Di Balik Mudahnya Pinjol: Kesehatan Mental Terancam, Perlindungan Ekonomi Dipertanyakan
Akses keuangan digital melalui teknologi finansial (fintech) dan pinjaman online (pinjol) kini tidak lagi sekadar soal transaksi, tetapi berdampak langsung pada kondisi psikologis penggunanya-Freepik-
“Bagi sebagian orang, belanja memberi ilusi kendali atas hidupnya, meski hanya sementara,” ujarnya.
Fitur paylater membuat batas kemampuan finansial menjadi kabur.
Barang yang sebenarnya tidak terjangkau terasa mudah dimiliki, menciptakan kenyamanan semu yang justru memperparah kecemasan ketika tagihan mulai menumpuk.
BACA JUGA:Simalakama UMP 2026: Buruh Ngotot Naik 6 Persen Lebih, Pemerintah Tak Kunjung Beri Kepastian
BACA JUGA:Tarik Ulur Kenaikan UMP 2026: Pengusaha Khawatir, Pekerja Makin Menjerit
Teror Digital dan Tekanan Psikologis
Masalah menjadi jauh lebih kompleks ketika pinjaman memasuki fase gagal bayar.
Tekanan dari penagih utang melalui pesan berulang, ancaman, hingga penyebaran data pribadi dinilai sebagai bentuk serangan psikologis yang sistematis.
Dr. Aris Setiawan menuturkan bahwa teror digital memicu kondisi waspada berlebihan atau hyper-vigilance.
“Korban merasa terus diawasi dan terancam. Ketika tekanan meluas ke lingkungan sosial terdekat, rasa malu dan kehilangan harga diri bisa muncul secara ekstrem,” jelas Aris.
BACA JUGA:Teka-Teki UMP 2026, Pekerja Berharap Naik: Kebutuhan Makin Mahal!
BACA JUGA:Candu Game Online Jadi Pelarian di antara Warnet dan Rumah, Saatnya Orangtua Mengambil Kendali
Dalam kondisi tertentu, tekanan berkepanjangan ini mendorong individu pada perasaan putus asa dan kehilangan harapan karena merasa tidak memiliki jalan keluar.
Fenomena menarik lainnya adalah kecenderungan korban untuk kembali mengambil pinjaman baru meski sudah terlilit utang.
Menurut Aris, hal ini berkaitan dengan kondisi tunnel vision atau penyempitan cara berpikir akibat stres finansial berat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: