Penerapan sistem digital terintegrasi diharapkan mampu membuat proses produksi menjadi lebih efisien, pengelolaan data usaha lebih tertata, serta membantu pelaku industri memantau berbagai tahapan bisnis secara lebih terstruktur.
“Dengan operasional yang semakin optimal, pelaku usaha furnitur dapat lebih fokus pada pengembangan inovasi produk sekaligus memperluas ekspansi pasar, baik di tingkat nasional maupun internasional,” imbuh Emmanuelle.
BACA JUGA:HIMKI Optimistis Ekspor Furnitur ke AS Naik Berkat Kolaborasi Bahan Baku Kayu
Seiring meningkatnya permintaan global dan pertumbuhan penjualan melalui kanal digital, banyak produsen furnitur menghadapi tantangan dalam meningkatkan kapasitas produksi.
Salah satu kendala utama adalah masih dominannya proses manual dalam pengelolaan bahan baku, produksi, dan stok.
Rey Sihotang selaku Direktur Legal & Compliance Labamu menyampaikan, “sekitar 60–70 persen produsen furnitur berbasis material alami seperti kayu dan rotan masih mengandalkan pencatatan manual untuk pelacakan operasional."
"Kondisi ini membuat visibilitas produksi menjadi terbatas dan meningkatkan risiko kesalahan dalam pengelolaan pesanan maupun bahan baku,"ucapnya.
Menjawab tantangan tersebut, Labamu mengembangkan ekosistem Manufacturing Resource Planning (MRP) yang dirancang untuk membantu produsen mengelola proses bisnis secara lebih terintegrasi.
Silvya Winsen Head of Business Development Labamu menegaskan, “platform ini menghubungkan berbagai fungsi operasional, mulai dari pengelolaan pesanan, perencanaan produksi, manajemen bahan baku, inventori, hingga logistik dan layanan keuangan dalam satu sistem terpadu”.
BACA JUGA:IHSG Dibuka Menguat 2,16 Persen, Prediksi Analis untuk Pergerakan Saham Gabungan Hari Ini
BACA JUGA:Harga Emas Merangkak Naik, BSI Pastikan Ketersediaan Stok Aman
Silvya menambahkan jika pengembangan sistem tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan Himpunan
Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI). Sepanjang 2025, Labamu bersama HIMKI melakukan berbagai dialog dan kegiatan roadshow digitalisasi di sentra furnitur seperti Bali, Yogyakarta, Jepara, dan Cirebon untuk memahami tantangan operasional yang dihadapi pelaku usaha.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Labamu memperoleh berbagai masukan terkait kebutuhan industri, mulai dari penghitungan kebutuhan material, pencatatan produksi, hingga koordinasi antara gudang, produksi, dan pengiriman.
Berdasarkan insight tersebut, Labamu mengembangkan sistem yang memungkinkan pelaku usaha memantau proses produksi secara lebih terstruktur, menghitung kebutuhan material secara lebih akurat, serta mengetahui biaya produksi secara lebih transparan.