Lonjakan biaya produksi turut memperparah keadaan.
BACA JUGA:PPN 12% Bikin Susah! Boro-Boro Beli HP atau Mobil, Rp100 Ribu Sehari Gak Cukup
BACA JUGA:Pilihan Childfree Gen Z dan Upaya Pemerintah Menjawab Kecemasan Anak Muda
Ryan menyebut kenaikan harga BBM berdampak langsung pada ongkos pakan, terutama jerami yang harus didatangkan dari luar daerah.
“Sekarang satu truk jerami dari Jonggol bisa sampai Rp2 juta. Padahal sebelumnya sekitar Rp1,5 juta,” ungkapnya.
Selain jerami, peternak juga wajib menyediakan konsentrat sebagai pakan penguat.
Ketika biaya transportasi naik, perhitungan biaya produksi per kilogram daging pun ikut terdongkrak.
Distribusi sapi hidup juga menjadi tantangan tersendiri.
BACA JUGA:Tren Childfree Meningkat, Isyarat Awal Tantangan Ekonomi
BACA JUGA:Gen Z dan Pilihan Childfree: Antara Realitas Hidup dan Finansial
Ryan memilih mendatangkan sapi dari Lampung karena dinilai lebih aman dari sisi kesehatan ternak.
Namun, ongkos pengiriman kini jauh lebih mahal.
“Dulu satu Fuso dari Lampung ke Jakarta sekitar Rp4,5 sampai Rp5 juta. Sekarang bisa tembus Rp6–7 juta,” jelasnya.
Dengan kapasitas angkut sekitar 20 ekor sapi per truk, kenaikan ongkos tersebut otomatis menaikkan harga sapi di tingkat peternak.
Di sisi lain, Ryan menilai populasi sapi nasional sebenarnya tidak sepenuhnya menurun.
BACA JUGA:Pinjol Berujung Teror! Debt Collector Disorot, OJK Ungkap Lonjakan Pembiayaan 23,86 Persen