Erosi Moral di Jantung Tradisi Santri dan Nahdliyyin
Habib Khairutsani-Foto: Dokumentasi Pribadi-
Tak dipungkiri, media sosial telah menjadi ruang di mana batasan antara santri dan orang awam menjadi kabur. Anonimitas dan kecepatan interaksi membuat banyak Nahdliyin lupa akan jati dirinya. Mereka terjebak dalam arus polarisasi yang membuat "kebenaran kelompok" menjadi tuhan baru, sementara fatwa dan teladan Kiai dianggap angin lalu jika tidak menguntungkan posisi politiknya.
Ketidak-bijaksanaan dalam bermedia sosial ini menunjukkan bahwa transformasi digital di lingkungan NU belum dibarengi dengan literasi digital yang berbasis akhlak. Akibatnya, perdebatan mengenai Muktamar atau jabatan di NU berubah menjadi arena "pembunuhan karakter" yang sangat jauh dari nilai-nilai Aswaja.
Maka kiranya sangat mendesak bagi kita bersama untuk mengembalikan ruh" santri yang mengalami jurang degradasi moral yang dalam ini. Jika perilaku mencaci yang berbeda pandangan dan menghalalkan segala cara demi politik jabatan terus dibiarkan, maka NU akan kehilangan legitimasi moralnya di hadapan umat.
Kiranya perlu ada gerakan kembali ke meja pesantren dan kultur nahdliyin, menekankan kembali pentingnya adab fawqal 'ilmi (adab di atas ilmu). Politik dalam NU seharusnya adalah politik kerakyatan dan keumatan, bukan politik praktis yang memecah belah dan menghancurkan rasa hormat kepada para kiai. Menjadi Nahdliyin berarti siap tunduk pada aturan organisasi dan santun dalam perbedaan, karena tanpa adab, atribut santri dan nahdliyin tak lebih dari sekadar topeng kosong. Wallahu'alam bishawab.
*) Pengasuh Pesantren Akmala Sabila Cirebon
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: