Tiga Serangkai

Tiga Serangkai

Jumaane Williams (kiri) Zohran Mamdani dan Mark D. Levine.--

Pekerjaan pertamanya di hari pertama sebagai wali kota baru New York: ke lapangan. Yakni ke apartemen yang sedang dalam proses pailit.

Di situ Zohran Mamdani, sang wali kota, tegas: akan berada di pihak ribuan penyewa apartemen. Ia akan menuntut dijaminnya hak-hak penyewa, tenant. Ia menegaskan akan intervensi hukum karena pemkot punya hak untuk intervensi.

Di situ pula Zohran mengumumkan dibentuknya dinas urusan perlindungan tenant. Lalu mengumumkan siapa yang menjabat kepala dinasnya: seorang wanita yang memang aktivis pembela hak-hak tenant. Yakni Cea Weaver. Kulit putih. Ahli perencanaan kota. Dia sampai mengusap air mata, terharu, ketika diangkat untuk jabatan itu.

Perusahaan properti yang sedang mengajukan pailit itu: Pinnacle. Perusahaan besar. Punya 50 blok apartemen di New York. Lebih 5.000 orang menyewa apartemennya. Sebagian besar adalah sopir, pegawai kecil, pekerja toko, dan sekelas itu.

Pinnacle mengajukan pailit agar terhindar dari kewajiban bayar utang yang besar ke bank. Pinnacle mengeluh bunga bank terlalu tinggi dan sewa apartemen tidak bisa dinaikkan.

Apalagi Zohran kini jadi wali kota. Salah satu program unggulannya adalah membekukan tarif sewa apartemen. Tidak boleh naik terus. Sudah terlalu tinggi.

Maka prospek bisnis persewaan apartemen di New York dilihat Pinnacle sangat suram.


Salah satu apartemen milik Pinnacle di 4530 Broadway in Fort George, Manhattan.--

Di Amerika belakangan memang dikenal jenis baru penyebab inflasi: inflasi akibat kerakusan pengusaha. Harga saham harus terus naik. Dorongan ''harus terus naik'' itulah yang membuat harga-harga naik. Terjadi inflasi.

Tapi New York akan terus bergerak ke ''kiri''. Apalagi tiga pejabat inti New York semuanya beraliran sosialis kiri. Tiga Serangkai kiri.

Tiga orang itu beda agama semua: Zohran, Islam. Saat mengucapkan sumpah menggunakan Quran.

Jumaane Williams, Kristen. Kulit hitam. Jabatannya: advokat rakyat. Tugasnya membela hak-hak warga kota yang dirasa kurang dapat perhatian. Juga penampung komplain warga kota. Lebih bergigi dibanding ombudsman. Kalau wali kota berhalangan tetap pejabat inilah yang menggantikan wali kota. Ia bersumpah dengan Injil.

Pejabat ketiga yang juga dilantik bersamaan dengan Zohran adalah: Mark D. Levine. Ia Yahudi. Dilantik dengan kitab suci Yahudi. Jabatan Mark adalah:comptroller.

Jabatan ini sangat penting: pengontrol penggunaan anggaran pemkot secara total.

Zohran, Jumaane, dan Mark sama-sama dipilih langsung oleh rakyat. Bisa saling kontrol. Tidak bisa saling pecat. Tujuannya: agar wali kota dikontrol ketat dalam menggunakan kekuasaannya. Terutama kekuasaan di bidang keuangan.

Kalau di Indonesia pejabat comptroller itu seperti menteri keuangan merangkap Irjen, BPK, BPKP, dan KPK sekaligus. Sangat berkuasa. Lebih berkuasa dari sekadar menteri keuangan.

Comptroller bisa menghentikan proyek yang menggunakan dananya tidak baik. Semua dana proyek baru bisa cair kalau comptroller sudah setuju. Kontrak proyek, baru sah kalau comptroller sudah menyetujuinya.

Termasuk dalam penggunaan dana pensiun kota New York: comptroller sangat ketat menjaganya. Tidak bisa terjadi kasus seperti di Asabri atau Taspen dan Jiwasraya.

New York punya dana pensiun termasuk terbesar di dunia: USD250 miliar. Itu dana pensiun guru, polisi, pemadam kebakaran dan pegawai Pemkot. Hampir Rp 4.000.000.000.000.000.-

Nama jabatan penting itu saya anggap lucu: comptroller. Bukan "controller". Tapi maksudnya sama.

Bagaimana asal usulnya ''controller'' bisa menjadi ''comptroller?'

Anda tidak bisa pura-pura belum tahu: itu awalnya salah ketik. Orang Inggris mengira awalnya dari bahasa Prancis 'compt roller'. Menyisiri gulungan kertas catatan keuangan, untuk diperiksa ulang.

Maka seluruh kata di peraturan perundangan, termasuk di Amerika, tertulis comptroller. Kalau Anda menulis controller itu justru membuat dokumen tidak sah secara hukum.

Maka comptroller adalah bahasa pemerintah yang kalau di swasta disebut controller.

Zohran akan dikontrol ketat oleh dua pejabat itu. Jameene mengontrol Zohran dalam hal kualitas layanan publik. Mark mengomptrol Zohran di bidang keuangan dan ketepatan penggunaan uang.

Dengan sistem seperti itu tanpa iman dan fikih pun sudah bisa menjadi sangat agamis.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 3 Januari 2026: Jalur Kekeluargaan

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

KEPUTUSAN 65 KM YANG TERLALU PANJANG.. CHDI hari ini seperti keluhan yang ditahan-tahan, tapi justru itulah yang bikin kena. Bukan minta dana, bukan minta APBN bocor hari ini—hanya minta keputusan. Dan ironisnya, keputusan itu justru terasa lebih mahal dari Rp20 triliun. Medan–Berastagi 65 km ditempuh 5 jam. Itu bukan perjalanan, itu retret spiritual. Cocok untuk melatih kesabaran, pengendalian emosi, dan mungkin doa-doa tambahan. Orang Batak, yang katanya keras, justru tampil sebagai biksu lalu lintas: sabar, hening, menerima takdir. Padahal ini jalan negara. Standar negara. Tapi lebarnya kalah sama jalan desa di Jawa. Kalau aturan pemerintah bisa protes, mungkin sudah demo kecil-kecilan. Yang menarik: studi sudah ada, rute sudah ada, gubernur sudah kirim surat. Lengkap. Tinggal satu yang belum: keberanian mengetuk palu keputusan. Palu kecil saja, tidak perlu palu godam. Tol ini bukan soal mobil cepat. Ini soal logistik, paru-paru ekonomi, dan harga cabe nasional. Kalau keputusan terus macet, jangan heran kalau jalanan tetap lima jam—dan cabe tetap bikin emosi.

rid kc

Pak Jokowi sudah benar mengutamakan pembangunan Indonesia sentris bukan Jawa sentris. Lihatlah ketika pak Jokowi menjadi presiden pembangunan di Indonesia timir terutama Papua, Maluku, NTT, NTB sangat massif sehingga masyarakat menikmati hasil kerja presiden Jokowi. Harusnya Sumatera menjadi prioritas presiden Prabowo dalam membangun infrastruktur jalan itu. Jaman sudah kayak gini ternyata masih ada jalan yang tidak layak. Di pedalaman desa di Jawa jalanan sudah pakai beton dan gang kecil pun di beton. Kontras dengan kondisi di luar Jawa.

djokoLodang

-o-- ... Baru melihat orang Batak bicara saja rasanya sudah seperti dimarah-marahi. ... *) Begitu juga cara bicara orang Korea. Seperti sedang marah. Saat pertama kali dengar orang Korea sedang bicara dengan temannya di kafe dulu, saya kira mereka sedang bertengkar. --0-

Joko Wito

Pernah satu kos dengan orang batak di surabaya. Sama persis yg ditulis abah, ngobrol biasa serasa dimarahi.Ceplas ceplos apa adanya.Pernah membentak ku gara gara, tidak memperhatikan klu diajak ngobrol, katanya.. Maunya klu dia ngomong,saya berhenti aktivitas & bertatap mata.Sungguh pengalaman berarti,buat sy yg asli jawa pelosok . Salam sehat buat abah.

Waris Muljono

Sungguh benar "ramalan" prof Yusril ketika memberi pertimbangan ke Prabowo dulu, saat awal2 Prabowo hendak memutuskan siapa pasangan cawapresnya. Sbg ketua partai yg ikut mengusung capres prabowo, prof Yusril mewanti-wanti, "Pencalonan gibran sbg cawapres sah secara hukum, tapi akan jadi bahan omongan sepanjang masa". Dan peringatan prof Yusril tsb terbukti. Sampai hari ini wapres gibran jadi bahan omongan, gunjingan, olokan, bahkan tulisan paragrap penutup CHDI 2 hari berturut-turut. Hehehehhe

istianatul muflihah

alkisah, seorang tukang kayu menebang pohon lalu membuatkan kursi spesial bagi anaknya w

xiaomi fiveplus

mungkin pak gubernur bs lewat lapor mas wapres. kalo gak punya nomornya, kebetulan sy masih simpan.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

@pak Syed Taifiq.. Membaca tulisan Anda mengingatkan saya pada pengalaman pribadi di Anaheim, pada tahun yang sama: 1989. Saya sempat menginap dua malam di sebuah hotel dekat Disneyland, dan ada dua kejadian yang hingga kini masih teringat jelas. Pertama, saat naik taksi dari hotel menuju Disneyland, saya melihat konvoi motor KKK — Ku Klux Klan, kelompok supremasi kulit putih yang cukup dikenal di Amerika. Sopir taksi bercerita, konvoi seperti itu kadang berperilaku mirip “geng motor” di Indonesia: sama-sama bergerombol, sama-sama bikin orang waswas. Kedua, yang lebih mengesankan: setiba di Disneyland, sopir meminta bayaran dua kali lipat dari argo, dengan alasan penumpangnya dua orang. Awalnya saya menolak, karena terasa seperti diperas. Yang membuat saya heran, sopirnya orang Lebanon, mengaku Muslim, dan kami sama-sama sedang berpuasa Ramadan. Namun setelah itu, ke mana pun saya berjalan, saya merasa terus diikuti. Akhirnya saya memilih membayar saja—bukan karena setuju, tapi demi menghindari urusan kecil yang bisa jadi panjang. He he… ngalah bukan berarti kalah. Kadang itu sekadar memilih jalan paling sederhana.

Mukidi Teguh

Abah rasanya kada tapi ingat wan kampung halaman kadua. Di Burnio, hanyar ada tol BPP - SMR. Padahal paralu banar tol Balikpapan-Banjarmasin, Banjarmasin - Palangkaraya, Palangkaraya - Kotawaringin, wan Kotawaringin - Pontianak. Jangan mantang-mantang kami urang sini nih kada tapi banyak prutis, lalu kada tapi diperhatiakan wan pamarintah. Aur ka sana tarus berataan ...

heru santoso

Alkisah..... Pak Boss satu ini bukan pengusaha kaleng‑kaleng. Suksesnya seantero Nuswantoro, tulisannya dibaca sambil ngopi, dan petuahnya sering terdengar seperti sabda. Maka wajar bila dulu ada mimpi besar: "anak yang sekecil itu" kelak duduk manis di singgasana bisnis kerajaan bisnis yang telah dibangunnya, lengkap dengan mahkota warisan. Mahkota sempat terpasang. Pangeran kecil diarak. Rakyat bertepuk tangan. Namun dunia nyata ternyata tak seromantis kolom opini. Cerita suksesi tersendat, mahkota lepas, pun kerajaan besarnya. Pak boss ini tidak pernah kapok. Di kerajaan...eh kadipaten bisnis lain yang lebih pribadi, rumus lama masih dicoba lagi: darah dulu, merit kemudian. Lagi‑lagi harapannya sama—anaklah penerusnya. Tapi kali ini jawabannya menusuk jantung logika: “Kalau sukses, nanti dibilang karena bapaknya. Kalau gagal, aku yang dituding meruntuhkan warisan.” Nah lho. Di titik itulah luka lama terasa perih kembali. Maka kolom harian pun berubah jadi ruang terapi, tempat frasa “anak sekecil itu” diulang berturut hari—entah sebagai sindiran, pembenaran, atau sekadar pengingat bahwa tidak semua anak ingin memakai mahkota yang terlalu berat. Tak semua kerajaan cocok diwariskan, dan tak semua anak bercita‑cita jadi raja—apalagi kalau raja yang sudah purna pun masih ditanya ijazah.

Murid SD Internasional

Pak Guru @Hasyim Muhammad Abdul Haq. Urusan surat-menyurat cepat ini kan outputnya belum jadi, Pak. Outputnya yaitu solusi jalur macet Medan-Brastagi. Jika output positif untuk rakyat belum terwujud nyata, maka akses jalur keluarga yang tengah dibahas di CHD kali ini belum bisa disebut sebagai "keberuntungan" bagi provinsi yang bersangkutan. Sekarang kita kontraskan dengan pemimpin daerah yang sama sekali TIDAK PUNYA koneksi keluarga ke istana. Saya ambil contoh, Bupati Banyuwangi dua periode, Abdullah Azwar Anas. 1. Dalam 9 tahun, pendapatan per kapita penduduk Banyuwangi dari Rp20,8 juta melesat jadi Rp51,2 juta. 2. Efisiensi pengelolaan anggaran daerah meraih nilai A dan dinobatkan terbaik se-Indonesia. 3. Digitalisasi Mal Pelayanan Publik dan Smart Kampung dengan fiber optik dan akses wifi cepat gratis. 4. Inovasi pelayanan publik gratis bernama Rantang Kasih, para lansia sebatang-kara di Banyuwangi dapat kebutuhan makan gratis dalam rantang, diantar langsung. 5. Program Garda Ampuh / Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah, beasiswa untuk anak-anak Banyuwangi, dalam bentuk uang saku, uang transport, uang tabungan. 6. Program Jemput Bola, orang sakit di Banyuwangi dicari, dijemput, dan dibawa ke IGD. 7. Banyuwangi dinobatkan sebagai daerah yang paling cakap mengelola inflasi, terbaik se-Jawa dan Bali. Tak hanya sejahtera warganya, melesat ekonominya, meroket PAD-nya, tapi Banyuwangi bisa wangi tanpa Bupatinya punya "koneksi".

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Beruntung sekali Sumut punya Gubernur Bobby yang punya jalur keluarga ke Pemerintah Pusat. Yang kasihan itu provinsi lain yang punya jalan "kesabaran" seperti Medan-Berastagi tapi tidak punya jalur keluarga ke Pemerintah Pusat. Saya usulkan semua provinsi, pilihlah gubernur yang punya jalur keluarga entah ke presiden, ke wapres, ke menteri, atau siapa saja yang tinggal di istana negara. Jalur keluarga = jalur cepat surat-menyurat.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Sebenarnya "keputusan" saja itu tidak cukup. Saya orang Mojokerto. Tahun 2004 itu sudah girang tak karuan ketika Presiden Megawati melakukan Peletakan Batu Pertama untuk jalan tol Surabaya-Mojokerto. Lalu Megawati kalah di Pilpres 2004. Diganti Presiden SBY. Jalan yang sudah resmi groundbreaking saja tiba-tiba tidak dikerjakan lagi. Bukan 1-2 tahun, tapi 10 tahun. Orang Mojokerto harus menunggu Presiden Jokowi untuk melanjutkan apa yang direncanakan Presiden Megawati. Tapi kasihan Jokowi sekarang kebagian dituduh "tukang utang" padahal membangun ribuan kilometer jalan tol. Utang bisa dibayar, santai saja. Tapi coba bayangkan andai sekarang belum ada jalan tol seperti sekarang. Serius, BAYANGKAN! Ekonomi pastinya tak akan berjalan sebaik sekarang ini. Kalau Anda mengatakan sekarang ekonomi tidak baik, tanpa jalan tol bisa jadi jauh lebih tidak baik. Bayangkan!

Mukidi Teguh

Merdeka pun belum tentu kita sebagai individu bakal sejahtera. Karena merdeka sejatinya cuma memindahkan kekayaan dari penguasa besar ke penguasa wilayah. Yang perilakunya cenderung sama, karena memang berasal dari spesies yang sama, yaitu manusia. Rakyat ya begitu-begitu aja. Contohnya ada dua: pertama, mantan provinsi ke duatujuh. Kedua: provinsi pemekaran yang sebagian besar malah masuk kategori bangkrut. Bukan karena sumber daya alamnya yang kurang, tapi penguasa barunya lebih kemaruk dari penguasa provinsi induknya.

Em Ha

Bukan hanya orang Batak. Bukan hanya orang Karo. Orang Melayu pun punya kesabaran tingkat dewa. Sering-seringlah orang yang di Jawa sana berkunjung ke Sumatera. Terutama yang punya mobil mesin disel. Nikmati antrian lama untuk mengisi BBM itu. Orang disini tak habis pikir. Bagaimana mungkin, Riau penghasil minyak no.1 Indonesia, beli minyak macam ngemis. Saking geramnya. "Apakah harus kami teriak Merdeka..!". Kalimat yang diucapkan Bupati Meranti dan Gubernur Riau. Geram dengan ketimpangan keuangan pusat-daerah. Dua-duanya sudah masuk bui. Ngeri. Ada baiknya Abah ke sini lagi. Pekanbaru. Ajak juga kenkawan Perusuh. Hari pertama kunjungan industri ke Minas. Minyak yang dihasilkan terbaik di dunia. Hari kedua, pagi-pagi kita senam bareng di depan Istana Siak. Barbeqeu sambil makan kebab di tepi sungai terdalam Indonesia. Menjawab request Murid SD Internasional. Kalau tak tahun ini. Tahun depan. Tahun ini biarlah kita naik kapal Pelni.

Murid SD Internasional

Kalau saya pribadi pragmatis saja. Selama rakyat bisa bebas dari kelaparan (ath'amahum min ju'), dan bisa bebas dari segala ketakutan (amanahum min khauf), saya tidak peduli pemerintahnya mau dipegang segelintir keluarga kek, dipegang sekelompok oligarki kek, dipegang tukang kayu kek, dipegang tukang martabak kek, tidak jadi soal. Yang penting outputnya. Dua indikator real di atas. Ath'amahum min ju'. Wa amanahum min khauf.

Jokosp Sp

Terjadi pembicaraan serius antara pegawai pu (PP) dengan sekumpulan masyarakat (SM) yang sedang terkena bencana banjir. Masyarakat yang tinggal di pinggir sepanjang jalan raya itu. SM : Pak ini setiap ada banjir pasti jalan raya ini jadi sungai besar, tidak ada gunanya mobil dan motor. Kami malah justru beralih ke klotok (sampan-sampan) kecil ini untuk memudahkan transportasinya. PP : Iya pak. Jalan ini sudah dibangun bahkan menghabiskan dana ratusan milyar. SM : Kami tidak menanyakan dana yang sudah dikeluarkan. Itu tanggung jawab negara mengelola dan mendistribusikan hasil pendapatan dari pajaknya. PP : Ini akibat curah hujan yang tinggi tiap tahunnya di sini. SM : Bapak menyalahkan alam yang telah memberikan hujan. Hujan dan air ini berkah. Tanpa air orang akan mati. PP : Air dari gunung itu memang mengarahnya semua ke sini. SM : Yang ada dalam pikiran bapak apa yang harus dikerjakan mengatasi banjir ini. PP : Ini harus diusulkan ke pusat dulu untuk buat jalan baru yang mungkin perkiraan bisa sampai 200 milyar. SM : Untuk mengatasi banjir di jalan raya saat ini bagaimana?. PP : Terpaksa kita nunggu surut, baru kita bisa atasi masalah banjir ini. SM : Apakah benar ucapan bapak itu?. Kami harus sabar nunggu air ini surut?. PP : Benar bapak-bapak sekalian yang terhormat. Saya mohon pamit dulu. SM dan kawan-kawan masyarakat terdampak : Cuma segitu saja isi otak-otaknya. Nyalahkan alam, harus ada dana besar, tidak ada action smart untuk menanggulangi dan melakukan pencegahan.

Leong Putu

Beruntunglah Sidoarjo. Bersih Hatinya. Jujur pemimpinnya. Tak perlu koneksi jalur kekeluargaaan. Jalan jembar anti macet tak bargelombang nir lubang, kelak ditahun 2050. Semoga.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

DUA ALINEA PENUTUP CHDI HARI INI... Dua kalimat penutup itu terlihat santai, bahkan seperti bercanda. Tapi bagi yang pernah mencicipi bangku jurnalistik—meski hanya majalah dinding SMA—itu jelas bukan kalimat sembarangan. Itu teknik. Itu closing punch. Dalam pelajaran jurnalistik lama, kita diajari, kalau fakta sudah disampaikan semua, tutuplah dengan kalimat yang ringan tapi menggigit. Bukan untuk menuduh, melainkan untuk mengingatkan. Tentang isi berita keseluruhan. Kalimat tentang Wapres yang “tidak mendapat tindasan” lalu disambung “siapa tahu lewat jalur kekeluargaan” adalah contoh klasik. Secara formal, tidak ada yang salah. Secara etik, aman. Tapi secara makna, pesannya sampai. Bahkan "sangat" sampai. Itulah kelebihan gaya seperti ini, yaitu kritik tanpa marah, sindiran tanpa teriak. Pemerintah tidak disudutkan, tapi juga tidak dibiarkan nyaman. Maka wajar jika terasa seperti lelucon kecil. Dalam jurnalistik, humor tipis di akhir tulisan sering justru yang paling "serius". ### Dan ya, teknik seperti ini memang diajarkan—apalagi di majalah Tempo. Yang pernah punya slogan: 1). Paduan antara karya sastra dan jurnalistik. 2). Enak dibaca dan perlu.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

PERCAKAPAN DI ATAS JALAN TOL.. Sopir Bus: “Kenek… Kamu sadar nggak, sekarang Surabaya–Jakarta bisa lewat tol terus hampir 750 kilo.” Kenek: “Sadar, Pak. Makanya saya sekarang bukan kenek… Saya penumpang bus yang tidak harus bayar. Malah dibayar.” Sopir: “Dulu ya… Surabaya–Jakarta itu perjalanan batin, full rusak. Sekarang keluhannya hanya saat bayar tol. Makin lama makin mahal..” Kenek: “Betul. Dulu rem dipakai terus, sekarang rem istirahat. Yang kerja keras malah gas dan kartu tol.” Sopir: “Dulu kalau nyampe Jakarta badan pegal, emosi habis, doa sudah komplit. Sekarang nyampe Jakarta masih segar, masih bisa minta tambahan rit.” Kenek: “Dulu kita hafal semua polisi tidur. Sekarang polisinya beneran tidur dan kalah sama kita. Polisi belum bangun, kita udah sampai Jakarta.” Sopir: “Tol ini berkah. Setir muter dikit, nasib muter banyak.” Kenek: “Iya Pak. Jalan lurus panjang begini bikin kita sadar. Hhidup itu enak kalau nggak banyak belokan.” Sopir: “Makanya kita harus bersyukur.” Kenek: “Siap, Pak. Tinggal satu yang belum berubah…” Sopir: “Apa?” Kenek: “Gaji saya tetap dan masih belak-belok.”

Siapa tahu yang untuk wapres bisa dikirim lewat jalur kekeluargaan.(Dahlan Iskan) Lha koq urusan Pemerintahan dicampur-aduk dengan urusan keluarga ?? Kalau memang urusan seperti itu menjadi tugasnya Presiden yang didelegasikan kepada Wakilnya - supaya memonitor kinerja menteri-menteri terkait untuk menangani masalah tersebut, maka surat tindasannya mesti formal sebagaimana mestinya..... ini Pemerintahan loh Abah DI, bukan urusan kekeluargaan !! Sepertinya Abah sudah terobsesi oleh kehebatan Superman..... seolah-olah kalau Superman tahu, maka masalahnya pasti cepat beres..... padahal Superman itu kurang bisa mengurus dirinya sendiri..... lha itu buktinya, pakai celana dalam saja diluar..... wkwkwkwkwk..... Atau, jangan-jangan, melalui CHDI yang bernuansa "kampanye secara terselubung" untuk seseorang..... harapan Abah - akan kejatuhan "bintang terang"..... untuk kembali menjadi "sesuatu"..... wkwkwkwkwk..... Sangat kontradiktif !! Di satu sisi, sepertinya Abah bangga dengan kiprahnya kaum muda - tetapi di lain sisi, Abah sebagai orang tua masih "kepéngén"..... Apa kata dunia..... ?? Wkwkwkwkwk.....

ALI FAUZI

Pak DIS sepertinya punya kesan saudara kita warga Batak/Sumut seperti buah durian: Tampak keras di luar, tapi mak nyus dalamnya (isinya).

Kurniawan Roziq

Coba Jokowi fokus dengan julukan bapak infrastruktur Indonesia dan didampingi dengan nawa cita nya , jgn berfikir hilirisasi, biarlah mantunya yg sdh bekerja, biarlah yg jualan martabak dan pisang goreng, betapa harum namanya saat ini ,

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

DARI PALANG KAYU SAMPAI WHOOSH.. 1). Jalan tol pertama di dunia lahir di Amerika Serikat: Pennsylvania Turnpike, dibuka tahun 1940. Pemicunya sederhana tapi mendesak yaitu mobil makin banyak, jalan biasa tak sanggup menampung. Solusinya jalan khusus, akses terbatas, dan berbayar. Menariknya, turnpike itu masih aktif dipakai sampai hari ini, tentu dengan wajah yang sudah jauh lebih modern. 2). Indonesia mengikuti jejak itu lewat Tol Jagorawi (Jakarta–Bogor–Ciawi), diresmikan 1978. Panjangnya sekitar 59 km. Dari satu ruas itulah jaringan tol tumbuh. Kini Indonesia punya ribuan kilometer tol, puluhan ruas, membentang dari Jawa hingga Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Dampaknya adanya jalan tol nyata, yaitu: 1). waktu tempuh terpangkas, 2). biaya logistik turun, 3). kota-kota baru tumbuh, 4). industri pindah dari pusat kota, dan 5). perjalanan jauh tak lagi terasa sebagai ujian kesabaran nasional. Tol mengubah "peta ekonomi". Bukan sekadar mengubah "peta jalan" ### Lalu datanglah Whoosh. Kreta cepat tanpa palang, tanpa setir, tanpa klakson. Ia seperti bertanya diam-diam. Setelah kita terbiasa dengan tol, apakah kita siap melompat ke tahap berikutnya? Atau masih ingin macet, asal cepat sampai "wacananya"?

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

BUS ALS (ANTAR LINTAS SUMATERA); BUS LINTAS PERADABAN DAN JALAN YANG MEMENDEKKAN CERITA.. Dulu ada bus-bus yang menaklukkan Indonesia dari ujung ke ujung. 1). ALS Medan–Jakarta, 2). PMTOH Banda Aceh–Jakarta, 3). NPM dan Gumarang dari Padang ke Jakarta. Itu bukan sekadar trayek, tapi perjalanan lintas peradaban. Jaraknya hampir dua ribu kilometer. Naik busnya bisa lebih lama dari masa PDKT. Sebelum ada Tol Trans-Jawa dan Trans-Sumatra, naik bus jarak jauh itu seperti membaca novel tebal. Macet pasar, tanjakan Bukit Barisan, rumah makan legendaris, kenek hafal lubang jalan, penumpang saling kenal nasib. Sopir bukan cuma pengemudi, tapi pemandu wisata, psikolog, sekaligus motivator hidup. ### Bagaimana ceritanya sekarang? 1). Tol membuat perjalanan efisien. 2). Waktu singkat, 3). Badan utuh, 4). Jadwal rapi. 5). Ekonomi diuntungkan. 6). Logistik tersenyum. Tapi ceritanya dipotong. Jalan lurus panjang, rest area seragam, semua terasa cepat—termasuk lupa. Infrastruktur memang harus membuat kita sampai lebih cepat. Tapi jangan lupa: dulu jalan panjang itu mengajari kita arti dari: 1). sabar, 2). jarak, dan 3). betapa luasnya Indonesia. Bus-bus lintas jauh seperti ALS adalah arsip berjalan. Tol memendekkan waktu, tapi sejarah tetap perlu diingat.

Wilwa

Elon Musk boleh bermimpi soal hyperloop namun Tiongkok yang mewujudkannya di dunia nyata dalam bentuk train (bukan seperti mobil) yang jauh lebih besar. Terowongan kedap udara ribuan km agar kecepatan yang melebihi pesawat terbang itu bisa tercapai seperti di atmosfir tinggi yang tipis udaranya sehingga gesekan udara minim. Yang rencananya bukan hanya untuk mengangkut penumpang namun juga barang. Sungguh ini adalah rencana pembangunan infrastruktur yang hanya menambah iri Barat.

Wilwa

Youtube: China’s 1,000 km/h Maglev Train Finally Launching in 2026 - Construction Update. 9 Dec 2025. Hmmm. Tiongkok sedang melangkah lebih jauh dari High Speed Train menjadi Maglev yang kecepatannya melebihi pesawat. Tahap awal adalah menghubungkan kota-kota besar di pesisir timur. Beijing, Shanghai, Nanjing, Guangzhou. Betul kata Juve, ini hanya bisa dilakukan bila duit turah-turah.

Ja'far Syahidan

agak aneh saya melihat murid sd internasional dipanggil "pak"... saya malah melihat pola yg konsisten dari akun murid sd internasional, yaitu pola kekanak kanakan nya... kalau dia disebut bapak bapak, saya malah ragu... tapi kalau ia adalah anak remaja yg semata tajam meniru, saya bisa lebih yakin. ingat, anak anak itu adalah peniru ulung. kebetulan saya seorang staf pengajar, dan saya sudah biasa menemukan anak anak yg kebangetan pinter nya, dan sering juga menemukan anak anak yg kebangetan ndablek nya. sering pula saya menemukan anak yg kemampuan kognitif nya melampaui keahlian motorik nya, dan ada pula yg sebaliknya... murid sd internasional saya melihatnya sbg sosok anak yg kebangetan pinter nya, meniru banyak pola pikir dan gaya bahasa para komentator chd di sini, jadi wajar jika terkesan ini anak orang dewasa, meski saya meragukan itu...

sinung nugroho

Jalan tol bukan satu-satunya solusi mengatasi kemacetan untuk perjalanan regional. Jika masih bisa dengan pelebaran jalan kenapa tidak dilakukan, katakan Medan - Berastagi dibuat empat lajur dua arah dengan median pemisah. Kita perlu belajar dari apa yang dialami geliat ekonomi rakyat jelantaj di Cianjur, Purwakarta, pantura Jabar setelah ada tol. Memang memudahkan pelaku perjalanan jarak jauh, tetapi memgorbankan kegiatan ekonomi jalan arteri. Jalan tol terbukti tidak memberi manfaat masyarakat yang dilalui tol, sekarang sudah mulai dirasakan warga pantura Jateng.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 120

  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • heru santoso
    heru santoso
    • Em Ha
      Em Ha
    • heru santoso
      heru santoso
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • HONDA CBR150R
    HONDA CBR150R
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Muh Nursalim
    Muh Nursalim
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
    • Wilwa
      Wilwa
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
    • mario handoko
      mario handoko
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
    • Waris Muljono
      Waris Muljono
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
    • Murid SD Internasional
      Murid SD Internasional
  • mario handoko
    mario handoko
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Eyang Sabar56
    Eyang Sabar56
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • MULYADI PEGE
      MULYADI PEGE
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Abd Qohar
    Abd Qohar
    • sinung nugroho
      sinung nugroho
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
  • Wati
    Wati
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Murid SD Internasional
      Murid SD Internasional
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Tjahjo Suseno
    Tjahjo Suseno
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • MULYADI PEGE
      MULYADI PEGE
  • Ibnu Shonnan
    Ibnu Shonnan
  • Ciga Sama
    Ciga Sama
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • riansyah harun
    riansyah harun
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
  • Setyo Hari Wibowo (Kapiten Sulthon)
    Setyo Hari Wibowo (Kapiten Sulthon)
  • Wilwa
    Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
  • istianatul muflihah
    istianatul muflihah
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
  • istianatul muflihah
    istianatul muflihah
    • Murid SD Internasional
      Murid SD Internasional
  • Sugi
    Sugi
  • Ahmad Zuhri
    Ahmad Zuhri
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Nusantara Hijau
      Nusantara Hijau
    • Runner
      Runner
  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Mukidi Teguh
    Mukidi Teguh
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • Liam Then
    Liam Then
    • Runner
      Runner
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Mukidi Teguh
    Mukidi Teguh
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • alasroban
    alasroban
  • Mukidi Teguh
    Mukidi Teguh
    • Liam Then
      Liam Then
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Tiga Pelita Berlian
    Tiga Pelita Berlian
  • DeniK
    DeniK
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • DeniK
      DeniK
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Azza Lutfi
      Azza Lutfi
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN