Dari Tunggul Mati Jadi Ekspor, Kisah Menggeris di Tenggarong
Dari tunggul kayu di Kutai, lahir jam tangan dan aksesori eco-fashion bernilai ekspor karya Iendy Zelviean Adhari.-Salsabila/Nomorsatukaltim -
Meski fokus di pasar lokal, sentuhan modern dan konsep eco-fashion membuat Menggeris siap menembus pasar ekspor.
“Kami beri garansi enam bulan sampai setahun. Produk sudah masuk galeri UMKM Balikpapan dan siap go nasional,” jelasnya.
Namun, tantangan terbesar masih soal akses informasi ekspor.
“Sering kali peluang ekspor hanya beredar di forum tertentu. Kami, pelaku usaha kecil, jarang tahu,” ungkapnya.
Dukungan mulai datang dari pemerintah daerah, BUMN, dan Bank Indonesia Kaltim. Iendy berharap kolaborasi investasi terus tumbuh.
“Produk seperti ini punya potensi ekspor tinggi. Kalau bukan investor bantu kami, siapa lagi,” katanya.
Ia pun menilai sinergi antara industri tambang dan ekonomi kreatif bisa saling menguatkan. CSR perusahaan, misalnya, dapat diarahkan untuk reboisasi pohon menggeris sekaligus memberdayakan pengrajin lokal.
BACA JUGA:KPK Limpahkan Kasus Korupsi Jalur Kereta Kemenhub ke Jaksa, Risna Sutriyanto Segera Disidang
“Kalau di tangan yang tepat, sisa akar bisa jadi karya bernilai tinggi,” pungkasnya.
Dari tunggul yang dulu dianggap sampah, kini tumbuh peluang ekonomi baru. Menggeris menjadi bukti: pelestarian alam bisa sejalan dengan pertumbuhan ekonomi daerah. (Salsabila/Nomorsatukaltim)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: