Di Balik Mudahnya Pinjol: Kesehatan Mental Terancam, Perlindungan Ekonomi Dipertanyakan
Akses keuangan digital melalui teknologi finansial (fintech) dan pinjaman online (pinjol) kini tidak lagi sekadar soal transaksi, tetapi berdampak langsung pada kondisi psikologis penggunanya-Freepik-
JAKARTA, DISWAY.ID – Akses keuangan digital melalui teknologi finansial (fintech) dan pinjaman online (pinjol) kini tidak lagi sekadar soal transaksi, tetapi berdampak langsung pada kondisi psikologis penggunanya.
Di balik layar ponsel yang tampak memudahkan hidup, tersembunyi ancaman serius bagi kesehatan mental masyarakat perkotaan.
Kemudahan pencairan dana instan, yang dikenal dengan istilah “klik dan cair”, perlahan membentuk pola perilaku baru, cepat, impulsif, dan berisiko.
BACA JUGA:Pinjol, Pedang Bermata Dua: Dari Solusi Instan ke Jerat Utang Tanpa Akhir
BACA JUGA:Strategi Banting Harga ala Internet Rakyat Rp100 Ribu?
Untuk memahami dampaknya, Disway.id mewawancarai dua psikolog klinis, Dra. Retno Kumala, M.Psi. dan Dr. Aris Setiawan, guna mengurai bagaimana mekanisme ini memengaruhi cara kerja otak dan pengambilan keputusan.
Dra. Retno Kumala menjelaskan bahwa pencairan uang secara cepat memicu lonjakan dopamin, zat kimia otak yang berperan dalam rasa senang dan kepuasan.
“Ketika seseorang memperoleh uang secara instan, otak melepaskan dopamin dalam jumlah besar. Efeknya mirip euforia sesaat, seperti yang terjadi pada perjudian,” ujar Retno, Minggu, 28 Desember 2025.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi memicu adiksi digital.
Otak mulai mengejar kepuasan instan tersebut, sehingga individu cenderung mengabaikan pertimbangan rasional dalam mengelola keuangan demi mengulang sensasi menyenangkan yang semu.
BACA JUGA:Internet Rp100 Ribu: Antara Harapan Warkop Menteng, Bisikan Kos Palmerah dan Gamang Sang Raksasa
BACA JUGA:Internet Rakyat Rp100 Ribu: Janji Kecepatan Langit, Tapi Sosialisasi Masih Seperti Angin
Selain itu berkaitan antara kecemasan dan perilaku belanja impulsif melalui fitur paylater juga menjadi perhatian.
Dra. Retno menyebut belanja kerap dijadikan mekanisme koping yang keliru.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: