KPK Pastikan Penyelidikan Kasus Dugaan Mark Up Proyek Kereta Cepat Whoosh Terus Berjalan

KPK Pastikan Penyelidikan Kasus Dugaan Mark Up Proyek Kereta Cepat Whoosh Terus Berjalan

Penumpang kereta cepat Whoosh di stasiun.-Ayu Novita-

Dalam salah satu unggahan di kanal YouTube miliknya, Mahfud mengungkap adanya perbedaan signifikan dalam perhitungan biaya pembangunan per kilometer antara versi Indonesia dan China.

"Menurut pihak Indonesia, biaya per 1 kilometer kereta Whoosh itu 52 juta dolar AS. Tapi di China sendiri hitungannya 17 sampai 18 juta dolar AS. Naik tiga kali lipat kan,” kata Mahfud.

BACA JUGA:Sekjen PSI Raja Juli Antoni Bertemu Jokowi di Solo, Dapat Nasehat dan Traktiran Bakmi

Mahfud juga menyoroti beban utang proyek yang mencapai sekitar Rp4 triliun pada 2025.

Ia menilai pembengkakan itu terjadi karena perubahan skema pembiayaan, dari tawaran Jepang dengan bunga 0,1 persen, menjadi pinjaman dari China dengan bunga 3,4 persen setelah beberapa kali revisi.

Meski menyoroti adanya potensi pembengkakan biaya, Mahfud tetap mendukung langkah KPK melakukan penyelidikan dan mendorong transparansi publik.

Ia juga mendukung sikap Menteri Keuangan Purbaya yang menolak agar beban utang proyek kereta cepat Whoosh ditanggung melalui APBN.

"Kebijakan progresif diperlukan agar beban utang proyek tidak semakin meningkat,” ujar Mahfud.

Diketahui, proyek kereta cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh merupakan proyek kerja sama antara Indonesia dan China yang dikerjakan oleh PT KCIC.

Proyek ini sempat menuai kritik publik karena biaya konstruksi per kilometer mencapai sekitar Rp780 miliar, lebih tinggi dibandingkan rata-rata proyek serupa di negara lain.

Meski begitu, pemerintah menilai angka tersebut masih lebih efisien dibandingkan MRT Jakarta, yang menelan biaya sekitar Rp1,1 triliun per kilometer.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: