Alissa Wahid Ingatkan Petugas Haji 2026 Layani Lansia Sepenuh Hati dan Ramah Perempuan

Alissa Wahid Ingatkan Petugas Haji 2026 Layani Lansia Sepenuh Hati dan Ramah Perempuan

Alissa Wahid mengingatkan peran penting petugas haji yang ramah perempuan dan lansia pada musim haji 2026-disway -

JAKARTA, DISWAY.ID-- Dalam Diklat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, hari ke-10, Selasa (20/1/2026), para calon petugas mendapat "wejangan" penting.

Mereka diingatkan untuk tidak sekadar bekerja secara fisik, tetapi melayani dengan "kacamata" kemanusiaan, terutama bagi jemaah lansia dan perempuan.

Tokoh penggiat sosial dan moderasi beragama sekaligus anggota Amirul Hajj perempuan pertama Indonesia, Hj. Alissa Wahid, menegaskan bahwa petugas adalah pilar utama bagi jemaah yang sebagian besar baru pertama kali menginjakkan kaki di luar negeri.

BACA JUGA:Siapkan Media Center Haji 2026, Kemenhaj Gembleng Puluhan Jurnalis di Pondok Gede

"Bapak dan Ibu akan berhadapan dengan banyak orang bingung. Mereka lahir di abad lalu, tidak akrab dengan ponsel pintar, bahkan mungkin baru pertama kali keluar dari kecamatannya. Kehadiran petugas adalah pegangan hidup mereka di tanah asing," ujar Alissa di hadapan ratusan peserta diklat.

Putri Gus Dur ini menyoroti fenomena "nyeker" atau melepas alas kaki yang sering dilakukan jemaah lansia di bandara internasional karena takut terjatuh di eskalator.

Tantangan kognitif seperti dementia, disorientasi bahasa, hingga gagap teknologi informasi membuat jemaah sangat bergantung pada respons cepat petugas.

Ia mengingatkan bahwa reputasi petugas haji Indonesia sudah menjadi benchmark atau tolok ukur global.

Tak jarang, petugas Indonesia dihadiahi makanan atau diberi buah oleh jemaah negara lain sebagai bentuk penghormatan.

BACA JUGA:Menakar Profesionalisme Petugas Haji 2026, Guru Besar UIN: Melayani Jemaah Bukan Sekadar Formalitas

"Ini adalah beban. Jangan sampai kinerja Bapak dan Ibu menjatuhkan standar tinggi yang sudah dibangun para "veteran" terdahulu. Melayani jemaah lansia berarti melampaui pelayanan fisik; hatinya harus ikut," tegas psikolog ini.

Sebagai pionir Amirul Hajj perempuan, tepatnya bertugas pada periode 2023-2024, Alissa membawa perspektif baru dalam pengelolaan ibadah haji yang selama ini dominan dengan perspektif laki-laki.

Mengingat lebih dari 50 persen jemaah adalah perempuan, kebutuhan akan petugas perempuan kini ditingkatkan hingga 30-36 persen.

Perbedaan kebutuhan biologis dan siklus reproduksi membuat jemaah perempuan memerlukan penanganan khusus, mulai dari bimbingan ibadah yang spesifik hingga fasilitas sanitasi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads