rp62,39 miliar).

"Aksi jual asing masih mendominasi pada sesi II, dengan foreign sell Rp4,33 triliun berbanding foreign buy Rp3,57 triliun, sehingga mencatatkan net sell Rp759,98 miliar," tulis BRI Danareksa.

Selain aksi jual asing, pasar juga mencermati sentimen MSCI menjelang Index Review pada 11–12 November.

Kekhawatiran terhadap potensi perubahan bobot dan arus keluar dana asing menjadi penekan utama.

Meski demikian, sejumlah data domestik sebenarnya menjadi penyeimbang. Inflasi Oktober melandai ke 3,23 persen (year on year) dan surplus perdagangan September sebesar USD3,36 miliar. Namun, sentimen ini belum cukup meredam tekanan pasar.

BACA JUGA:Buruan Cek! KJP dan KJMU Cair Hari Ini, Total Terdapat 36.295 Penerima

Breakdown Support 4.962

Secara teknikal, IHSG mengalami breakdown setelah menembus support 4.962 dan membentuk bearish candle dengan posisi penutupan dekat level terendah harian.

Pasar juga akan menantikan rilis data tenaga kerja dan aktivitas ekonomi AS sepanjang pekan ini, serta hasil Pemilu Sela AS yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan pemerintahan Trump.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: