Industri dan Prestasi Olahraga Kita, Sebuah Refleksi di Tahun 2025

Industri dan Prestasi Olahraga Kita, Sebuah Refleksi di Tahun 2025

Final DBL Jakarta di Indonesia Arena sering disebut sebagai showcase geliat industri olahraga di Indonesia.--

Kalau begitu, ayo segera kita laksanakan!

Andai ia memang semudah itu. Tetapi rasanya, ia memang semudah itu. Tinggal kita mau atau tidak. Pernyataan serupa yang juga dilontarkan oleh Erick Thohir di Indonesia Sport Summit 2025. Tetapi juga, untuk jadi semudah itu, ada beberapa hal yang menurut kami harus lebih dulu dibenahi. Salah satunya adalah pola pikir (mindset).

Menurut pengalaman kami, sadar atau tidak, ranah olahraga Indonesia sebenarnya sedang menuju ke sana. Menuju pembangunan industri olahraga. Atau bahkan sebenarnya sedang menjalankannya. Walau rasanya, tidak banyak atau belum banyak yang benar-benar menyadari hal ini. Pemerintah sendiri belum benar-benar tegas mencanangkannya.

Pencanangan dan perencanaan perlu dilakukan. Keduanya akan memberi arahan jelas mau dibawa ke mana olahraga Indonesia.

Industri atau prestasi

“Olahraga Indonesia, antara Industri dan Prestasi”. Tadinya ini mau kami jadikan judul utama.

Memajukan olahraga Indonesia, mana yang lebih penting, memajukan industrinya atau prestasinya? Kita ingin memajukan industrinya. Tetapi kita juga kerap ribut menginginkan prestasinya.

Alih-alih harus memilih industri atau prestasi, seharusnya memang industri dan prestasi. 

Sebelum ke sana, ada beberapa fenomena di beberapa waktu di tahun 2025 yang akan berlalu ini (atau sudah berlalu, bagi yang membaca di tahun 2026) yang sangat-sangat menarik perhatian kami terkait industri dan atau prestasi ini. Naturalisasi pemain-pemain nasional sepakbola Indonesia, jumlah pemain asing di liga sepakbola Indonesia, jumlah pemain asing di IBL 2026, DBL, Indonesia Sport Summit 2025 (event internasional dan lari-lari), dan prestasi SEA Games 2025 (prestasi tanpa kompetisi, basket 3x3 putri).

Kita bahas singkat satu-satu.

Naturalisasi pemain-pemain sepak bola

Dari data yang kami himpun, sejak menjadi ketua umum PSSI, Erick Thohir setidaknya sudah menaturalisasi 19 pemain untuk kebutuhan tim nasional sepak bola Indonesia. Baik untuk tim senior maupun tim kelompok umur (junior). Alasan diambilnya langkah ini macam-macam. Alasan yang tampaknya paling nyata adalah meningkatkan kualitas performa. Demi mampu bersaing di level papan atas dunia. Demi lolos ke piala dunia. Kuat unsur mengejar prestasinya.

Sayangnya, lolos ke Piala Dunia 2026 tidak berhasil. Namun ada dampak lain yang juga terlihat dari gelombang naturalisasi tersebut.

Antusiasme masyarakat dalam mendukung tim nasional semakin luar biasa. Dalam laga-laga penting, khususnya yang terkait kualifikasi piala dunia dan digelar di Indonesia, penonton membludak. Jumlah penonton rata-rata di GBK saat Indonesia melakoni laga-laga FIFA bisa mencapai lebih dari 60.000 penonton per gim. Laga kualifikasi piala dunia Indonesia melawan Australia di GBK 10 September 2024 dihadiri oleh lebih dari 70.000 penonton. Dalam satu dan lain hal, aspek industri dari langkah ini sepertinya cukup sukses. Merujuk kata-kata Dony Oskaria di Indonesia Sport Summit 2025, dampak ekonominya bisa dihitung.

Namun sepertinya, naturalisasi pemain nasional sepak bola lebih mengedepankan aspek prestasi. Belum ada atau tidak ada obrolan yang benar-benar mengarahkan hal ini ke arah industri. Obrolan seputar timnas sepak bola lebih banyak ke arah pelatih baru. Ke arah prestasi. Walau dampak industrinya juga sangat terasa.

Pemain asing di Super League

Mulai musim 2025-2026, liga sepakbola tertinggi Indonesia yang kini punya nama Super League atau I.League punya aturan baru. Aturan mengenai jumlah pemain asing.

Setiap tim boleh punya 11 pemain asing. Boleh mendaftarkan 9 di antaranya ke dalam skuad yang bertanding. Boleh memainkan 7 di antaranya secara bersamaan. Ada pula kewajiban untuk memainkan satu pemain u-23 minimal 45 menit dalam satu laga.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads