Skandal Mafia Beras Terbongkar, 212 Merek Produsen Kakap Dipanggil Satgas Pangan
Dugaan mafia beras dibongkar Mentan Andi Amran.-Kementan-
BACA JUGA:Uang Tunai Rp 2,8 Miliar dan Sejumlah Senjata Api Disita KPK dari Rumah Eks Kadis PUPR Sumut
Daniel Johan, Anggota Komisi IV DPR RI, terang-terangan mempertanyakan mengapa harga beras terus naik, padahal cadangan beras pemerintah (CBP) di Bulog melimpah ruah, mencapai 4,19 juta ton hingga 30 Juni 2025.
"Banyak yang bertanya ke saya, di tengah harga konsumen yang tinggi, katanya Bulog dilarang untuk melepas cadangannya, melepas stoknya. Biasanya kan, jawaban saya menjadi tugas Bulog untuk mengintervensi pasar, salah satunya adalah operasi pasar, sehingga harga menjadi stabil. Tetapi katanya Bulog dilarang. Nah kita minta penjelasan," ujar Daniel.
Menjawab pertanyaan Daniel, Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, menjelaskan bahwa kenaikan harga beras tak lepas dari melonjaknya harga gabah di tingkat petani.
"Kenapa harga beras naik? Ya, kalau GKP sebelumnya di angka Rp5.500 atau Rp6.000, hari ini Rp6.500 di Maret kualitas apapun," jelas Arief.
Ia menambahkan, ini juga dipengaruhi pola musiman panen raya yang biasa terjadi Maret-April. Setelah masa panen, pasokan menurun, mendorong harga gabah, dan otomatis harga beras ikut naik.
BACA JUGA:Catat! Fasilitas Olahraga di Jakarta Dikenakan Pajak Hiburan 10 Persen: Ada Padel hingga Mini Soccer
"Kalau harga gabah naik, maka harga beras naik. Nah ini waktunya pemerintah melakukan intervensi, dengan satu, bantuan pangan yang 18,277 juta KPM (keluarga penerima manfaat), dan yang kedua SPHP," ujar Arief.
Pemerintah bertekad, ini adalah momen tepat untuk intervensi pasar dan menstabilkan harga beras.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: