Hady Alan
--
Iri. Umur segitu masih sangat sehat. Wajahnya masih halus --tanpa keriput. Ia anak nomor enam dari tujuh bersaudara. Berarti kakak-kakaknya jauh di atas 75 tahun.
Pun orang tua. Juga bisa saling iri. Ia juga iri pada kondisi badan saya. Kami seumur, hanya beda shio. Juga beda nasib --nasibnya jauh lebih baik. Ups, bukan nasib. Tapi kecerdasan. Kecerdasannya lebih baik. Terutama dalam memilih jenis bisnis.
Saya memilih bisnis yang ternyata mati lebih cepat dari perkiraan: koran. Ia pilih bisnis di bidang distribusi dan logistik. Nama orang itu: Hady Karyono. Nama perusahaannya: PT Borwita.
Pun produsen sebesar P&G dan Philips percaya pada Borwita --untuk mendistribusikan produk mereka. Sudah sejak puluhan tahun lalu.
Seperti juga pendirinya Borwita berumur panjang. Pekan lalu Borwita genap 50 tahun. Hady, pendiri dan pemilik Borwita, genap 75 tahun --tiga hari sebelumnya. Perkawinan mereka berusia 54 tahun.

Dahlan Iskan bersama Hady Karyono dan istri.--
Bisnis koran mati. Bisnis distribusi justru berkembang. Pun tahun lalu: ketika banyak orang mengeluh ekonomi sedang sulit. Borwita tumbuh pesat.
Salah satu manajer Borwita pun bertanya kepada saya: bagaimana masa depan bisnis distribusi. Apakah bisa mati.
"Yang jelas tidak akan seperti koran," jawab saya. Ada kecualinya: sampai di suatu saat barang sudah bisa dikirim pakai email.
Sekitar 250 manajer Borwita kumpul di hari ulang tahun itu. Dari seluruh Indonesia. Hady, istri, dan dua putrinya ikut hadir. Satu-satunya anak laki-lakinya, Alan Karyono, lagi ke Jakarta. Tapi istri Alan hadir.

Dahlan Iskan bersama Hady Karyono dan menantu (istri Alan).--
Mereka pun saya ajak berkhayal. Sayangnya tidak ada manajer yang berlatar belakang pendidikan fisika. Padahal saya ingin tahu jawaban dari pertanyaan ini: "apakah benda terkecil di dunia?"
Ada yang mencoba menjawab: "atom". Pasti itu jawaban dari pelajaran sekolah zaman dulu. Belakangan sudah ditemukan benda lebih kecil dari atom. Lalu ditemukan lagi yang lebih kecil lagi.
Akhirnya disepakati bahwa benda terkecil itu masih bisa dibelah lagi menjadi lebih kecil: disebut gelombang.
Begitulah penjelasan seorang ahli fisika kepada saya. Saya percaya pada keilmuannya. Bagi yang tidak percaya bisa membantahnya.
Kalau saja informasi itu benar, maka suatu saat kelak benda-benda yang perlu didistribusikan Borwita bisa diurai menjadi gelombang. Lalu ditransmisikan lewat email. Sampai di tujuan sana gelombang-gelombang itu disatukan lagi. Jadi benda aslinya lagi.
Mungkin itu belum akan terjadi ketika semua orang masih waras. Namanya saja berkhayal. Kalau pun teknologi akan sampai di sana Borwita mungkin tetap bisa memanfaatkannya. Sekarang pun Borwita sudah memanfaatkan teknologi terbaru: artificial intelligence. Borwita punya layanan AI, sangat mirip ChatGPT.
Namanya Bowie.
Bowie adalah nickname yang keren untuk Borwita.
Produsen yang mempercayakan distribusi barangnya ke Borwita bisa masuk ke aplikasi Bowie. Bisa bertanya apa saja mengenai status barang mereka. Sampai ke perkembangan penjualannya. Termasuk agen mana saja yang berkembang dan yang tidak berkembang.
Di resepsi ulang tahun ke 50 Borwita --dua hari sebelum diskusi dengan saya itu-- Bowie diluncurkan. Resepsi ulang tahun itu sendiri megah-meriah. Gemerlap.

Saat perayaan ulang tahun ke-50 Borwita di Hotel Westin, Surabaya.--
Perusahaan-perusahaan yang mendistribusikan barang lewat Borwita diundang. Mereka boleh naik panggung mencoba aplikasi Bowie.
Seorang produsen, wanita, naik pentas. Layar digital memenuhi semua dinding ballroom. Ke mana pun hadirin menghadap bisa menyaksikannya.
Si produsen menanyakan penjualan produknyi di wilayah Sulawesi. Dalam hitungan detik, di layar lebar, muncul angka-angka hasil penjualan di kota-kota di seluruh Sulawesi.
Si produsen lantas bertanya lebih dalam lagi: agen mana saja yang penjualannya naik. Tidak sampai lima detik di layar muncul nama agen, nama kota dan angka pencapaiannya.
Tak terbayangkan perusahaan distribusi pun sudah melakukan modernisasi sejauh itu.
"Semua itu hasil kerja anak laki-laki saya," ujar Hady. Dari tiga anak, Hady punya satu yang laki-laki: Alan Karyono. Ia lulusan Amerika Serikat. Jabatan Alan: managing director di Borwita.

Alan Karyono (kanan).--
Jabatan Dirut memang masih di pegang sang pendiri. "Tapi semua hal sudah Alan yang menangani," ujar Hady.
Hady sendiri mulai belajar kerja sejak putus sekolah: SMA Xinzhong ditutup ketika Hady baru setahun sekolah di situ.
Tahun itu seluruh sekolah Tionghoa di Indonesia harus tutup. Hady pun pilih langsung bekerja. Yakni di toko obat milik pamannya.
Tugas pertama Hadi di gudang. Pekerjaannya bungkus-bungkus obat yang akan dikirim ke pemesan. Kalau kebetulan karyawan di bagian pengiriman tidak masuk Hady yang kirim barang. Pakai sepeda.
Papanya sendiri punya toko obat: di Pasar Atom lama. Ia ingin toko papanya maju. Ia usulkan banyak perubahan. Papanya tidak setuju. "Akhirnya saya bikin toko sendiri," kata Hady.
Hadi pun kerja keras. Usahanya maju. Sampai bisa mendirikan PBF --Pedagang Besar Farmasi. Sampai punya pabrik tetes mata yang Anda sudah pakai: Aito. Sampai menjadikan Borwita seperti sekarang ini.
Alan masih akan mengembangkan Borwita ke bisnis makanan siap saji. Yakni makanan khas Indonesia. Ups...bukan baru "akan". Alan sudah memulainya. Dimulai dari rendang. Lalu kare. Lalu lain-lainnya.
Yang menarik, makanan itu tidak perlu dipanasi dulu. Bisa langsung dimakan.
Di usianya sekarang ternyata Hady punya kegemaran yang sama dengan saya: olahraga pagi. Satu jam. Bedanya, saya di halaman terbuka di Rumah Gadang, ia di gym hotel berbintang.
Bedanya lagi: ia sudah melakukan itu sejak muda. Sejak hotel itu masih bernama Hyatt. Sedang saya baru hijrah 12 tahun terakhir. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 24 Januari 2026: Belah Tiga
Nusantara Hijau
Pacaran sama Amerika.
Selingkuh ke China.
Dilirik Eropa.
Perawan Cantik Nusantara yang kehilangan orangtua (Kerajaan).
Diadopsi secara paksa oleh orangtua angkat yang disebut Republik.
Hingga leluasa diperkosa sana sini.
Ja'far Syahidan
yang saya ketahui, pak DI kirim draft tulisan CHD untuk hari esok, setiap pukul 17 sore, dan tugas admin CHD-lah yang meng-upload rutin setiap pukul 04 subuh. jadi kalau ada CHD yang tayang telat lewat dari pukul 04 subuh, artinya kemungkinan admin CHD-nya yang telat bangun?
pak @agus suryonegoro mungkin lebih paham?
Achmad Faisol
@Murid SD Internasional
tentang kompil... begini...
ada teks dan konteks... contoh: seorang direktur datang ke kantor lalu bilang ke karyawan yang ditemui, "lantainya kotor..."
ini kalimat berita dari seorang direktur, tetapi juga bermakna perintah untuk membersihkan...
karyawan yang ditemui otomatis akan bilang ke office boy... apa mungkin karyawan itu ga akan menyampaikan ke office boy...? tidak, kan...?
perbandingan ucapan mas gibran sebagai cawapres kepada calon pemilih dan seorang ayah kepada anak tidak apple-to-apple... mengapa...?
mas gibran waktu itu seorang cawapres... secara konteks, cawapres itu kampanye...
hal ini berbeda dengan seorang ayah... ucapan dia adalah harapan…
Ja'far Syahidan
jika terjadi perang dunia ke-3, saya tidak bisa membayangkan, bagaimana nasib 1.200 ekor sapi wagyu milik bos facebook mark zuckerberg di hawaii. bayangkan, sapi-sapinya blingsatan lari lintang-pukang menghindari hujan rudal yang berseliweran dan mampir ke hawaii. kan kasihan. mark zuckerberg baru 2 tahun terjun jadi peternak sapi.
Wilwa
@AgusS3. Semoga Prabowo baca komen Anda yang profound. Disway itu unik. Tempat berkumpulnya para pemikir dari berbagai ideologi, agama, kepercayaan. Yang saya sukai dari CHDI adalah “anaknya Iskan” memberi ruang untuk kebebasan berpendapat. Paling sopan sampai paling kasar. Tempat orang melampiaskan uneg-uneg yang ada dalam hati dan pikirannya. Ada yang galau seperti badai bergolak tapi ada juga yang kalem seperti permukaan air danau yang tenang. Ah, CHDI memang istimewa di mata saya. Apalagi saya juga termasuk aksara Mandarin mania yang mana anaknya Iskan juga pandai berbahasa Mandarin. Saya juga suka sejarah, global dan lokal. Ah, semoga Presiden membaca komentar Anda, pak AgusS3 yang saya hormati.
djokoLodang
-o--
Rapeseed- Canola
*) Ternyata, nama itu memang penting.
(selain faktor-faktor lainny)
Dulunya rapeseed.
Setelah berhasil direkayasa, kadar acit-nya bisa dibuang.
Jadi lah canola.
Canada oil low acit.
Nama yang bagus.
Terdengar di telinga juga enak.
~ rapeseed, kan konotasinya: biji yang diperkosa?
--0-
Nimas Mumtazah
Abah....
Sudah baca buku perusuh disway?
Keren pool.
Membaca tulisan² komentator nyenengin. Ringan di kepala
Sekaligus bisa mengenal wajah² penulisnya.
Usia tak menghalangi para beliau untuk terus menulis dan berkarya.
Ada banyak pelajaran yg saya dapatkan.
Pak Thamrin dan Tim
Terima kasih . Semoga gathering berikutnya bu Ima lamaru dan saya bisa bertemu wajah. Dan kita bisa sua abah bincang santai dengan beliau dari dekat...
Setidaknya masih ada harapan sowan abah dan Ibu Galuh Banjar tentunya..
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
DISMORNING – 24 JANUARI 2026..
Pagi tadi headset Pak Dahlan masih bikin bingung. Kabel atau nirkabel. Clip on bisa ngomong, tapi telinga tak bisa dengar. Teknologi maju, manusia tetap perlu belajar.
Lalu obrolan meloncat jauh. Dari headset ke rumah sakit. Dari toko bandara ke devisa Rp200 triliun yang terbang ke luar negeri.
Nama “rumah sakit” ikut diadili. Katanya bikin orang tambah sakit. Pak Dahlan menolak. Nama bukan soal. Mutu yang soal.
Ia bercerita Gudang Garam. Jarum. Grendel. Nama aneh, tapi jadi raksasa.
Karena dikelola serius. Bukan karena ganti label.
MASUK ke inti. Orang berobat ke luar negeri bukan karena dokter kita bodoh. Justru sebaliknya.
Masalahnya adalah terkait tembok. Ego. Sulit kerja tim. Dokter hebat, tapi jalan sendiri. Padahal rumah sakit itu orkestrasi. Bukan konser solo.
Contoh pun muncul. Dokter Supriyanto dari Tulungagung.
Rumah sakit kecil dirombak. Gaji dokter diubah. Senioritas diturunkan. Kinerja dinaikkan. Biaya ditekan. Mutu naik. Kalau logika itu dipakai nasional, BPJS bisa ngos-ngosan karena terlalu efektif.
Gotong royong juga dikritik. Terlalu romantis. Perlu tafsir baru. Modern. Bukan kerja bakti, tapi kolaborasi sadar.
Nasionalisme juga begitu. Jangan sempit. Cukup cinta negara, lalu kerja benar.
###
[[Pagi berakhir. Headset masih dicari solusinya. Tapi pikirannya sudah wireless.]]..
Juve Zhang
Konon pengiriman militer 16 Pesawat cargo militer ini terbanyak sepanjang sejarah Tiongkok modern....jelas yg dihadapi armada Amerika perlu penangkal canggih bukan kelas ecek ecek....Iran dulu diserang oleh Israel sangat mudah pake F35....dari sini T menganalisa kelemahan Iran dan diberi obat mujarab untuk melakukan pengintaian jarak jauh jadi pake drone khusus intai...maka ketika Israel kirim F35 bisa di diteksi awal....nama drone nya lupa tapi tipe canggih...semoga uji coba merontokkan F35 bisa berjalan lancar.....
Herry Isnurdono
Ada apa dgn Abah DI ? Ada foto Presiden PS di Davao, Swiss di CDI hari ini (Sabtu, 24.1.2026), tapi tidak membahas sama sekali pidatonya. Yg dibahas Kanada dan Trump, Uni Eropa. Tidak usah memuji-muji PS, atas pidatonya sah2 aja. Atau foto PS di Davao, bebas2 aja. Atau bahas banjir di Jakarta utk bahan CDI hari Sabtu ini. Koq adem2 aja hater2 Pramono Anung. Buzzer2 Banteng anteng2 aja. Karena Abah DI kebetulan tidak ada acara di Jakarta, Kamis dan Jumat kemaren ?
Tiga Pelita Berlian
Salah satu visi misi di kantor lama saya (duluuuu) berbunyi "Adapting to change" . Dan ternyata kalimat tersebut masih & terus relevan dgn zaman . Dunia berubah dgn sangat cepatnya .
"Karena perubahan itu adalah keniscayaan, sementara kemampuan beradaptasi adalah tentang kemauan (Iqbal Lombok, bukan hadits) "
Seklangkong
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
GLOBALISASI:
KAU YANG MEMULAI,
KAU YANG MAU MENGAKHIRI..?
1). Globalisasi itu sederhana. Dunia dijadikan satu pasar. Barang, modal, ide, dan mimpi bebas keluar-masuk. Batas negara seperti pintu otomatis: sensor gerak, bukan palang besi. Siapa efisien dia menang. Siapa lambat, silakan antre di kasir sejarah.
2). Mengapa Amerika dulu paling ngotot jualan globalisasi? Karena ia pemilik toko. Dolar jadi kasirnya. Aturan main ditulis di Washington. Pabrik pindah ke Asia, laba tetap pulang ke Wall Street. Amerika jual ide, dunia beli barang. Win-win. Setidaknya di brosur.
3). Lalu kenapa sekarang Amerika mundur? Karena muridnya terlalu pintar. Tiongkok bukan hanya lulus, tapi langsung jadi dosen. Globalisasi membuat banyak negara naik kelas. Amerika tetap kaya, tapi tidak lagi sendirian. Jarak menyempit. Ego membesar.
4). Maka globalisasi disalahkan. Seperti wasit yang dianggap curang saat timnya kalah. Padahal aturannya buatan sendiri. Kini Amerika memilih tutup toko, pasang tarif, dan bilang: “Main di rumah saja.”
###
((Masalahnya, dunia sudah telanjur belanja di mana-mana. Toko lama tutup, tapi pasar gelap ideologi justru buka. Globalisasi mungkin berakhir.
Tapi kompetisi ganti arena?))
Udin Salemo
salut sama kapeka-nya Malaysia. bekas kasad Malaysia ditangkap dipakaikan baju oren dan tangan diborgol dibawa ke mahkamah. juga dua istrinya diberlakukan hal yang sama. wartawan bebas ambil foto tersangka. padahal tersangka ini High Profile yang sangat sulit dijangkau hukum.
eh, tapi kayaknya biasa saja disana. lha, wong mantan perdana menterinya saja dihukum 12 tahun penjara dan langsung masuk kamar berkerangkeng. jadi, "wakhaji" JZ kita tak harus pergi ke negara T, cukup ke tetangga untuk menerapkan hukum korupsi.
kapeka Malaysia tangkapannya bukan kelas bupati/walikota atau kepala dinas. atau manajer perusahaan karya. sugoooiiii….
Liáng - βιολί ζήτα
"Trump-centric" vs "America-centric" ??
Singkat saja.....
Anda Pasti Tahu apa yang dimaksud dengan Trump-centric ataupun America-centric.
Sebagian besar "peneliti" menilai (masih kesimpulan sementara) bahwa apa yang sedang terjadi di Amerika sekarang ini, cenderung lebih ke Trump-centric, meski kemanfaatannya memang untuk Amerika.
Tetapi, perlu dipahami bahwa kemanfaatan untuk Amerika "tidak mesti" Trump-centric !!
Di dalam negeri Amerika sendiri, sepertinya cukup banyak yang tidak setuju dengan kebijakan Trump.
Apalagi usia Donald Trump sekarang ini yang sudah mendekati 80 tahun, sepertinya sangat kecil kemungkinan terpilih lagi pada pemilihan presiden periode berikutnya.
Semuanya masih nampak samar-samar meski sudah mulai terlihat ada semacam "garis hitam" yang digoreskan oleh Trump.
Maka, saya pribadi menilai CHDI hari ini sebagai pendapat pribadi Abah DI (kalau Abah tidak "nyonték" dari media asing, wkwkwkwkwk.....). Hal ini tentu sah-sah saja.
"Belah Tiga" CHDI hari ini..... kalau dikategorikan sebagai suatu study ataupun kajian, sepertinya masih jauh panggang dari api, karena aspek-aspek dan faktor-faktor yang diungkapkan (dianalisis) Abah terlalu sedikit untuk memenuhinya..... juga metode yang digunakan ??
Jokosp Sp
Pak Ustad bakisah : Ada cerita dari Ibu-Ibu pengajian, suaminya tidak betah di rumah. Akhirnya saya ceritakan : Suatu saat Si Istri dibawa ke pasar, ke toko emas. Si Istri akhirnya, suit - suit - suit bersiul bahagia. Dibawalah pulang setelahnya dan lewat di sebuah sumur tua. Si Suami "Dik coba dilihat, apakah sumur itu masih ada airnya". Ketika Si Istri melongok itulah didorongnya masuk ke dalam sumur, "Rasain kamu...., ngomel saja kerjaannya". Si Suami sambil menikmati rokok bersandar di dinding sumur. Tiba-tiba ada mahluk tinggi besar keluar dari dalam sumur. Si Suami bertanya " Heeeeee....siapa kamu?". Saya Iblis Jin penunggu sumur ini. Sudah 400 tahun saya nunggui sumur ini. Saya ndak tahan dalam sumur ini, kenapa tiba-tiba ada yang ngomel-ngomel terus di dalam?.
Wilwa
Jadi salah kita/ rakyat sendiri mau “dihipnotis” para politikus untuk memilihnya. :) Secara struktur kalimat, seperti analisis tajam MSDI, gak ada yang salah kok Gibran “ngomong gitu”. Dia khan “gak janji!” :) Dia cuma “bilang” JIKA bla bla bla Insya Allah bla bla bla. :) Kita menafsirkannya sebagai janji padahal menurut dia, dia tidak berjanji, ya memang salah kita menafsirkannya. Contoh satire nya adalah program rumah DP nol Anies di Jakarta 2017. Mana ada sih politikus yang tidak ingin menang debat dan terpilih? Perkara menurut Ahok itu gak masuk akal, ya biarin, “yang penting khan gue out of the box! Perkara gue gak bisa mewujudkan konsep gue (bukan janji gue lho ya!) itu soal lain.” Mari kita simak lagi kata-kata Anies di youtube berikut: Rumah Susun Ahok Vs Pendanaan Rumah 0 Rupiah Anies - Debat Putaran II 12/04. INews. 12 Apr 2017. Anies pintar debat dan mengajukan konsep out of the box! Adakah dia berjanji? Tidak tuh. :) Dia hanya mengajukan sebuah konsep/teori. “Kami tidak membicarakan pembangunan rumah, kami hanya membicarakan pembiayaannya.” :):):) Perkara bisa jalan di lapangan sehingga jutaan rakyat berpenghasilan rendah bisa punya rumah di Jakarta itu soal lain! :):):) Khan kami gak janji membangun! Cuma membiayai! :):):)
Liáng - βιολί ζήτα
iseng-iseng saja
Kata "jika" di dalam psikologi bisa dimaknai sebagai berikut :
1). Tersirat suatu niat yang kuat untuk mengimplementasikan sesuatu, di dalam kondisi tertentu.
2). Bisa jadi berupa bias kognitif, terutama di dalam debat - untuk mengcounter tekanan pendebat.
3). Atau bisa sebaliknja, justru sebagai fenomena rasa percaya diri yang berlebihan, seolah-olah hanya dirinya sendiri yang memiliki pemikiran tersebut.
Sebagaimana kita maklumi, di dalam debat pemilihan umum, sepertinya menjawab dengan lancar berbagai persoalan dengan pemikiran yang out of the box "lebih diapresiasi" ketimbang pelaksanaan nantinya.....
Untuk menciptakan lapangan kerja sebanyak 19 juta..... meskipun diawali dengan kata "jika" dan berlindung dibalik kata "Insya Allah"..... mestinya Pak Gibran menguraikan berapa investasi yang mesti dialokasikan sehingga tercipta lowongan kerja sebanyak itu ?? Dari mana sumber dana investasi tersebut ?? Investasinya untuk jenis usaha apa saja ?? Apakah tenaga kerja yang menganggur saat ini sesuai kemampuannya dengan lowongan kerja yang akan tercipta tersebut ?? Bagaimana dengan infrastruktur untuk investasi sebesar tersebut ?? Dan masih begitu banyak pertanyaan lainnya yang terkait.....
Oleh karena Pak Gibran tidak menguraikannya secara rinci, maka pernyataan Pak Gibran tersebut cenderung ke point nomor 2 di atas.....
yea aina
(Typo koment di bawah)
Banyak orang tidak menyangka (tatanan ekonomi) dunia berubah secepat ini. Komentar Abah DIS: Biarlah, tidak apa-apa dan apa boleh buat.
Mungkin opini yang sama menurut banyak orang di sini. Toh tanpa kemakmuran yang maju pesat, menurut riset Universitas Harvad: negeri ini peringkat teratas untuk kesejahteraan menyeluruh.
Indonesia dinilai unggul dalam hubungan sosial dan karakter pro-sosial. Dua faktor penentu terbentuknya keterhubungan dan komunitas yang kuat.
Versi bule: kolaborasi. Versi orang kita: gotong royong.
Negeri ini, boleh pontang-panting mempertahankan cadangan devisa (dolar). Terbukti nilai tukar rupiah sudah anjlog 17 ribuan saja. Mungkin bisa menyentuh 20 ribuan juga. Tapi rakyatnya tetap sejahtera menyeluruh.
Penelitian Harvard itu, menjelaskan kesejahteraan bukan hanya soal kekayaan dan kesehatan fisik semata. Sesuai pepatah lama: uang bukanlah segalanya.
Tapi kalau isi dompet cuma lima lembar dua ribuan, tetap rasanya akan pusing kepala. Tidak tergolong makmur, sekaligus belum sejahtera menyeluruh.
ikhwan guru sejarah
Singapore bukan negara biasa-biasa saja. Pasti sudah memperhitungkan segala kemungkinan. Coba lihat kembali pidato PM Singapore setelah Trump mengumumkan tarif ke semua negara. Apa katanya. Kita harus siap untuk hidup tanpa Amerika…
Juve Zhang
Hanya T harapan dunia memberikan sedikit pelajaran ilmu perang...... perang Korea bukti T memukul mundur A yg superior dalam segala hal....T miskin compang camping senapan cuma ada 100 ribu biji tentara 300 ribu jiwa .... Pesawat terbang kuno hanya puluhan jumlahnya..... A sangat digdaya baru memang PD ke 2.... Pertolongan dari R hanya MIG 19 yg hebat dan itupun hanya operasi di sungai Yalu ....Mig gak akan maju ke garis 38....tapi Mao tetap minta jendriPeng usir A melewati garis 38.. inilah jenderal Peng ... Buat terowongan dari Utara beberapa kilometer menuju selatan sehingga tentara aman dari bom A yg ganas ...... strategi gerilyawan.....kepala ditiru dalam perang Vietnam.... Vietcong buat terowongan dari Utara ke Selatan sehingga A kocar kacur kabur ..... wkwkw di Iran sekarang hanya T yg bisa meredam Polan A yg sudah kelewatan.....Iran jaminan ada dari Wang Yi,,,: Uang Intelijen Militer akan dibantu "....Wang Yi walk the Talk....Rusia sudah gak ada sumber duit dan manusia habis di Ukraina.....hanya T yg bisa memberikan sparring partner seimbang dengan teknologi A.......Iran jadi Medan pertempuran paling menarik jika A mau ber sparring partner dengan T.....saya nonton dengan senang hati....apalagi kalau Israel ikutan F35 nya bisa sekalian di rontok kan ...wkqkq
Liam Then
Waktu baca kometar perusuh, yang mengkomentari acara podcast baru Pak DI pagi itu, yang angkat topik manfaat MBG, saya ingat ada topik diungkit tentang 45 tahun masa kemanfaatan. Entah apakah itu harus tunggu 45 tahun atau manfaatnya yang terasa selama 45 tahun.
Apapun saya harap MBG fokus lebih dulu di sekolah-sekolah yang penuh murid-murid yang berasal dari keluarga yang masuk kategori demografi ekonomi kelas menengah ke bawah.
Jangan seperti yang ada di Pontianak, sekolah swasta yang SPPnya 500rb/bulan malah sudah dapat duluan.
Entah apa yang saya pikirkan waktu itu, karena MBG saya kepikiran lauknya , apakah ada pake daging sapi.
Kepikiran daging sapi, saya juga kepikir kasus besar dulu, yang bikin terpuruk banyak tokoh besar dari PKS, karena terlibat korupsi fee impor daging sapi.
Kepikiran itu, saya bertanya-tanya, apakah kebijakan kuota impor daging sapi beku masih diberlakukan.
Gregorius Indiarto
Era globalisasi membuat negara miskin naik kelas.
Negara miskin naik kelas, bikin Amerika ikut naik.
Naik pitam.
Keluar dari globalisasi, memikirkan negara sendiri, egoisasi.
Sak karepe dewe.
Penting ora perang.
Met petang, salam sehat, damai dan bahagia.
Gerring Obama
Mungkin perang lebih menarik Pak Dis. Tapi locus delictinya di amerika aja. Sepertinya menarik…
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:

Komentar: 126
Silahkan login untuk berkomentar