Menurut Ryan, untuk menstabilkan pasokan dan harga daging sapi, terutama menjelang momen krusial seperti Ramadan, pemerintah tidak perlu langkah yang rumit.
Fokus utama cukup pada dua hal, perbaikan sistem pembibitan dan pengendalian penyakit ternak.
Jika penyakit dapat dikendalikan dan ketersediaan bakalan terjamin, peternak rakyat diyakini akan kembali percaya diri memelihara sapi.
Ditambah dengan stabilitas harga BBM untuk menekan ongkos distribusi, harga daging pun berpeluang kembali terkendali.
BACA JUGA:Simalakama UMP 2026: Buruh Ngotot Naik 6 Persen Lebih, Pemerintah Tak Kunjung Beri Kepastian
BACA JUGA:Tarik Ulur Kenaikan UMP 2026: Pengusaha Khawatir, Pekerja Makin Menjerit
“Kalau peternak sudah merasa aman, mereka berani beternak lagi. Dari situ pasokan akan jalan sendiri,” pungkasnya.
Rantai Pasokan Daging Sapi
Sementara itu rantai pasokan daging sapi di tingkat pasar tradisional kian menunjukkan tanda-tanda tersendat.
Pemandangan sepi terlihat di Pasar Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu pagi, 31 Januari 2026.
Di antara lapak-lapak yang sebagian besar tutup, seorang pedagang bernama Imron (50) tampak duduk termenung di kiosnya.
Lapak milik Imron hanya menampilkan dua potong besar daging sapi yang digantung serta sebuah nampan berisi tetelan di atas meja.
BACA JUGA:Teka-Teki UMP 2026, Pekerja Berharap Naik: Kebutuhan Makin Mahal!
BACA JUGA:Candu Game Online Jadi Pelarian di antara Warnet dan Rumah, Saatnya Orangtua Mengambil Kendali
Aktivitas jual beli nyaris tak terlihat pagi itu.
Sesekali, Imron melempar keluhan kepada sesama pedagang yang masih bertahan membuka lapak.
Menurut Imron, kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar sepekan terakhir.