BACA JUGA:Di Balik Mudahnya Pinjol: Kesehatan Mental Terancam, Perlindungan Ekonomi Dipertanyakan
Namun terjadi pergeseran orientasi usaha.
Banyak peternak kini lebih fokus pada penggemukan sapi untuk kebutuhan hewan kurban, yang dinilai lebih menguntungkan dibandingkan pasar daging harian.
“Pasar kurban marginnya jauh lebih besar. Akhirnya sapi untuk potong harian jadi berkurang,” katanya.
Kondisi ini membuat sapi lokal semakin sulit bersaing dengan sapi impor.
Menurut Ryan, persoalan kembali bermuara pada sistem pembibitan.
BACA JUGA:Pinjol, Pedang Bermata Dua: Dari Solusi Instan ke Jerat Utang Tanpa Akhir
BACA JUGA:Strategi Banting Harga ala Internet Rakyat Rp100 Ribu?
Sapi impor berasal dari sistem breeding yang terencana, seragam, dan efisien.
Sementara peternakan lokal masih didominasi pola rakyat yang belum terstandarisasi.
“Kalau pembibitan dibereskan dulu, penggemukan itu bisa menyusul. Kalau hulunya kuat, sapi lokal bisa bersaing,” ujarnya.
Ryan mengakui pemerintah telah menggulirkan program bantuan bibit dan pakan melalui kelompok tani.
Namun ia menilai lemahnya pengawasan membuat program tersebut kerap tidak berkelanjutan.
BACA JUGA:Internet Rp100 Ribu: Antara Harapan Warkop Menteng, Bisikan Kos Palmerah dan Gamang Sang Raksasa
BACA JUGA:Internet Rakyat Rp100 Ribu: Janji Kecepatan Langit, Tapi Sosialisasi Masih Seperti Angin
“Bantuan dikasih, tapi tidak dipantau. Apakah sapinya produktif atau tidak, akhirnya tidak jelas,” katanya.