Skandal Mafia Beras Terbongkar, 212 Merek Produsen Kakap Dipanggil Satgas Pangan
Dugaan mafia beras dibongkar Mentan Andi Amran.-Kementan-
JAKARTA, DISWAY.ID– Kabar mengejutkan datang dari dunia perberasan nasional! Sebanyak 212 merek dari sejumlah produsen kelas kakap diduga kuat terlibat praktik pengoplosan.
Dua ratusan merek beras medium dan premium itu juga diduga dalam pelanggaran mutu. Mereka kini dipanggil Satgas Pangan Bareskrim Polri.
Pemanggilan besar-besaran terhadap para produsen diduga nakal ini resmi dilayangkan pada Senin (30/6/2025), menyusul investigasi dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan).
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan adanya pemanggilan tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Rabu siang tadi.
Amran memastikan bahwa pemeriksaan terhadap "mafia beras" ini akan dilakukan secara maraton.
"Sekarang pemeriksaannya, tadi subuh kami telepon, kami cek, kami sudah terima datanya yang bersangkutan, sudah dilayangkan pemeriksaan maraton oleh Satgas Pangan, oleh Reskrim Mabes Polri," tegas Amran, menunjukkan keseriusannya.
Tak hanya berhenti di Kepolisian, Amran juga telah menyurati Jaksa Agung, Sanitiar Burhanuddin, untuk mengusut tuntas kasus ini.
Namun, untuk sementara, nama-nama 212 produsen yang terindikasi curang itu masih dirahasiakan. Alasannya, menjaga barang bukti.
"Agar barang bukti tidak dihilangkan. Dan nanti pasti diumumkan semua, terumumkan secara otomatis, kalau sudah dipanggil oleh penegak hukum," jelas Amran kepada awak media di Kompleks Parlemen.
Amran benar-benar geram. Ia menegaskan bahwa saat ini tak ada alasan bagi harga beras untuk melambung tinggi.
BACA JUGA:Menkes Budi Gunadi Restui Dokter Umum Lakukan Operasi Caesar: Ini Perintah Presiden Prabowo
Produksi padi nasional sedang "panen raya" bahkan mencapai rekor tertinggi dalam 57 tahun terakhir, dengan stok melimpah ruah hingga 4,2 juta ton.
"Sekarang ini tidak ada alasan harga naik, tidak ada. Produksi naik sesuai BPS, sesuai badan pangan dunia (FAO). Kemudian stok kita tertinggi sepanjang sejarah. Terus alasan apa lagi harga naik?" Amran menambahkan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: