Ia kemudian memperkenalkan Muhammad Ryan Firmansyah, pemilik Putra Jakarta Farm, yang berada di lokasi untuk menjaga kondisi ternaknya.
Dengan santai, Ryan memaparkan persoalan yang tengah dihadapi para peternak.
BACA JUGA: Dinamika Pasal-pasal KUHAP-KUHP Baru, Awas Jebakan Batman!
BACA JUGA: KUHP-KUHAP Baru, Wajah Baru Hukum Indonesia di Tepi Jurang
Menurutnya, ketidakstabilan pasokan daging sapi bukanlah masalah yang muncul secara tiba-tiba.
Karena permasalahannya justru berada jauh di hulu, terutama pada krisis bibit sapi.
“Masalah utamanya ada di bakalan. Stok bibit makin terbatas, peternak jadi serba bingung mau mengembangkan ternak dari mana,” kata Ryan, Minggu, 1 Februari 2026.
Ia menjelaskan, dalam lima tahun terakhir sektor peternakan sapi terus dibayangi wabah penyakit.
Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Penyakit Kulit Lumpy (LSD), hingga Septicemia Epizootica (SE) menjadi ancaman serius, khususnya bagi sapi betina produktif.
BACA JUGA: PPN 12%, Antara Target Negara dan Ujian Keadilan Kehidupan Rakyat
BACA JUGA: PPN 12% Bukan Sekadar Angka: Rakyat Menjerit, Industri Tercekik
Dampaknya tidak main-main, mulai dari kegagalan bunting hingga kematian janin.
“Kalau sapi betina sudah kena penyakit, risikonya besar. Bisa keguguran, bahkan anak mati di dalam kandungan,” ujarnya.
Kondisi tersebut menyebabkan jumlah pedet atau anak sapi yang seharusnya menjadi stok masa depan semakin berkurang.
Imbasnya baru benar-benar terasa saat permintaan pasar meningkat, seperti menjelang Ramadhan.
Masalah peternak tidak berhenti di situ.