Di Balik Mudahnya Pinjol: Kesehatan Mental Terancam, Perlindungan Ekonomi Dipertanyakan

Di Balik Mudahnya Pinjol: Kesehatan Mental Terancam, Perlindungan Ekonomi Dipertanyakan

Akses keuangan digital melalui teknologi finansial (fintech) dan pinjaman online (pinjol) kini tidak lagi sekadar soal transaksi, tetapi berdampak langsung pada kondisi psikologis penggunanya-Freepik-

Saat tekanan meningkat, fungsi korteks prefrontal, bagian otak yang mengatur logika dan pengambilan keputusan melemah. 

Pinjaman baru dipersepsikan sebagai solusi cepat untuk menghentikan ancaman jangka pendek, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.

“Fokusnya hanya satu, menghentikan tekanan hari ini. Inilah yang membuat seseorang terjebak dalam lingkaran masalah yang terus berulang,” katanya.

BACA JUGA:Ketika Gamers Memohon, Free Fire dan Roblox Jangan Dijadikan Kambing Hitam Pemicu Kekerasan

BACA JUGA:Game Online, Racun Jejak Digital, dan Ledakan SMAN 72: Sinyal Bahaya dari Dunia Maya

Sedangkan Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Wahyu Kustiningsih, menilai perempuan menjadi kelompok yang relatif lebih rentan terjerat pinjaman online (pinjol). 

Kerentanan ini, menurutnya, tidak terlepas dari meningkatnya beban kebutuhan hidup yang harus mereka tanggung.

“Perempuan tidak hanya mengurus pekerjaan domestik, tetapi juga mendampingi anak sekolah dari rumah. Belum lagi bagi mereka yang juga bekerja. Sementara itu, kebutuhan hidup tidak pernah menurun, justru terus meningkat,” ujar Wahyu, Rabu, 24 Desember 2025.

Ketika sudah terjebak pinjol, perempuan kerap menghadapi pelabelan negatif dari lingkungan sekitar. 

Stigma yang muncul beragam, mulai dari dianggap tidak cakap mengelola keuangan, dicap konsumtif, hingga dilekatkan dengan stereotip sebagai pengutang.

Tekanan sosial tersebut, lanjut Wahyu, membuat perempuan korban pinjol berada dalam kondisi psikologis yang berat akibat rasa malu dan tekanan mental yang berlapis.

BACA JUGA:Budaya Victim Blaming, dan Bahaya untuk Korban Kekerasan

BACA JUGA:Tren Kasus ABH: Kenakalan Remaja atau Korban Bullying?

Menurutnya, kasus jeratan pinjol juga mencerminkan tidak berfungsinya sistem pendukung sosial (supporting system) di masyarakat. 

Korban kerap merasa sendirian dan buntu menghadapi tekanan ekonomi, tanpa dukungan nyata dari lingkungan sekitar.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads