Belajar Kerukunan Agama di Indonesia
Prof Jamhari Makruf, Ph.D: Belajar Kerukunan Agama di Indonesia-dok disway-
BACA JUGA:Sinergi Baru Akademisi Indonesia dan Turki
Kampung Sawah menjadi contoh konkret kerukunan beragama di Indonesia.
Di kawasan ini, gereja Kristen, gereja Katolik, dan masjid berdiri berdampingan tanpa sekat sosial yang mencolok.
Kehidupan keagamaan tidak berjalan dalam ruang terpisah, melainkan menyatu dengan budaya lokal Betawi.
Orang Kristen dan Katolik mengenakan sarung dan peci saat beribadah ke gereja, sebagaimana umat Islam ketika ke masjid.
Tradisi sosial seperti Ngariung, Sedekah Bumi, dan arisan keluarga besar menjadi ruang perjumpaan lintas iman yang alami, tanpa harus dibingkai sebagai agenda toleransi formal.
Kerukunan di Kampung Sawah tumbuh dari ikatan kekerabatan, budaya, dan keseharian yang saling bersinggungan.
BACA JUGA:Fondasi Baru Perdamaian Dunia
BACA JUGA:'Menghidupkan' Warisan Gus Dur, Bolehkah dengan Melupakan Jejaknya?
Sebaliknya, Aleppo menghadirkan kisah yang jauh lebih getir. Kota ini pernah dikenal sebagai simbol pluralisme, tempat Muslim, Kristen, Yahudi, dan berbagai kelompok etnis hidup berdampingan.
Seni, musik, puisi, dan praktik sufisme menjadi bahasa bersama yang menjembatani perbedaan iman.
Namun konflik etno-politik-sektarian telah meruntuhkan tatanan itu.
Aleppo tidak hanya kehilangan bangunan dan infrastruktur, tetapi juga memori sosial tentang hidup bersama secara damai.
Melalui perbandingan ini, Ararat berharap disertasinya dapat menjadi jembatan intelektual antara Indonesia dan dunia Arab.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: