Industri dan Prestasi Olahraga Kita, Sebuah Refleksi di Tahun 2025
Final DBL Jakarta di Indonesia Arena sering disebut sebagai showcase geliat industri olahraga di Indonesia.--
Volume pemain asing di Super League kabarnya juga bertujuan untuk menaikkan nilai liga di mata para sponsor. Ketika banyak pemain asing yang tampil, harapan jumlah pemirsa siaran makin bertambah. Apalagi jika liga kemudian bisa menarik nama-nama besar di dunia sepakbola internasional. Sangat mungkin para penonton makin antusias ke arena atau menyaksikan di layar.

Persib Bandung tengah berada dalam momentum penting, baik di level Asia maupun di bursa transfer.-Tangkapan layar Instagram@persib-
Langkah Super League ini bagi kami sangat mengedepankan sisi industri. Sementara pada saat yang sama, para fan sepak bola sepertinya mempertanyakan bagaimana langkah tersebut bisa mengangkat prestasi (kualitas) para pemain lokal.
Pada titik ini, derasnya naturalisasi pemain untuk tim nasional dan dan jumlah pemain asing yang boleh main di Super League seolah menjadi langkah ekstrem yang bertolak belakang. Satunya prestasi. Satunya lagi industri.
Pemain asing di IBL
Hal yang hampir serupa juga diterapkan di IBL. Pada musim 2026, IBL membolehkan setiap tim untuk punya 3 pemain asing. Ketiganya boleh bermain bersamaan di lapangan. Sebanyak 2 pemain asing maksimum bertinggi 200 cm. Sementara 1 lagi bebas. Mirip dengan di sepakbola, IBL mewajibkan setiap klub mendaftarkan masing-masing 2 pemain U-23 di dalam skuadnya, dan wajib memberikan menit bermain. Minimal 5 menit per pertandingan.
Kepala Pelatih Satria Muda Djordje Jovicic dalam keterangan pers di Bandung, 1 Desember lalu menyatakan bahwa aturan tersebut mungkin akan baik bagi liga, tetapi akan kurang baik bagi basket internasional (tim nasional).
Saat publik menantikan atau menerjemahkan liga sebagai kawah candradimuka peningkatan prestasi basket Indonesia, IBL sepertinya lebih mengarahkan liga ke arah industri.
DBL
Kompetisi basket antarpelajar ini menjadi satu-satunya entitas besar olahraga Indonesia yang dengan gamblang menegaskan bahwa mereka lebih mengedepankan industri di atas prestasi.
"Partisipasi adalah income. Prestasi adalah cost. Jika partisipasi terus dikembangkan, maka partisipasi akan membiayai prestasi.”
Kredo tersebut tertulis besar di dalam kantor DBL di Surabaya. Pencetusnya adalah CEO DBL Azrul Ananda.
Konsistensi memegang teguh semangat inilah yang akhirnya membuat DBL menjadi kompetisi basket terbesar di Indonesia. Satu-satunya kompetisi basket di Indonesia yang bisa menggelar pertandingan di Indonesia Arena dan mengukir rekor lebih dari 15.000 penonton dalam satu gim (Final DBL Jakarta 2025, 21 November).
Gemerlap penyelenggaraan DBL uniknya justru memicu dan memacu para pemain dan pelatih di Indonesia untuk bisa mengejar prestasi. Banyak pemain-pemain basket terbaik Indonesia muncul dari kompetisi DBL.
Indonesia Sport Summit 2025
Kami sangat antusias mengikuti kegiatan ini.
Kegiatan inilah yang kemudian memantik pemikiran di kami, “Industri olahraga seharusnya bisa menjadi salah satu strategi nasional dalam meningkatkan ekonomi Indonesia.”
Kami mendengarkan para pembicara kunci. Rasanya tak satupun membahas prestasi. Hampir semuanya membahas industri. Tentang potensi ekonomi olahraga dan kegiatan olahraga di Indonesia. Bagi kami, ini merupakan paparan besar pertama olahraga Indonesia di mana para pembicara sama sekali tidak menyinggung masalah prestasi. Ini tentang industri olahraga.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: